Lingkaran Waktu dan Terbukanya Gerbang Dunia Lain Bag 8 - Laras

Gadis pekerja ini harus membagi waktunya antara kuliah dan pekerjaan paruh waktu. Terkadang ia harus lembur bersama para pegawai lain, terkadang semalaman suntuk ia berada di kampus untuk mengejar ketinggalan materi pelajaran. Laras namanya. Hidup di kota besar dengan jati diri yang benar. Tidak tersulut amarah saat kemacetan, pun tidak terbuai hedonnya pergaulan.

Minggu ini Laras mengontrak mata kuliah terakhir. Ia menemukan sekolah yang cocok baginya. Ia sengaja memilih sekolah ini karena berdekatan dengan kantornya. Tempat yang sangat strategis. Laras mahasiswa mandiri. Siang hari ia bekerja di kantor dan sore hari mengejar bus untuk kuliah malamnya. Dan sekarang Laras sudah di ujung pendidikannya. Saatnya ia menyusun tesis.

Ia mengambil bidang psikilogi dengan judul penelitiannya kondisi anak di bawah tekanan bencana. Ia mengambil sampel di sekolah ini. dimana sekolah ini pernah mengalami suatu bencana hebat. Ruang kelas terbelah dan mengeluarkan gas beracun pada kisaran tahun 2009, anak-anak yang terkena dampak gas tersebut dilarikan ke rumah sakit dan mengalami kemunduruan dalam segi pembelajaran.

“Terima kasih Nak Laras sudah berkunjung ke sekolah kami.” Tutur kepala sekolah. Orangnya ramah dan welcome terhadap generasi muda yang mau terjun membina anak-anak.

“Sama-sama, bu. Saya sendiri yang akan mencari sample kelas mana yang akan saya masuki, bu.” Laras memotong sesekali pembicaraan untuk memastikan jika ia sudah siap meski tidak ditemani oleh gurunya. “Nak, laras baik sekali. Silakan bisa dimulai.”

Laras kembali ke kantor dan membawa berkas-berkas yang harus di isi oleh anak-anak. Sementara anak-anak dikondisikan oleh ibu guru. Ia berlari kecil ke kantornya. Cukup dekat. Setiap hari saat waktu lenggang. Ia selalu melihat anak-anak dan belajar di sekolah tersebut. Bunyi belnya malah ia hapal betul.

Di jalan yang ia lewati tidak sengaja menabrak seorang pria kekar, dan berkasnya berjatuhan. Momen-momen seperti ini RBT dan Soundtrack bermunculan. Mata mereka saling menatap dan tidak sengaja saling berpegangan. Lalu jadian.

“Maaf, pak. Aku terburu-buru.” Laras mengambil berkasnya dan dibantu pria tersebut. Tangannya tak sengaja memegang tangan Laras. Digelitiknya. Refleks Laras menangkisnya dan hampir menamparnya. Untung saja pria itu gesit dan menghentikan serangannya.

“Maaf atas kecerobohanku, Mbak! Mba mau kemana nanti saya bantu.”

“Tidak usah, Mas. Saya mau ke sekolah ini mau praktek penelitian.” Laras berhasil mengumpulkan berkas-berkasnya. Ia tidak tergoda bujuk rayuan pria-pria berdasi. Meskipun rambut penuh gel dan parfum menguasai tubuhnya. Baginya permukaan luar bukan untuk disoroti.

“Sekolah mana Mba, yang mbak tunjuk itu adalah bangunan tua yang akan dirobohkan oleh perusahaan kami. Akan kami jadikan Apartemen.” Pria itu menjelaskannya.

“Selain gombal, Anda juga pandai berbohong, tuan!” Laras melepaskan jeratan pesona pria itu. Ia berjalan terus sampai langkah kakinya terhenti.

Laras tidak percaya di depannya hanyalah gedung tua dengan luas lapangan yang sangat hijau. Tidak ada anak-anak berseragam sekolah disana. Tidak ada pula bel sekolah yang ia hapal nadanya. Pria itu menyuruh pegawainya untuk menghentikan sementara perubuhan gedung dan membantunya mengangkat gadis yang tiba-tiba pingsan.

“Mba, tidak apa-apa?” Pria itu menopang tubuh Laras. “Jhon, tolong panggilkan ambulance.”

Laras mendengar suara bel sekolah berulang-ulang. Suara tertawa anak-anak yang bermain di lapangan. Baginya itu adalah hal yang nyata. Namun sekarang ia merasa dibodohi oleh nalarnya sendiri.
Agus Sutisna
Agus Sutisna

Ini adalah biografi singkat mengenai penulis; Ia mudah terbawa angan-angan sehingga terlihat diam dan mematung. Justru disanalah ia mengumpulkan dunia imajinasinya. Selebihnya ia sangat tampan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar