Cerpen - Teman Sepermainan Mitha - (Dadaha Tasikmalaya, Sabtu Malam)

Apakah kamu seorang penulis cerita pendek? Apakah kamu sanggup dengan rutin menulis cerita setiap hari? Barangkali idenya Mitha akan sangat berguna ketika ceritamu mengalami kebuntuan. Hanya duduk di depan komputer saja dan cerita dapat dengan jelas tergambar. Ketik, Edit, Save dan Publish.

Dadaha Tasikmalaya, Sabtu Malam.

Taman kota dipenuhi dengan kunang-kunang, bergerak mengalun sesuai irama angin malam. Atraksi indah di antara pohon-pohon besar yang rindang. Sementara di malam hari tidak ada yang berjalan menelusurinya.

Lain halnya dengan Mitha, perempuan jurusan komunikasi grafis ini mempunyai maksud untuk terjun ke lapangan, mengenali lebih dekat bagaimana sistem kehidupan malam di perkotaan khususnya di sekitar taman kota. Hasil survey-nya nanti akan dijewantahkan dalam bentuk cerita pendek dan film berdurasi pendek.

Bakatnya untuk menulis dan menuangkan cerita diambil dari kehidupan sehari-hari, lalu diracik dengan sedikit imajinasi hasil dari pemikiran, pendengaran dan penglihatan baik dari media cetak maupun elektronik. Orang bilang lebih aman untuk meneliti kondisi suatu tempat atau subjek lewat internet, tidak usah langsung mewawancara apalagi menuju lokasi. Khawatir kondisi lapangan tidak selamanya aman.

“Tidak baik wanita berjilbab keluar malam, Mith.” Sore itu Pandji ketua Organisasi Mahasiswa menemui Mitha di halaman mesjid kampus.

“Tapi bagaimana caranya aku mendapatkan informasi secara real, jika tidak langsung ke lapangan.” Sikap keras kepalanya suka tiba-tiba muncul mana kala idenya sangat brilian.

“Taman kota di malam hari berbeda dengan taman kota yang sering kita kunjungi pada siang hari, tidak ada orang yang berolahraga, berdagang atau main disana.” Pandji mencoba menyerahkan masalah ini padanya. “Biar aku saja yang kesana.”

Pandji tidak dapat menahan rasa penasaran Mitha, maka dari itu ia sendiri yang akan pergi ke taman kota.

“Baiklah.” Mitha menundukan pandangannya. Alangkah baiknya ia menulis saja di kamar.

“Dengan alat ini, yang akan saya temple di kepala, akan menjadi mata kedua kamu di Komputer. Kamu tinggal lihat saja, kalau ada yang ingin kamu lakukan, tinggal pakai telepon.” Pandji dikenal sebagai anak yang sangat peduli dengan siapa pun, terutama Mitha.

Malam datang dengan cepat, dengan handycam ditangan pandi yang terhubung ke Komputer Mitha ia mulai merekam. Sementara Mitha duduk manis di depan Komputer, lebih mirip nonton film.

“Hai, saya Pandji.” Ia memperkenalkan diri. Lalu ia melihat jam di tangannya. “Sekarang disaat orang lain terlelap, aku akan mencoba berjalan mengitari taman kota yang kata orang dikenal angker.”

“Hai, kami Agung, Wisman dan Deri. Kami temannya Pandji.” Mereka tertawa terbahak.

Masih dalam kamera yang tersorot mereka melakukan pekerjaan itu seperti professional.

“Mas Pandji, hari ini kita akan meneliti apa?” Wisman dengan sigap mengambil vocal untuk bergaya mewawancarai Pandji.

“Kita akan meneliti perilaku manusia di taman kota.” Pandji mengedipkan mata.

“Wah, seru juga ya, kita dapat mengintip orang pacaran juga ya?” Wisman balik mengedipkan mata.

Mereka mulai menelusuri jalanan kecil taman kota. Mulai masuk ke tengah taman yang dipenuhi pohon besar dan bangunan olahraga. Namun malam itu terasa sepi.

