Sri Pohaci 2 - Malangnya Do'i

“Mas, kayaknya keuangan kita mulai menurun. Kita tidak mungkin bisa menggaji karyawan bulan depan.” Pegawainya mencoba membujuk Nandi untuk mengurangi pengeluaran dan menghentikan aksi terima gratis kursus memasak. Hal tersebut sangat merugikan bisnis rumah makannya.

“Kita akan meminjam ke bank!” Nandi mencoba sebisa mungkin membungkam salah satu pegawai agar tidak tercium ke pegawai lain. Ia kembali menyusun bahan makanan untuk dibawa ke kelas kursusnya.

“Tagihan kita masih berjalan di bank!” pegawai tersebut menambah beban pikirannya. “Tidak mungkin kita meminjam lagi.”

“Cari bank yang lain. Atau aku coba mencoba menjual mobil.” Nandi memutuskan berhenti berbicara. “Nanti malam kita rapatkan.”

Urusan uang dan karyawan membuatnya stress. Ia butuh sesuatu yang bisa melepaskan ketegangannya. Entah wanita atau sebuah minuman spesial di kota Bandung. Satu-satunya tempat yang ia ingat adalah rumah tua di Ciamis. Disana kuburan kakeknya terpendam.

Dengan terpaksa, uang penjualan rumah makannya ia berikan untuk membayar sisa gaji pegawainya. Ia hanya punya modal nekad saja untuk pergi dari kota. Tanpa uang banyak dan tanpa pamitan.

Nandi segera mengambil kunci mobil dan segera berangkat. Ia belum paham jika mobil ini adalah satu-satunya barang kesayangan yang mungkin akan hilang dalam beberapa hari lagi. Music dimainkan. Ia mencoba menenangkan pikiran selama perjalanan.

“Apa yang kamu harapkan dari bisnis rumahan bekas kakekmu itu? Sudah untung ibumu mau memberikanmu modal.” Terngiang suara ayahnya waktu ia mencoba meminjam modal untuk menutupi uang karyawan, listrik dan tagihan lain. “Ayah hanya ingin kamu bahagia, jangan kau persulit dengan sesuatu yang belum kau kuasai. Bisnis rumah makan bukan sekedar pandai memasak. Kau harus pandai-pandai mengolah managemen dan karyawanmu. Dan itu tidak cukup waktu bagimu.”

"Mama, tidak melarang." Nandi dipeluknya. "Hanya saja sekal-kali dengarlah kalau ayahmu berbicara. Tidak ada maksud lain darinya."

"Sudahlah, sayang. Biarkan dia pergi. Susah ngomong dengan orang yang keras kepala!" Ayahnya memotong kehangatan banthin antara anak dan ibu.

"Ayah, sudahlah. Nandi masih butuh bimbingan dari kita!" Ibu mengajak Nandi masuk. Namun Nandi menolak. rasa sakit hatinya terlampau dalam. Matanya berlinang, tak tahan mendengar suara keras ayahnya dan lembut ibunya. Tak ada pilihan, ia harus mengumpulkan keberanian. Pergi secepatnya dari kota ini.

Jakarta, Hari padat.

“Maaf, kami sangat beruntung bisa belajar dengan Anda. Tapi kami punya kebutuhan lain. Kami sudah berkeluarga.” Barisan pegawai terakhir menjabat tangan Nandi. “Ilmu yang telah anda berikan, akan kami coba menfaatkan di tempat lain. Sekali lagi terima kasih dan mohon maaf.”

Kilatan emosional itu masih terekam dalam benak Nandi. “Tidak usah memberi pesangon kepada kami. Ini adalah sebagai balas jasa kami atas apa yang telah Anda berikan.”

Apapun itu membuat Nandi frustasi.

Bandung, Tol Cileunyi.

Rem diinjak sekaligus. Seorang wanita tua menyeberang tiba-tiba. Suara klakson terdengar keras dari arah belakang mobilnya. Emosinya meledak saat itu.

“Sialan!” teriaknya. Ia lalu mencurahkan emosinya pada dirinya sendiri. Berteriak sekuat tenaga untuk melemaskan otot dan syaraf tegangnya.

“Mau apa nenek itu?”

Terdengar suara pintu kaca diketuk olehnya. Raut wajahnya yang renta. Menggendong buntilan kain yang lebih besar dan lebih berat daripada tubuhnya. Jelas ini bukan acara bedah rumah atau acara mikropon pelunas hutang. Membuat Nandi membenturkan dahinya ke stir mobil. Kakinya mengais-ngais. Seperti anak kecil yang menangis keras. Jelas batinnya merasa tertekan hebat.

"Sial!" Umpat Nandi tak keruan.

“Cepat masuk!” Nandi dengan sedikit kata.Tak ada pilihan ia harus mempercepat perjalanan.

Mungkin kita tidak tahu bagaimana dan dengan siapa kita bertemu. Terkadang misteri itu sulit diterka. Terkadang suka akan misterinya.
\
Agus Sutisna
Agus Sutisna

Ini adalah biografi singkat mengenai penulis; Ia mudah terbawa angan-angan sehingga terlihat diam dan mematung. Justru disanalah ia mengumpulkan dunia imajinasinya. Selebihnya ia sangat tampan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar