Ruang Lingkup Hutan Terlarang 3 - Malaikat Penyelamat

Entah berapa lama serigala itu menghadang. Sedang persediaan kerikil sudah tidak ada lagi yang bisa ku raih. Jari-jariku sudah mencapai tepi tebing. Tinggal sedikit lagi. Serigala sudah hampir mendekati kami. Langkahnya perlahan. Napasnya terdengar kasar. Dan matanya menatap tajam.

Bagai anak ayam disambar elang. Tidak berkutik dengan takdir yang ada di hadapannya. Cakar tajam seolah menghunus tajam bagai pedang, dan gigi tajam laksana racun di ujung belati. Merelakan jiwa untuk diserahkan pada makhluk bergigi? Demi Tuhan, nyawaku hanya satu. Aku harus terus bertahan hidup.

Kuambil apa saja dan kucari apa saja; aku pikir api akan menjauhkan kami dari kawanan serigala lapar. Tapi sayang tak dapat kutemukan alat semacam itu; semua peralatan ada dalam bangkai pesawat. Saat harapan mulai tergerus, dan nyanyian kematian diambang mata. Turun sampai ke tenggorokan, memberi kesempatan pada nadi untuk menyebutkan permintaan terakhir.

Oh. Tidak salah satu kawanan serigala lain menyerang kami menerkam, melompat dan “DOR”

Suara senapan merobek rongga telinga. Serigala yang hampir mengoyak-ngoyak tubuh kami terpelanting jauh. Ke jurang. Siapa pula yang berani melakukannya. Mendengar salah satu kawanannya terjatuh ke dalam jurang, pemimpin serigala mengurungkan niatnya. Seolah membathin ia menggeram hebat. Langkahnya mulai mundur perlahan.

“Disini cepatlah..” Dengan senapan di dadanya ia menyuruh kami mendekat ke sebelah tepi. Sekali lagi peluru menyembur menakut-nakuti kawanan serigala. Mereka kocar-kacir mendengar hunusan senjata yang menggelegar. Tapi tidak bagi serigala pemimpin itu, ia balik kanan dengan langkah anggun. Memicingkan mata selah berkata, ‘Aku mengampunimu kali ini, lain kali tidak ada alasan bagiku untuk membiarkanmu. Ini belum berakhir!’

Malaikat penyelamat kami datang tepat waktu. Sam, kawan seangkatanku. Tas ransel penuh terlihat di punggungnya. Sepertinya ia membawa apa yang aku butuhkan, obat-obatan, makanan dan tenda darurat.

“Segera bersembunyi kita harus ke puing-puing pesawat.!” Langkahnya bergegas menyuruh kami untuk bergerak cepat.

“Tunggu bagaimana dengan kapten!” Aku memperlambat langkahnya. Ia menoleh, seakan usahanya untuk mengajakku sia-sia.

“Tak ada cara lain. Tinggalkan saja. Itu hanya akan memperlambat perjalanan kita. Dan kawanan serigala itu pasti akan datang lebih banyak lagi bahkan mungki bukan serigala yang datang!”

Suara alam menggelegar memberitahukan bahwa ucapannya benar-benar mengancam. Di dalam hutan para predator menunggu jasad kita.

Harapan akan diselamatkan berbaur dengan keinginan untuk menyelamatkan; jika aku pergi meninggalkan kapten, mungkin aku akan selamat. Tapi jika aku tetap disini; hanya ada dua kemungkinan; kami berdua selamat atau kami berdua terkoyak-koyak. Aku diam tak begerak. Seolah ia tahu apa yang aku pikirkan. Ia melempar senjatanya padaku.

“Ambilah senapan ini.” Matanya sangat kesal ketika aku menolak pertolongannya. “Kuharap keputusanmu benar!”

“Pergi lah.. aku akan menyelamatkan dia bagaimana pun keadaannya!”

Samy sudah berlari dan menghilang entah kemana. Betapa bodohnya aku mau menyelamatkan orang lain; sementara diriku pun masih perlu diselamatkan. Semoga saja kami bisa selamat dan menemukan jalan pulang menuju pesawat.

“Ayolah kapten bertahanlah. Kita sama-sama mengatasi ini semua.” Semoga ini hanya sebuah mimpi buruk yang akan segera sirna. Benturan di kepalaku seakan menyakitkan untuk mengingat. Tapi pasti ada penjelasan yang lebih tepat.

Warna langit kembali cerah. Tusukan-tusukan cahaya matahari menyelinap lewat kanopi hutan paling atas. Istirahat sebentar saja sudah membuatku segar.

“Kau sudah bangun. Minumlah..” Kapten sudah sehat. Apa yang terjadi. Lukanya sudah sembuh? Tak mungkin.

“Terimakasih.” Aku bersiaga agar ucapannya semalam untuk menghabisiku tidak ia lakukan.

Tanah pegunungan yang teramat dingin mungkinkah membekukan pendarahan. Sehingga cepat sembuh? Entahlah. Ku lihat dia terasa segar bugar meski jalannya masih terpincang. Aku mungkin banyak berpikir tapi tak ada yang bisa ku katakan padanya. Kejadian ini sungguh diluar dugaan. Aku membantu kapten membereskan tempat kami istirahat dan mempersiapkan perjalanan kami selanjutnya.

“Sedapat mungkin kita harus menemukan sesorang untuk melaporkan apa yang terjadi pada kita.” Aku mengikutinya dari belakang. “Mungkin di bangkai pesawat ada sesuatu yang bisa kita pergunakan.”

“Jangan bodoh, Lee. Pesawat kita jatuh ke dalam jurang.” Kapten menghentikan langkahnya. “Sulit mengira jika barang-barang kita dapat diselamatkan.”

“Tetapi semalam, ada yang membantu kita, itu anggota kita kan?” Aku mengingat apa dan siapa yang telah menyelamatkanku.

“Yang kuingat kau mengobatiku, setelah kau hancurkan kepalaku.” Kali ini giliranku menghentikan langkah. Bersiap jika Kapten Razin melemparkan pukulan atau tendangannya.

“Maafkan sekali lagi, Kapten.” Nyaliku ciut kali ini, lebih seram daripada predator yang aku temui semalam. “Aku tak sengaja.”

“Sudah lah. itu justru membantuku untuk istirahat. Aku sudah lelah melewati gunung ini. Aku tak tahu apa lagi. Saat malam datang ku dengar ada seseorang yang bercakap-cakap. Ku kira ada dua anggota kita, ternyata kau berbicara sendiri. Kebiasaan buruk ya?’ Kapten seolah menyalahkanku.

Kebiasaan buruk? Apa yang sedang dipikirkan kapten. Mungkin pukulanku waktu itu memberi efek tidak waras padanya. Aku tidak sempat bertanya tentang hal itu.
Agus Sutisna
Agus Sutisna

Ini adalah biografi singkat mengenai penulis; Ia mudah terbawa angan-angan sehingga terlihat diam dan mematung. Justru disanalah ia mengumpulkan dunia imajinasinya. Selebihnya ia sangat tampan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar