Bu Guru Ryani

Kapur putih yang tergores, kini patah. Debunya mencair bersama aliran air. Papan-papan pengumuman tak berlaku peringatan. Kini kaki penyanggan
ya patah diganti dengan sebatang kayu bakar dari kebun belakang. Lalu dimana lemari yang menyimpan buku-buku pelajaran?

Sementara piala-piala kejuaraan patah jadi dua. Kursi-kursi bergeser mengumpul dalam satu ruangan. Debu-debu dan sisa abu sedang dibersihkan oleh siswa yang datang paling awal. Kelasnya hancur karena atapnya sudah rapuh. Sekarang ia sendirian membereskan puing-puing itu. Menempatkan kembali papan absensi siswa. Menggantungkan kembali patung garuda. Meski sayapnya patah terhantam kayu besar dari atap. Ia membawa sapu lalu menyapu. Entah apa yang ia bereskan. Teramat luas kerusakannya. Ia terus menyapu. Menyingkirkan debu dan kayu-kayu besar yang mematahkan tempatnya belajar.

“Hana, lekas kemari. Atapnya mau rubuh, Nak!” Bu guru honorer itu memergoki Hana siswanya sedang menyapu di dalam kelas yang rusak.

“Hana, kemari, Nak. Ibu khawatir!” Bu guru honorer itu tak bisa berbuat apa-apa. Bergerak selangkah saja bisa-bisa ia dihujam oleh papan kayu yang terbentang di atap. “Krett!”

“Hana mau belajar, Bu?” Hana terus saja menyapu. Keinginannya sangat kuat untuk belajar. Ia sudah kehilangan kesedihannya. Hana melakukannya. Hana membersihkan ruang kelasnya.

“Ini semua salahku!” Batin bu guru honorer. Bu guru honorer merasa iba.

“Hana kemari dulu. Nak! Iya, nanti kita belajar! Ibu janji akan selalu menenami kalian belajar. Tapi kemari dulu, nak! Berbahaya!” Bu guru honorer dengan susah payah melewati kayu-kayu besar yang sudah rubuh. Rubuh susulan bisa saja terjadi. Tapi rasa bersalahnya lebih besar dari kemungkinan tertimpa puing bangunan. Ia menyingkirkan dan melewati apa saja asal ia bisa meraih tangan Ini.

Bu guru honorer seorang wanita lulusan S1 pendidikan Bahasa Indonesia itu mengaku tidak terima dengan tertundanya gaji sebulan mengajar. Ia hampir lupa komitmennya. Ia tidak benar-benar lupa. Ia butuh sekali untuk biaya perawatan ibunya di rumah sakit. Hanya itu. Selebihnya ia hidup sederhana.

Ia sudah coba bertahan di sekolah SD ini sejak lulus dua tahun kemarin. selain itu pekerjaan sampingan terus ia lakukan. Ikut menjadi pembungkus makanan di pabrik-pabrik dekat rumahnya, menjadi guru privat dan berjualan kerudung ke rumah-rumah. Sistem jemput bola. Dor to dor lebih tepatnya. Semua ini hanya ingin membuktikan pada ayahnya jika pilihan jadi guru bukan hanya di mulut saja. Ia pasti akan berhasil. Tekadnya kuat.




Tiga jam sebelumnya.
Sudah jam delapan ibu guru honorer tak datang ke kelas. Murid-murid menunggu ibu guru setengah jam lebih. Anak-anak lain di kelas sebelah sudah terlihat sibuk dengan latihan-latihan soal. Sementara anak-anak kelas tiga hanya duduk diam menunggu ibu guru datang. Salah satu anak menunggu di depan pintu. Namun tak jua datang. Guru bantupun belum datang karena sedang mengajar di sekolah lain. Ia berdiri di depan pintu menunggu Bu guru Ryani.

“Ayo masuk dulu, Nak. Mungkin Bu gurunya sedang dalam perjalanan.” Kebetulan petugas keamanan menemukan anak yang masih berdiri di depan pintu.

