M.O.S. 007 - Sopia

Kota ini sudah terkutuk. Batas antara dunia lain dan dunia manusia sudah hampir hilang. Sains sudah menunjukan jika keberadaan mereka memunculkan perdebatan. Garis antara wajar dan tak wajar sudah hilang. Kemungkinan mereka yang halusinasi atau gila adalah manusia yang sudah lebih dulu peka akan kejadian ini. Bencana luar biasa manusia berperang melawan kewarasan dan kemunculan makhluk astral.

Sementara pemerintah menutupi kasus dan program ini. Masyarakat dikhawatirkan akan panik dan menimbulkan kekacauan jika tahu kejadian yang sebenarnya. Maka pemerintah menurunkan titah untuk melakukan penelitian, pencegahan dan percobaaan dengan amat rahasia.

Pagi itu di kota yang sama, anak-anak menghadapi hari yang buruk. Sunday is No Way. Hari dimana mereka akan dipanaskan dalam balutan matahari. Berdiri dengan kaku tanpa satupun gerakan, menyebabkan rasa pegal dan kecemasan. Pagi ini anak-anak sekolah dasar mengenang para pahlawan.

Upacara bendera.

Perut-perut yang kosong memaksa angin untuk mengisi lambungnya. Rasa mual dan pening menjadi malapetaka bagi mereka yang tidak makan pagi. Pada barisan kedua dari kelompok siswa yang upacara. Terlihat anak yang gelisah.

Ia melihat ke atas ke arah gedung kantor di sebelah sekolahnya. Mula-mula ia biasa saja. Lama kelamaan ia berkeringat dingin tidak karuan Pandangannya mendongak ke atas. Melawan sinar matahari yang akan merusak indera penglihatannya. Syaraf-syarafnya mulai melonggar dan menegang seketika. Otot matanya lama-lama tidak bisa menyesuaikan diri. Sopia gadis kecil pemilik rambut keriting dan kulit hitam legam. Nampak menonjol diantara teman-teman yang lainnya.

Sopia gadis pilihan.

Ibu guru Astri melihat tingkah laku yang tidak biasa padanya. Segera ia mendekati anak itu dan membawanya ke pinggir lapang. Sopia tidak merespon waktu bu Astri jemput dia dari lapangan. Otot tubuhnya sangat tegang. Tangan dan tubuhnya susah digerakan. Seperti beton pembetuk patung pancoran. Ibu Astri was-was. Ia mencari bantuan guru lain tapi tidak ada yang datang padanya. Mereka sedang khidmat mengumandangkan lagu kebangsaan.

“Sopia, sopia. Dengar ibu.” Di usap matanya dan mengguncang-guncangkan tubuhnya. Tidak merespon.

“Sopia, dengar ibu!” Bu Astri nampak was-was. Ia tidak tahu harus melakukan apa. “Sopia Sadarlah!”

Bu Astri berteriak entah pada siapa. Ia hanya melampiaskan ketidaktahuannya. Ia hanya ingin menolong anak itu. Itu saja, dan ia lalai. Ia tidak sengaja menampar keras pipinya.

Dan tiba-tiba Sopia menjerit keras. Teman-teman yang lain baru sadar jika Sopia tidak ada dalam barisan. Ricuh. Guru-guru mendekati Sopia. Anak-anak ketakutan mendengar teriakannya.

“Tenang, Sopia. Apa yang terjadi?” Kepala sekolah datang membantu petugas. Ia diberikan air teh hangat.

“Mungkin Sopia tidak sarapan bu.” Perawat UKS memijit ruas kakinya. Sopia menangis tersedu-sedu. Lapangan seketika terfokuskan padanya.

“Ibu Guru Jatuh!” teriaknya. “Ibu Guru Astri!” Ia menunjuk ke atas gedung perkantoran berlantai lima. Sopia tidak henti-hentinya berteriak. Teriakan disusul oleh anak-anak yang lain.

Astri ibu guru honorer tidak terlalu jelas apa yang dilihatnya. Ia penasaran apa yang dikatakan oleh Sopia. Hanya sekumpulan awan yang indah dan terbungkus warna-warni kapas yang dilihatnya. Ia lalu membuka kaca mata minusnya. Dan alangkah terkejutnya ketika ia menyadari jika dirinya berada di atas gedung yang ditunjuk Sopia.

Ia melihat ke bawah, di tepi gedung lantai lima. Dengan ia melihat Sopia ditemani guru-guru dan anak-anak sekolah dasar.

Apa yang dialaminya diluar logika. Baru saja ia berada di bawah memberi pertolongan kepada anak didiknya sekarang ia berada di atas gedung seperti yang ditunjukan anak itu.

Ia mulai geram, ia pikir anak itu punya kekuatan jahat. Ia berdoa lama-lama. Semoga ini hanya ilusi matanya.

“Ayo Kemari kita nikmati kebersamaan kita!” Seorang pria bertelanjang dada berdiri di pojok bangunan. Terhalangi oleh dinding.

“Tidak, aku tidak sudi bercampur denganmu!” Bu guru menyuruh pria kantor itu menjauh darinya. Ia tidak habis pikir bisa berbicara keras padanya. Pria yang selalu ia lihat dibalik meja kerjanya. Sekarang menawarkan diri dengan cara yang tidak baik.

“Ayolah, jangan munafik. Aku tahu matamu melihat ke arah mana? Ini kan?” Pria itu memegang selangkangannya. Ia tertawa terbahak-bahak. Membuat bu guru takut, murka, bergetar dan tidak bisa leluasa.

Di depan matanya ada anak yang memperhatikan. Tidak ia tidak boleh melihat pergumulan dewasa ia dengan staf kantor. Ia bisa menanggung dosa. Tidak! Ia memundurkan langkahnya dan tanpa pikir panjang. Ia berdo’a. “Tuhan Ampuni Aku!”

Lalu bu guru itu meloncat. Melayang disaksikan seorang anak sekolah dasar yang berteriak menunjuk dirinya. “Bu Guru jatuh! Bu Guru jatuh lagi.”

Sopia melihat kejadian tersebut beberapa kali. Sang guru terus jatuh dan terjatuh lagi. Setiap hari Senin pagi, dimana khidmat upacara bendera menjadi sebuah memori kelam pada anak itu. Namun guru itu lagi-lagi setiap minggunya belum sadar jika dirinya bukanlah manusia lagi.

Sampai saatnya nanti seseorang yang akan menghentikan putaran sadis ini.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.