Sri Pohaci 016 - Putaran Babak Pertama

Suara desing kendaraan tidak terdengar. Kini digantikan pekikan burung-burung pipit dan beberapa ekor katak pada musim kawin. Suasana yang berbeda manakala mereka tinggal di perkotaan. Kini mereka dengan bebas beradu dengan alam. Suara mereka paling keras dibandingkan dengan yang lain. Apabila murka, bumi bergetar dengan hebatnya. Mengalahi air yang terjun dan tanah yang merosot. Malapetaka yang berbeda dari mulut manusia.

“Aku tidak bisa membiarkan mereka tinggal disini lagi, bang!” Wahyu melepaskan amarah atas apa yang terjadi dengan Diani. Selepas ia memaki Nenek Sri dan Pak Anta, ia mengungguli keputusan sebelum kakaknya.

“Kita bisa bicarakan ini dulu.” Nandi entah akan membela siapa. Dimatanya ia melihat langsung kejadian yang membuatnya hilang kendali. Tapi sebagai seorang yang lebih tua dari adiknya, ia mencoba menjernihkan pikiran. Meskipun tidak bisa.

“Sekarang gini aja!” Wahyu tersulut emosi. Dihadapannya kakaknya yang sedang melindungi kedua pembantunya. Nek Sri dan pak Anta yang sudah dilemparkan buntilan besar. “Lo, pilih mereka atau gue adik lo sendiri!”

Dengan perasaan jengkel dan marah bertubi-tubi. Wahyu menginjak keras buntilan yang dibawa Nenek Sri. Tak peduli dengan usianya yang sepuh, nenek tua itu telah mencoba mencelakanan Diani dengan memberi Labu Merah Besar yang penuh dengan ular. Amarahnya sudah di ubun-ubun.

“Oh jadi sekarang lo, belain mereka!” Wahyu tanpa mendengar penjelasan dari kakaknya. Sudah tidak punya waktu banyak. “Mulai hari ini aku akan pergi dari tempat ini, juga Diani. Aku harus membawanya ke rumah sakit di kota!”

Wahyu menghilang ke lantai dua, bergegas pergi membawa Diani dengan perut yang sudah menyembul dan wajah yang ketakutan. Malam tadi ia trauma akan apa yang menimpanya. Dengan bergegas ia membawa pergi Diani dengan mobilnya.

“Diani!” Nandi mencoba menghentikan kegilaan ini. “Oke, sebentar. Setelah Diani diobati, saya janji setelah kalian kembali, tidak akan ada mereka kembali!” Nandi dengan nada bergetar. Entah kelepasan berbicara atau sudah tidak lagi dapat membedakan lagi kebenaran. Baginya darah persaudaraan lebih membuatnya hidup.

Nenek Sri dan Pak Anta yang sudah bersama dengan Nandi merasa kecewa, tapi apalah daya jika mereka hanya menumpang. Bukan keluarga, bukan kerabat dan tidak ada balas jasa kepadanya. Dengan sadar diri mereka melepaskan keterikatan ini. Hubungan baik yang sudah terjalin kini pupus sudah.

Malam itu Nandi mengeram seorang diri di Rumah makan tuanya. Tidak ada Diani, tiada lagi Wahyu adiknya. Tidak ada pula Nenek Sri dan Pak Anta. Ia mengulang kembali kemalangan di rumah ini.

“Gadis itu bukan Diani. Hanya gadis yang masih bersih dan suci yang akan menerima hadiah dari Labu Merah Besar itu. Jika tidak maka malapetaka akan terjadi.” Suara Nenek Sri suatu malam kembali teringat.

“Manusia macam apa aku ini, mempercayai hal yang seperti itu. Begitu bodohnya karena sangat mengharapkan Diani, sehingga aku terhasut oleh mereka. Aku tidak percaya orang-orang yang selama ini kukira berbakti ternyata mereka menggores luka di punggungku.” Nandi memaki-maki diri sendiri.

Ia teringat pula ular hitam yang sama persis yang pernah dibawa Pak Anta dalam buntilannya, sedang melilit tubuh Diani di kamar itu. Diani hampir kehabisan nafas. Gadis yang pernah membuatnya tertarik, kini harus menderita di rumah sakit.Wahyu pun tidak pernah lagi memberitahukan bagaimana kabarnya, apalagi kondisi Diani sekarang.

Nasi telah menjadi bubur. Dan ia tidak mungkin memberinya kecap asin. Sekali mereka menghianati tidak ada jalan kembali. Nandi sungguh keras hati. Nasib nenek Sri dan pak Anta sudah bukan urusannya lagi.

“Aku mendengar kabar kalau kamu kekurangan pegawai ya?” Suara seseorang membangunkan lamunannya. Diantara masalah yang dihadapinya. Ia masih harus menghadapi beberapa pelanggan yang meminta pesanan makanan. Dan ia dengan kerepotan membagi waktu dan tenaga untuk memasak, melayani tamu dan membersihkan tempat makan. Hal yang tidak mudah baginya berjuang sendirian.

“Rofik?” Nandi tidak menyangka, jika mantan pegawai yang pernah diasuh dan dilatihnya datang ke desa. Tempat ia mulai usaha. Sebuah pelukan dan jabatan tangan tidak lama berlangsung, mereka sangat merindukan saat-saat saling berdiskusi menemukan resep masakan.

“Gimana kabarnya?” Nandi melepaskan pekerjaannya. Semua pesanan pelanggan sudah selesai. Ia mengajak Rofik untuk berbicara inten di salah satu meja makan dekat pelanggan.

“Berkat kebaikanmu dahulu, aku sudah punya rumah makan sendiri. Dan ya, aku mendengar kabarmu. Aku sangat miris dengan keadaanmu. Maka aku datang kesini untuk memberimu bantuan. Kau tak usah khawatirkan dengan cicilan, ini harga persahabatan. “

“Aku tidak tahu harus berkata apa?” Nandi yang tertimpa musibah merasa diangkat kembali. Mungkin ini awal dari segala perjuangannya. “Aku berterima kasih, Fik!”

“Tidak hanya itu aku kesini pun sekalian menitip karyawan terbaikku untuk menjadi tukang masak disini, dan beberapa pegawai lain yang mungkin akan cocok denganmu.” Rofiq memperkenalkan satu persatu orang bawaan yang ternyata sudah menunggu di luar.

“Selamat siang Pak Nandi, saya Heru. Saya koki di tempat pak Rofiq, saya sendiri yang akan melatih mereka untuk bisa bekerja disini.” Koki terbaik milik Rofiq, kejutan yang luar biasa bagi Nandi.

“Dan mereka adalah Srini dan Bujang.” Heru memperkenalkan dua orang lainnya. “Mereka akan menggenapkan jumlah karyawan disini."

Hilang satu tumbuh seribu. Nandi amat senang dengan kehadiran mereka. Kesedihan tidakberlangsung lama, orang-orang baru adalah penyembuh sebenarnya. Kelak arti kata perpisahan adalah gerbang awal baru dengan orang baru.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.