“Bu guru hari ini bakalan mengajar lagi kan, Pak?”

Bingung juga ia menjawab ya atau tidak. Gerakan tubuhnya serba salah. Ia mengusap pundaknya saja. “Lekas masuk kelas ya! Sebentar lagi mungkin.” Sungguh ia pun ragu atas ucapannya itu.

Salah satu anak mendengar suara benda jatuh di langit-langit kelas. Kaget. Rupanya ada sedikit sisa tembok yang jatuh. Kiranya. “Barangkali tikus atau sisa dempulan yang tidak rata.”

Hari yang sama di tempat berbeda.
Bu guru honorer berpangkat S.Pd Itu kini sedang mencoba untuk melamar kerja ke kota atas usul sahabatnya. Ia termakan pula hasutan sahabatnya. “Saya tidak menjerumuskan mu, Mba! Tapi tolonglah berpikir bijak.”

Pagi tadi sahabatnya yang sukses di kota datang mengunjungi bu guru Ryani sekalian menjenguk ibunya. Lama tak ada kabar, ternyata ibunya Ryani sakit keras. Lama tak ada kabar, sahabatnya sudah sukses di kota. Malah kemarin sudah mengirim wesel untuk ibunya untuk membeli kursi baru.

“Mba Yan, kenapa tidak ke kota saja? Disana kesempatan bekerja sangat banyak, Mba? Gajinya pun sepuluh kali lipat dengan upahmu itu. Sayang title sarjanamu tidak berguna di desa ini.”

“Pekerjaan yang bagaimana? Maksudmu Lah!” Ryani mempersilakannya masuk dan membawakan segelas air putih pada sahabatnya, Ilah.

“Jadi pegawai di pabrik tekstil, restoran, kantoran banyaklah kerjanya juga ga susah. Tapi hasilnya melimpah. Nanti saya bantu carikan! Untuk sementara kamu numpang dulu di kontrakan saya. Luas koq!” Sahabatnya Ilah memanas-manasi Ryani. “Tidak seperti kamu di sini yang pendidikan tinggi tapi mengajar di tempat terpencil dengan gaji kecil.” Ia memalingkan muka. Agak takut juga ia berkata seperti itu. Semoga Ryani tidak marah.

“Tapi, Lah. Ini sudah komitmen ku. Aku mau mengabdi pada pendidikan! Kau tahu sendiri aku bela-belain ini semua sejak SMA?” Kali ini Ryani merasa dipojokan.

“Alah bicaramu tuh, Yan! Coba sekarang kamu tengok ibumu itu. Apa yang ia butuhkan?” Ilah memang pandai memprovokasi. Tak ada lain niat bagi Ilah. Sebenarnya. Hanya ingin membantu kesulitan sahabatnya. Dulu ia pernah di bantu Ryani saat ujian kelulusan. Dan dengan berbekal nilai tinggi ia berhasil masuk pada perusahaan besar di kota. Ah. Meski pake uang pelicin. Itu tak seberapa. Toh semua sudah tergantikan. Lebih malahan.

Ryani melirik ibunya yang sedang istirahat. Suasana rumah kosong. Ayahnya sudah lama tidak pulang. Menjadi buruh di Jakarta. Uang ayahnya pun sudah habis dipakai bayar listrik, makan sehari-hari dengan adik-adiknya yang masih sekolah di SMP dan Aliyah. Bahkan adik keduanya akan lulus SMA tahun ini dan adiknya ingin masuk perguruan tinggi mengikuti jejak dirinya. Menjadi seorang guru.

“Ibumu tidak butuh pengabdianmu pada sekolah, Yan!” Sambung Ilah dengan menyakinkan. “Ia butuh kau berbakti padanya. Itukan yang dulu kau nasihatkan padaku!”

“Tapi, Lah! Ini sudah cita-citaku!” Kali ini suaranya lebih keras. Ilah terkejut dan batuk ibunya menyusul terdengar sampai ke teras depan.

