Ruang Lingkup Hutan Terlarang 1 - Terdampar

Ketika cerita kita belum tersampaikan pada orang lain; dan kita terlambat menceritakannya. Maka penyesalan akan terjadi selamanya. Jika ditulis pun tak ada yang bakal mempercayainya. Sebarispun; mereka bilang aku sangat bodoh menceritakan mimpi-mimpi. Entah bagaimana aku harus menyampaikannya; aku harus berjumpa dengan orang-orang yang mau menolongku.

Ini ceritaku. Tolong aku.

Sekitar dua puluh menit aku terdampar di atas tanah pegunungan. Saat aku bangun semua nampak gelap. Tubuhku pegal-pegal. sikut dan kakiku perih tergores tanah yang keras. Aku amati sekitar hanya kegelapan dan rapatnya pohon hutan. Teriak minta tolong hanya akan membangunkan serigala dan penghuni yang tak terlihat mata.

Aku terpelanting jauh dari bangkai pesawat. Entah dimana aku kini. Kepalaku masih pusing untuk memikirkan sebab terjadi kejadiannya. Sepenggal-sepenggal saja ingatan yang kusimpan. Selebihnya aku harus meregangkan otot-otot yang tersangkut.

Tanganku bergetar, aku merasakan kengiluan yang luar biasa. Beberapa menit aku tidak berani bergerak, terbaring menatap ke atas. Daun-daun dan kanopi hutan yang rapat. Diam. Merasai setiap pendengaran, merasai setiap penglihatan.

Ketika sudah merasa mendingan, telinga sudah tidak lagi berdengung dan mata sudah awas melihat. Aku mulai merasai keadaan sekitar. Cahaya masih menjadi pelindung saat itu. Hanya sebentar, kemudian kegelapan datang mengarah ke tempatku terbaring. Kegelapan merayap seolah binatang yang diusir ibunya. Sedikit-sedikit sampai menutup pelupuk mata. Gelap seketika.

Dalam kegelapan aku takut setengah mati. Takut ada yang menarik kakiku tiba-tiba atau ada yang merangkulku dari belakang. Aku tak tahu harus berbuat apa. Yang aku mau hanya keluar dari hutan atau berlari mencari cahaya. Dalam keadaaan gelap pikiran semakin kalut; sering mengada-ada melihat sesuatu yang tak terlihat.

Sekitar jam sembilan malam.

Pupil mataku mengecil, beradaptasi dengan kegelapan. Mulai terasa teduh. Cahaya bulan memantulkan sinarnya pada beberapa pohon besar, daun, akar pipih yang lebar dan humus-humus hijau mengkilat. Kunang-kunang mulai muncul seolah mata-mata orang yang meninggal. Sejenak aku terhibur, tapi aku tidak bisa membohongi rasa penakutku.

Kaki mulai terasa kuat melangkah. Aku bergerak mengumpulkan satu persatu kunang-kunang. Hanya ini yang bisa kujadikan penerang. Sedang asik-asiknya dengan rencana tersebut. Suara geraman terdengar entah darimana. Seketika mentalku ciut.

Siapakah aku yang biasa terlelap jam sepuluh malam, kini harus menekuni kehidupan malam di tengah hutan. Siapakah aku yang terbiasa mengetik naskah profosal dan merakit computer kini harus beralaskan tanah keras dan basah.

Aku rapatkan diri di antara batang pohon besar mencoba mencari persembunyian dan merangkak mencari jalan keluar. Jika dirasa aman pada batang pohon satu segera aku berlari ke batang pohon yang lain. Lalu kembali merunduk dengan rasa takut yang membekukan kaki. Jika aku pandai memanjat maka akan aku panjat. Mungkin itu akan aman dari ancaman makhluk darat. Tapi sayang aku tidak jago memanjat. Apalagi pohonnya tinggi besar dengan cabang yang kecil dan jarang.

Terancam diantara kanopi-kanopi hutan. Aku mencoba mendongak ke atas menatap langit. Menatap bintang. Dan mengumpulkan cahaya. Mengumpulkan keberanian. Mengumpulkan harapan. Pasti ada harapan.

Aku tidak tahu seberapa luas hutan ini. Aku juga tidak tahu serapat apa hutan ini. Sedang sekarang baru jam sembilan malam. Malam masih terlalu panjang dan lama. Seberapa kuat aku bertahan dalam keraguan? Satu-satunya yang aku tahu adalah kembali ke pesawat. Ya. Aku harus menemukan bangkai pesawat yang jatuh bersamaku. Pasti tidak terlalu jauh. Aku semakin yakin ada harapan dapat ditemukan. Dan aku menemukan harapan dapat bertemu dengan orang-orang.

Langit telah menemukanku diantara tanah-tanah keras di atas tebing curam. Rupanya aku terlalu jauh berjalan dan menemui jalan buntu. Jalan curam. Baru kini aku bisa melihat langit dengan luas di tepi jurang. Dan aku rasa sekarang tepi jurang tak terlalu seram. Bahkan telah menyelamatkan pandanganku dari gelapnya hutan.

Mencoba merapatkan tubuh diantara akar-akar besar. Sambil duduk menatap langit luas. Cahaya bintang menghapus air mata dan tangisanku. Tapi aku harus tetap waspada akan ancaman yang menerkam tiba-tiba di daerah yang tak disangka-sangka.

Aku bersembunyi dalam akar-akar yang menghadap jurang. Disini aman pikirku. Terlindungi oleh akar-akar pipih yang lebar. Tak terlalu gelap. Kebetulan sedang purnama. Tiba-tiba bulu kudukku berdiri. Meriang mendengar serigala melolong dan menyalak. Semakin dekat dan kudengar dengan keras, ranting dan daun-daun kering yang terinjak.

Aku mencari apa saja untuk mempertahankan diri. Aku meraba-raba dalam kegelapan. Aku tak berpikir ular atau semacamnya. Yang aku pikirkan adalah secepatnya tanganku menggenggam benda padat. Aku berdiri. Aku pasang kuda-kuda. Ketika terdengar langkah itu semakin dekat. Dan kurasakan aliran darahku kembali panas bergejolak. Saat bayangan itu semakin dekat. Aku pukul habis-habisan! Aku tak mau membuka mata. Suara mengaduh terdengar.

“Brug!”

Manusiakah itu?
Agus Sutisna
Agus Sutisna

Ini adalah biografi singkat mengenai penulis; Ia mudah terbawa angan-angan sehingga terlihat diam dan mematung. Justru disanalah ia mengumpulkan dunia imajinasinya. Selebihnya ia sangat tampan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar