M.O.S. 009 - Shandy

“Perhatian-perhatian bagi para pengunjung wisata malam, sebentar lagi kita akan turun dan mengunjungi sebuah Rumah Tua yang sangat terkenal di Kota Metropolitan.” Seorang pemandu wisata menjelaskan titik lokasi yang akan mereka tuju.

Bus wisata malam melaju membelah kota metropolitan. Diaraknya oleh beberapa kendaraan kecil yang melaju menuju rumah masing-masing. Kondisi beberapa Rumah Tua dan Tempat-tempat angker di ibu kota membuat peluang usaha tersendiri bagi tim ini.

Rata-rata mereka berusia muda dan mahasiswa Mempromosikan rute wisata pada setiap orang pada siang harinya. Dan sangat bombastis, banyak juga wisatawan lokal maupun asing yang menyewa wisata malam. Mereka disuguhi dengan cerita-cerita mengenai tempat yang akan mereka tuju. Biasanya satu malam akan ada empat atau lima lokasi sekaligus. Ibu kota tempat yang kecil namun memiliki sejarah yang dalam dan mengerikan. Tidak salah tim ini membentuk usaha baru.

Dengan modal awal brosur dan bus tua yang mereka sewa, akhirnya mereka bisa beroperasi. Hanya saja pekerjaan mereka dilakukan pada malam hari, beberapa pegawai yang masih pelajar dan mahasiswa tidak dapat memaksakan diri untuk bergadang.


“Ini adalah tempat pertama yang akan kita kunjungi, harap nanti tidak ada yang boleh membawa kamera, perekam dan sesuatu yang menimbulkan suara. Sedikit sejarah tentang rumah ini saya akan jelaskan!” Seorang pemandu sangat antusias menjelaskan. Sesekali ia melirik catatan tahun dan nama pemilik rumah pertama kali.


Pemandu wisata itu bernama Shandy, ia baru mendapatkan kesempatan untuk bergabung bersama team wisata malam. Selama ia mencari pekerjaan hanya perusahaan ini yang mau menerimanya meskipun status magang. Syarat dalam pekerjaannya ia harus memiliki kemampuan dalam menguasai berbagai bahasa khususnya Belanda.


Rumah yang berdiri tegak diantara mall-mall dan perkantoran itu tetap pada bentuknya yang sama, pernah terjadi pemugaran dan penggusuran namun selalu saja menimbulkan korban. Pernah juga dibuat sekolah namun bencana terjadi pada anak-anak. Hingga sekarang Rumah Tua itu tetap pada kutukannya. Para pengunjung sangat antusias mendengar cerita pemandu, gaya bicaranya yang meyakinkan sangat membuat pengunjung tak sabar ingin mengunjunginya. ‘Seberapa angkerkah rumah itu pada malam hari.’ Itu adalah catatan yang ada di benak pelancong.


Malam itu berbeda dari malam sebelumnya. Cuaca cukup cerah tapi agak aneh. Nyamuk-nyamuk entah sengaja keluar berbarengan. Kota mendadak lengang. Shandy memberikan botol mineral pada penumpang.


“Terima kasih. Nak.” Seorang nenek yang ditemani gadis kecilnya mengelus tangan Shandy, begitu dingin.


“Sama-sama, Nenek.” Shandy pergi ke depan bus lalu kembali lagi. “Nenek pakai jacket ini, semoga nenek sehat selalu.” Jacket tebal berbulu Shandy pakaikan padanya.


“Jaga Nenek ya!” Shandy mengacak-acak rambut cucunya.


“Dia sudah tidak punya orang tua lagi. Hari ini adalah hari ulang tahunnya.” Nenek bercerita dan Shandy mendengarkan. “Ia ingin mencoba wisata ini.”


Shandy terharu dengan cerita sang nenek. Sebuah permen ia ambil dari saku celananya. “Buat gadis pemberani!”


Bus melaju dengan hati-hati, Shandy dengan tugasnya membacakan cerita horror. Mereka antusias mendengarnya. Orang-orang yang butuh hiburan.


Tiba-tiba dipersimpangan jalan, seorang gadis mencoba menghentikan Bus dengan perutnya yang besar. Sepertinya ia ingin naik, tapi sekali lagi ini bukan Bus Umum. Ini bus wisata. Mereka berdebat mengenai hal itu. Bagaimana kalau ia meminta pertolongan untuk ke rumah sakit. Tapi dengan sangat berat tim tidak mengajaknya naik. Malam sudah pukul dua belas malam, wanita itu sendirian dalam keadaan perut besar. Apa mungkin ia manusia normal?

“Sudahlah, di belakang kita masih ada kendaraan umum.” Teman Shandy menghentikan perdebatan. “Lagian wanita macam apa yang baru pulang tengah malam?”

“Kau haru berkaca, Mir. Bukankah kita juga masih terjaga sekarang? Mana ada gadis yang bekerja sampai dini hari.” Shandy menbaca pikirannya. Pekerjaan di kota ini sungguh menyakitkan. Siapa yang berani dia yang bertahan. Berani menahan nyeri dan gengsi.


Bus melaju dan sampailah pada titik lokasi. Rumah tua berdiri megah penuh dendam dan berdiri melawan gedung-gedung tinggi. Shandy mempersilakan para pengunjung untuk turun.


Sambil ia menghitung jumlah peserta agar tidak ada yang tertinggal. Saat itu ia mendegar dengan jelas percakapan dua orang berbahasa Belanda, seorang ibu dan anak gadisnya.


“Ibu akhirnya kita sampai juga di rumah, kira-kira kakak sudah pulang apa belum ya?” Gadis itu terlihat riang gembira. Sementara sang ibu menutup mulutnya dan berkata “Jangan keras-keras nanti ketahuan.”


Ibu dan anak itu turun dan memberi senyum terima kasih pada pemadu. Shandy pura-pura tidak mendengar itu semua. Baginya keselamatan pengunjung manusia lebih utama daripada menggangu mereka. “Para pengunjung, kita berdoa dahulu sebelum berpetualang malam ini!”

Shandy memperhatikan dengan seksama. Mungkin yang dilihatnya adalah ilusi. Ia kembali bergabung dengan team dan mulai memasuki pintu rumah itu.

“Sesuai dalam cerita ini, kita akan mengetuknya tiga kali.” Mira mencontohkan sesuai yang diceritakan Shandy. Sementara Shandy mulai malam itu tidak berani menatap satu persatu mata mereka. Ia mulai berhenti berkomunikasi. Mereka bukan lagi manusia.

Sebelum itu Shandy belum sadar apa yang telah ia lihat, dengar dan alami. Baginya mereka sama. Berfisik manusia. Hanya saja ada sedikit pembeda dari raut, pakaian dan hawa yang mengelilingi wujud mereka.






Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.