“Ryani. Gini lho. Saya hanya usul saja. Kau tak perlu tersinggung begitu.” Bicaranya yang ceplas-ceplos malah membuat teriris bathin Ryani. “Ya sudah saya pulang saja!”

“Tidak Lah, bukan. Bukan begitu. Maaf. Hanya kali ini mungkin kau benar.” Bu guru Ryani bimbang tak tahu harus mencurahkan hatinya pada siapa lagi kecuali pada sahabatnya Ilah. Sepertinya ia tak punya pilihan lain.

“Ya. Sudah nih!” Ilah menyerahkan segepok uang dalam amplop. “Ada sedikit rezeki dari bos ku di kota. Bisa buat ibu mu berobat sekalian membeli sepatu adik-adikmu yang sudah tak layak pakai itu!” Ilah menyerahkan lalu mengucapkan salam padanya. Meski perlakuannya agak sinis. Memang dari dulu begitu. Main terus terang saja. Tapi ia sangat perhatian sama keluarga kawannya itu. Baginya Ryani sudah seperti mbak-nya. Apa susahnya membantu meringankan sahabatnya. Ia ingin Ryani sukses juga seperti dirinya.

Ilah pergi meninggalkan Ryani yang duduk di teras depan. Tapi kesulitan hidup Ryani tak jua meninggalkannya. Ia membuka amplop pemberian sahabatnya. Tak disangka isinya banyak. Bisa untuk berobat ibu dan ongkos sehari-hari keluarga. Terombang-ambinglah perasaanya.

🌜
Malam telah datang. Burung-burung malam giliran begadang. Ryani masih duduk di luar membaca buku pendidikan. Ia sudah dua hari ini bolos mengajar. Besok ia akan mengajar anak-anak itu lagi. Tekadnya.

“Kak..” Suara Rian adiknya yang ke dua menyapa bu Ryani.

“Duduk sini dekat kakak!” Bu Ryani memang penyayang pantas dia menjadi langganan guru teladan di sekolahnya.

“Biar, Rian berhenti saja meneruskan sekolah. Biar Rian menyusul bapak dan bekerja di kota.” Wajahnya memerah. Terbata-bata bicaranya menyampaikan cerita. Kalah, tubuhnya lebih besar dari Ryani. Rian adalah adik laki-laki setelahnya. Dia satu-satunya lelaki yang ada di rumah selain ayahnya. Harapan untuk kehidupan keluarganya begitu besar padanya. Dan sebagai kakak perempuan, apapun akan dilakukan untuk membantu menumbuhkan benih harapan itu.

“Apa yang kau bicarakan, dik. Insya Alloh kakak bantu.” Bu Ryani berusaha agar semangat adiknya menjadi guru terus berkobar. “Kakak, ikhlas. Jika memang harus pegi ke kota. Cuti mengajar kan bisa?” Bu guru Ryani berusaha tenang meski hatinya was-was. Mana mungkin kepala sekolah mengizinkan. Bisa-bisa ia diberhentikan.

Sempurna sudah, malam itu dihujani embun-embun menambah beku perasaan.

-



Anak-anak belajar tanpa bimbingan gurunya. Ryani adalah guru pavorit mereka. apalagi bu guru Ryani sering menceritakan pengalaman hidupnya, menceritakan buku-buku yang dibacanya dan menceritakan film-film yang pernah ditontonnya. Anak-anak senang dengan keakraban bu guru Ryani. Tak ada lagi guru sedekat bu guru Ryani.

“Laras, punya pinsil dua?” Hana ketinggalan pinsilnya.

“Tidak, Hana. Aku punya satu. Kamu mau nulis pake apa?”

“Hana beli saja di warung ya kalau begitu.” Hana pergi membeli pinsil ke warung.

“Jangan lama-lama ya, nanti bu Ryani datang!”

Saat Hana pergi ke luar. Pak Johan guru olahraga datang ke kelas. Ia tahu jika anak-anak tidak ada gurunya. Kebetulan di kelas lain ia mengajar senam. Jadi sekalian banyak anak itu bisa bermanfaat dan menyenangkan. Daripada mereka ditelantarkan.