“Koq sejak tadi tidak ada orang lewat, Mas. Kita mau mewawancara siapa coba?” Agung yang berada di depan memain-mainkan senternya.

“Jangan menyorot ke atas atau ke pepohonan, Gung! Pamali.” Deri mencoba mencegah Agung untuk berkelakuan kekanak-kanakan.

“Kamu takut ya?” Agung mulai menggoda Deri.

“Sudah-sudah, kita lanjutkan perjalanan, sepertinya disana ada dua orang yang berdiri. Ayo kita dekati.” Pandji dengan sigap bergerak maju, sementra mereka menyusulnya.

Ketika Pandji datang orang itu lari. Sepertinya mereka sedang bertransaksi.

“Hei, jangan lari.” Pandji mencoba memanggil mereka. Salah satu dari mereka menengok dan seolah-olah sedang mengamati Pandji. Langkahnya terlihat mendekat tapi orang di dekatnya mencegahnya dan mereka berlari menjauhi. Menghilang dibalik pohon-pohon besar.

“Biarkan saja.” Wisman mencoba mencegah langkah Pandji.

“Aku merasa mengenali seseorang dari mereka.” Pandji mencoba mengingat-ingat orang itu. Kalau mereka bertransaksi narkoba kenapa di tempat yang gelap seperti ini? ciri-cirinya hampir sama dengan ciri ke dua temannya. Agung dan Deri.

“Agung dan Deri, kemana?” Pandji mengecek ke belakang. Tapi hanya Wisman saja yang ada disana.

“Apa mungkin mereka tertinggal di belakang?” Wisman memberi jawaban yang tidak masuk akal. Bagaimana mungkin mereka tertinggal sementara mereka berempat tidak berjalan jauh.

“Lebih baik kita kembali, Mas Pandji. Sepertinya malam ini tidak baik.” Wisman mencari alasan agar Pandji mengurungkan perjalanan malam ini. Perasaanya sungguh tidak karuan begitu pun Pandji.

Kunang-kunang beriringan muncul diantara pohon-pohon besar, semula gelap menjadi terang benderang. Seperti merapal mantra Pandji berkomat-kamit. Diikuti Wisman dengan keyakinannya sendiri. Dengan langkah mundur Pandji memegang tangan Wisman dan dalam hitungan detik mereka berlari. Bagaikan berjalan di antara cermin, seolah mereka berlari beriringan dengan orang-orang lain yang sama-sama ingin berlari.

Seperti perlombaan marathon, nampak orang-orang berlari di samping mereka.

“Siapa Mereka, Mas?” Wisman dengan nada nafas yang terengah hampir ketinggalan, tapi tangannya kembali di pegang, tapi bukan oleh Pandi tapi oleh seseorang yang lain.

“Agung, Deri! Darimana saja kalian?” Pandji dengan masih berlari menepuk pundak mereka.

“Nanti saya jelaskan, tapi satu yang harus kita lakukan. kita mesti berlari.” Nafas Agung bersambung dengan suaranya.

“Ada yang salah dengan temanmu, Mitha!” Teriak Deri keceplosan.

“Apa maksudmu?” Seketika langkah Pandji terhenti. Wanita pujaannya kenapa disebut-sebut.

“Dia bukan manusia!” Deri lantang dan lancang berbicara.

“Apa maksudmu bukan manusia?” Pandji hampir memukul rata Deri, tapi tangannya masih mengepal kerah baju Deri.

“Tanya saja pada mereka!” Deri menunjuk orang-orang yang ada disekitar mereka. Wajah-wajah kelelahan karena tersesat pulang.

Sementara di ruang kamar, Mitha tersenyum lalu mengunduh vidioenya ke youtube.”Sial mereka tahu juga siapa aku!”

“Tenang, Mitha. Lelaki berengsek seperti itu memang harus diberi pelajaran.” Seseorang teman Mitha yang duduk dibangku tempat Mitha belajar, memainkan kuku-kukunya. Darah beku dan kelupasan kulitnya masih basah.



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.