M.O.S. 012 - Gelap Mata

Kerusuhan terjadi di kota Metropolitan terhitung sejak ledakan hebat terjadi. Orang-orang berlarian menyelamatkan diri sementara yang lain menjarah pertokoan dan area perbelanjaan. Tidak ada yang bisa dilakukan bagi gadis kecil seperti Putri. Ibu dan bapakanya sedang menghadiri acara rapat di kelurahan. Ia mendekap gulingnya bersembunyi diantara dinding-dinding kamar yang hampir roboh.

Gempa bumi menghantam kota ini tadi malam, diawali dengan suatu ledakan di salah satu sudut kota. Para anggota keamanan sedang menyelidiki kasus kecurigaan bom bunuh diri, namun tidak juga ditemukan sumber bencananya.

Listrik kota metropolitan berhenti mengalir, air sungai tiba-tiba mongering. Internet berhenti seolah ada seorang hacker yang mencoba mengkudeta kota ini. Jalan-jalan penuh dengan kepanikan orang-orang, para petugas medis segera bertindak. Para wartawan lepas semakin bergairah mencari sumber berita. Namun semua sama saja tidak menemukan sumber bencana.

“Sam, kalau begini kita tidak dapat mengumpukan berita. Seluruh akses listrik dan internet padam seketika.” Gio berdiri di depan gedung publikasi. Ia dan karyawannya yang lain tidak mungkin bekerja dalam kondisi gedung yang gelap dan berantakan.

“Kasus seperti ini belum pernah terjadi, anggota BMKG belum bisa memprediksi titik gempa bumi.” Sam datang memberitahukan kondisinya. “Seluruh jalanan penuh dengan orang-orang yang panik. Mereka berdemo.”

“Jelas. Satu detik saja listrik, telepon dan internet terputus. Matilah usaha mereka.”

“Jadi apa yang harus kita lakukan, Pak!”

“Kita berpencar, bantu pihak kepolisian untuk mencari tahu.” Pak Gio membagi tugas pada beberapa orang pada beberapa tujuan. “Kalau bukan kita siapa lagi yang akan menjembatani aspirasi masyarakat.”

Waktu semakin gelap mereka kewalahan mencari bantuan. Satu-satunya adalah mengevakuasi warga. Bencana ini belum pernah terjadi selama ini.

Sementara itu di sebuah rumah yang berdempetan dengan rumah yang lain, situasi tragis akan menghantam nasib seorang gadis kecil.

Putri masih duduk di dalam rumah, ia mencoba mencari alat penerangan. Sebuah lilin yang tinggal setengah ia percikan api di atasnya. Sementara ayah ibunya belum juga datang. Suara beduk sudah dipukul dua kali berarti sudah menjelang isya. Namun belum ada tanda-tanda kedatangan orangtuanya. Sementara di luar sudah tidak kelihatan orang yang berjalan.

“Tok-tok-tok”

Terdengar suara ketukan tapi bukan dari pintu depan, melainkan pintu belakang. Ia menjadi was-was, tidak mungkin orang tuanya. Dan memang benar yang datang bukan orang tuanya tapi Mang Arif, ia menawarkan senyum untuk bisa masuk ke dalam rumah.

“Sebentar saja neng, Mamang tidak ada tempat untuk berteduh. Malam hari ini saja.” Mang Arif merayu Putri tapi Putri tidak mau, ia menutup pintunya.

Tapi lagi-lagi laki-laki itu berusaha keras, ia tidak menyerah. Mang Arif memasukan tangannya hingga seolah-olah terhimpit oleh pintu. Melihat darah mengalir dari tangan Mang Arif, putri mulai kehilangan keteguhannya. Ia mulai menyerah, ia akan mengizinkannya masuk. Ia berpikir ayah ibunya akan datang jika terjadi sesuatu padanya.

“Terima kasih neng Putri!” Mang Arif menahan sakitnya dengan duduk di tengah rumah. Sementara putri bersembunyi di dalam kamar dalam keadaan tertutup.

“Neng Putri!” Mang Arif mengawali pembicaraan, dalam gelap. Meski terhalang oleh pintu kamar yang terkunci.

“Berhenti memanggilku Mang, kita tidak boleh ada pembicaraan sebelum ayah dan ibuku datang!” Putri memegang lilinnya yang tinggal setengah itu. Ia ketakutan setengah mati, bukan karena gelapnya kota. Tapi jika Mang Arif gelap mata.

“Mamang tidak bisa melihat dalam gelap, boleh minta lilinnya?” Ia memang pandai merayu. Senyuman terlihat dari wajahnya yang opal, gempal dan berkeringat. Malam itu pertahanan Putri diuji.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.