Pernah suatu kali pak Johan ingin pindah dari sekolah karena tidak tahan dengan kebebalan anak-anak. Katanya “Saya lebih pantas jadi pelatih anak-anak SMA yang jelas masa depannya: bisa jadi atlet mereka!” Tapi sejak bu guru Ryani memberi sedikit pencerahan akhirnya dia sadar. Jika yang dia lakukan saat ini lebih baik dan lebih mulia daripada membentuk keterampilan anak SMA yang sudah mahir pada mulanya. Guru SD lah yang pertama kali memperkenalkan hitungan. Guru SD lah yang pertama kali memperkenalkan bacaan. Guru SD lah yang pertama kali melatih kebugaran.

“Anak-anak. Kita majukan pelajaran olahraga sekarang yah. Sekarang kalian ganti baju olahraga dan bapak tunggu di lapang desa!”

“Asikk!” Anak-anak memang senang sekali belajar di luar. Apalagi mendengar suara musik senam yang menggema terdengar sampai ke dalam kelas. Hentakan-hentakan kaki tak sanggup menyangkalnya. Anak-anak itu pergi ke lapang bersama pak Johan dan anak-anak kelas lima. Sementara bu Ryani sedang mempersiapkan berkas-berkas lamaran kerja.

“Bu Ryani memangnya tidak mengajar?” Bu haji Tirah pemilik toko buku dekat rumahnya mempersilkan duduk lalu mempersiapkan kertas polio, curiculum vitae dan map-map yang telah dipesan bu Ryani.

“Saya mau cari kerja ke kota bu Haji” Ia lemah bicara seperti itu. Ada persaan seperti tertusuk di ulu hati. Sebenarnya ia tak ingin. Tapi apa boleh buat ini untuk kebaikan bersama.

“Lho. Tidak lagi kerja di sekolah, nak Ryani?”

“Saya butuh uang Bu, untuk berobat ibu!” Setelah membayar ia segera pamit.

“Tunggu Nak, sayang kau tinggalkan sekolah mu. Itu pekerjaan mulia.” Bu haji Tirah menyayangkan jika nak Ryani mundur dalam tugas mulia itu.

Bu haji Tirah bukan pedagang sembarangan, tokonya banyak membuka cabang dimana-mana. Apalagi anak-anaknya ia sekolahkan ke UI dan ITB semua. Anak pertama yang seusia bu Ryana sekarang kerja di Jakarta.

“Saya..” Ia tak sanggup melanjutkan perkataannya. Seakan ada sekam yang menahanya di tenggorokan. Apalagi air mata terasa mau mendobrak keluar. Ia malu jika harus mengeluarkan air mata di depan bu haji Tirah. Orang yang disegani di desa dan keluarganya.

“Sebenarnya ada yang ingin ibu bicarakan pada nak Ryani. Orang tuamu juga tahu akan hal ini. kami sudah sepakat merahasiakan dulu hal ini. Tapi tidak sekarang nak, menunggu moment yang pas.” Pembicaraan bu haji menambah kebingungan dipikiran Ryani.

“Kau tentu masih ingatkan anak ibu yang bernama Raffa, kan? Ia teman sebangkumu dulu. Saat lebaran kemarin dia sebenarnya mau menemuimu. Tapi takut kau sibuk dengan urusanmu mengajar anak-anak.”

Entah apa yang dibicarakan bu haji Tirah. Sementara pikirannya sudah kemana-mana. Ia memikirkan banyak hal : ibu yang sakit keras, kebutuhan adik-adiknya sekolah, adiknya yang akan masuk kuliah, anak-anak yang ia tinggalkan di sekolah. Dan Raffa. Siapa pula lelaki itu. Lelaki dengan kaca mata dan ingusan yang pergi ke kota itu kah? Yang meninggalkannya saat merajut mimpi membangun sekolah di desanya?

Scenario manusia siapa yang tahu. Tapi bagi Ryani, gadis sederhana. Mendambakan sosok Raffa bahkan bersanding dengan keluarga besarnya sangatlah tidak mungkin. Bagaikan pungguk merindukan bulan.

Tidak kebetulan memang. Hana tidak berpapasan jalan dengan bu Ryani. Hana mencari pulpen tapi stok kosong semua di warung. Berkeliling kampung untuk membeli sebuah pinsil saja. Sehingga memakan waktu yang lama. Sementara kawan-kawannya sedang asik bergembira di lapang sana.

Gadis kecil itu kembali ke sekolah dengan pensil yang baru. Saat kembali ke sekolah Laras dan kawan-kawannya sudah tidak ada. Ia tak tahu mereka ada dimana. Tas mereka masih ada. Tak mungkin mereka pulang. Apakah mereka belajar di tempat lain? Padahal ia sudah susah payah mencari sebuah pinsil. Hanya untuk belajar pagi ini.

Tiba-tiba tak disangka. Atap sekolah yang kemarin terdengar retak-retak seketika ambrol rubuh. Suaranya menggemparkan sampai ke rumah-rumah warga pun terdengar. Seperti suara dentuman bom. Mengagetkan dan wajah-wajah anak-anak seketika pucat. Anak-anak di kelas lain langsung keluar. Seketika. Ibu dan bapak guru membimbing mereka. Mereka bersyukur bukan kelas mereka yang hancur.

Laras, pak Johan dan anak-anak yang sedang senam di lapangan yang jauh dari sekolah, tak tahu jika sekolah mereka roboh. Mereka sedang asik senam irama di lapang desa. Mereka sedang gembira tanpa Hana. Gadis cilik penyuka baju pink ini tak tahu jika kawannya kemungkinan ada di kelas.

“Pak.. orang-orang pada belari? Apa mereka ikut berolahraga dengan kita.” Fadli yang berbaris di belakang melihat tetangga dan orangtua mereka berlari entah kemana. “Mak.. pak.. mau kemana?”

Terpisahlah dua pasangan dewasa itu menuju lapang. Berangkulanlah ibu dan anak itu. “Syukurlah kau tak apa-apa, nak!”

Pak Johan menghentikan musiknya, anak-anak dibuat ketakutan dengan arakan warga menuju sekolah. Apa yang terjadi?

“Hana, pak, ia masih di kelas. Hana...” Laras menjerit histeris. Ketakutan kawannya ada dalam reruntuhan itu.

Tempat yang berbeda pada hari waktu yang sama.

Di warung bu haji Tirah dan bu Ryana masih bercakap-cakap.

“Sayang nak. Jika meninggalkan sekolah. Mungkin bu haji bisa membantu.”

“Saya bingung bu..” Entah ada perasaan apa sehingga segala kerumitan keluarganya ia tumpahkan pada bu haji Tirah, dan entah mengapa bu haji Tirah merasa nyaman berada dalam dekapan Ryani, seolah anaknya. Ah, seandainya bu haji Tirah punya anak perempuan, mungkin ia merasa bahagia seperti ini. Ada yang selalu memperhatikan dan ada yang mengajaknya berbicara setiap saat.


Dari kejauhan pak Omon juru tulis desa berlari menuju warung bu Haji. Larinya cepat sekali seperti ada yang penting dan genting.

“Ada apa pak Omon? Sampai segitunya lari.” Bu haji dan Ryani melipat dahinya.

“Anu. Bu. Bapak kepala sekolah ada?” Ia menanyakan suami bu haji.

“Ada, di dalam sedang ada tamu dari kota. Dari dinas pendidikan kalau tidak salah!”

“Oh.. terima kasih Bu. Ada hal yang penting!” Lalu pak Omon segera melesat ke dalam rumah tanpa mengetuk pintu dulu.

“Dasar pak Omon kebiasaan!” Bu haji yang tahu adat pak Omon susah menegurnya. Pak Omon belum juga bertemu pak kepala desa balik lagi.

“Ada apa pak Omon. Katanya mau bertemu suami saya.”

“Begini bu haji, Kebetulan saja ada bu Ryani disini?” Ada rasa heran dan kenapa ia ingin menyampaikan sesuatu pda bu Ryani.

“Ibu, tidak menyusul anak-anak ke sekolah? Apa bu tahu ada satu kelas di sekolah ibu yang ambruk??”

Serr.. degup jantung bu Ryani serasa ada yang menonjok. Sekolah? Kelas? Anak-anak?

“Aku pamit bu Haji. Pak Omon. Assalamu’alaikum.” Entah kekuatan apa yang menyegerakannya untuk bertindak melarikan diri dari warung bu Tirah dan secepatnya pergi ke sekolah.

Bu Ryani segera berlari ke sekolah. Dalam hatinya entah apa yang ia rasakan. Sesuatu yang ia takutkan terjadi pada anak-anak. Jika ada murid yang celaka itu semua adalah salahnya. Salah tanggung jawabnya.

Dengan berlari sekuat tenaga. Tak terasa tempat yang lumayan jauh ia dapat tempuh. Di depan gerbang sekolah sudah banyak warga yang berkerumun. Dengan memakai pakaian biasa, dan kerudung biru yang biasa ia sematkan. Dia menyalip kerumunan warga yang penasaran. mencari celah kosong “Permisi bu, permisi pak!”

Apa yang ia duga memang terjadi. Ruang kelasnya hancur. Roboh. Anak-anak menangis sejadi-jadinya. Petugas puskesmas sudah beberapa kali memboyong ank-anak yang terkena debu pada matanya. Ada yang kaget lalu pingsan dan ada yang sampai terluka terkena genteng. Tapi tak ada yang serius, syukurlah!

“Bu Ryani kemana saja, Bu?” Bu Inda, guru kelas lima dengan sangat kecewa dan perasan kesal. Mendekap anak-anak yang menangis sejadi-jadinya.

“Maaf bu, dimana anak-anak saya. Anak-anak kelas tiga?”

Ia berlari mengitari sekolah. Tak menemukan anak-anak yang dibimbingnya. Anak-anak kelas tiga. Ia terbayang wajah-wajah yang selalu tersenyum dan mata-mata yang indah. Bagaimana pertama mereka bertemu. Teringat Hana yang selalu membuatnya kesal karena selalu kesiangan. Laras yang selau telat menghapal matematika. Fadli yang nakalnya amit-amit. Tapi dibalik itu semua. Ia lambat laun menaruh rasa sayang pada mereka. Mereka tidak senakal yang ia kira. Mereka istimewa. Jadi salahnya jika ia membiarkan semangat anak-anak untuk belajar tertunda.

Mereka pernah memberi hadiah berupa tempat pinsil yang mereka buat sendiri. “Ini buat ibu. Dari kami anak-anak kelas tiga!” jatuh lagi air mata bu Ryani.

“Tuhan!.... ” Tak sempat mengering air mata bu Ryani. Demi anak didiknya ia mencari celah-celah reruntuhan. Memanggil-manggil satu persatu. Hingga hampir habis suaranya. Satu harapan baginya. Ditemukan anak-anak didiknya.


“Bu, kembali mengajar ya bu!” Samar-samar ucapan anak didiknya tempo lalu. Berulang-ulang suara itu terdengar. Berulang-ulang. Mendengung diantara rasa bersalah dan kekhawatiran.

“Ibu janji akan mengajar lagi, Nak!” Ryani seolah mendengar suara tersebut. Dan hanya ia yang mendengarnya. “Kemarilah, menjauhlah dari reruntuhan itu!”

“Kemarilah..” Lemas ia memohon.

Datang dari arah reruntuhan sosok pria yang membantu evakuasi. Degupan jantung Ryani terbagi. Bertemunya ia dengan Raffa dan melihat tubuh kecil terkulai lemas dalam dekapan Raffa.

Angin pelan menebak perasaan. Berkeliling diantara kaki-kaki yang lemah dan tidak berdaya.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.