M.O.S. 005 - Mila

Deru mobil bergantian memenuhi riuhnya jalan layang. Bergema dalam keheningan di bawah jembatan penyeberangan. Seorang pria muda duduk menunggu seseorang. Langit di sore itu, nampak cerah.

“Mat, kamu enggak kuliah?” Seorang gadis berjalan mendekati pria itu. Hampir saja membuat jantung Mamat terbelah karena kaget. Gadis yang telah ditunggunya datang tiba-tiba. Sementara ia belum memulai monolognya.

“Hari ini ngurus dulu kontrakan. Gimana kamu dapat solusinya?” Mamat menggerakan tangannya, menerima paketnya dan meninggalkan gadis itu sendirian. Sesimple itu. Tanpa ada kata-kata dan berlalu begitu saja. Sepertinya udara sore hari menyetujui pertemuan singkat itu.

Gadis itu bernama Mila. Gadis tinggi pemilik shop online. Sehari-hari ia mengirimkan barang pesanan di website miliknya. Dan sore ini Mamat tiba-tiba meminta bantuannya untuk mengirimkan barang padanya. Mamat tidak menjelaskan apa isi paketnya. Matanya selalu mengambil sudut lain ketika Mila menanyakan padanya. Ada kecurigaan tergambar dalam gerak-gerik Mamat. Hal yang tidak sempat ia ketahui.

“Ini uang kiriman ibuku di kampung, Mil!” Ulasnya. Mamat dengan jelas-jelas memang menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi Mila tidak boleh gegabah dalam menghadapi situasi ini. Tapi bagaimana kalau paket itu barang haram? Apakah ia juga akan dijadikan salah satu pelaku rangkaian pengedar Narkoba. Mila menyesal telah bertransaksi dengannya.

Sesal sudah Mila menepuk jidatnya. Apabila memang benar. Tapi ia singkirkan kecurigaannya. Ia yakin Mamat adalah pria baik-baik. Tapi bagaimana jika ia kepepet hutang? Mila kembali memikirkan segala kemungkinan. Dan tahu-tahu ia berdiri lama di sana.

“Tung-tung!” Suara Notifikasi handphone Mila. Mila membuka handphone-nya. Ia membaca pesan yang janggal.

“Mil, kamu dimana? Aku tunggu di jembatan koq tidak muncul-muncul. Cepet donk keburu gelap nih!” Pesan dari Mamat. Mamat yang ia kenal. Mamat yang asli.

“Aku sudah di lokasi. Dan barusan kita bertemu. Kau jangan bercanda. Enggak lucu.”

“Apanya yang bercanda, sekarang aku bersama Rafi nih nunggu kamu.”

“Aku juga di jembatan. Tempat biasa kita bertemu.” Mila sudah sempoyongan. Apa ia salah tempat sehingga tidak bertemu. Lalu pria yang berwajah mirip dengan Mamat, siapa?

Matahari mulai tenggelam. Mila berdiri tetap di atas jembatan penyeberangan. Dipikirnya dari tadi tidak ada orang yang melintas lewat jembatan ini. Mila mulai kehilangan kesadaran. Ia menangis tersedu di jembatan itu. Lalu ia melompat dari ketinggian. Seperti yang bisa ia lakukan saat adzan Magrib tiba.

‘Aku melakukannya lagi!” Bruk .. Tubuhnya menghantam jalan yang keras. Darah mengental. Mila merasakan sakit yang amat sangat. Kakinya terkilir hingga tulang putihnya mencuat ke permukaan. Sementara darah di perutnya ia tahan agar tidak berceceran.

Dalam beberapa menit Mila sudah mulai leluasa berjalan. Kakinya yang pincang mulai kembali sempurna. Ketahanan tubuhnya baik. Ia dapat sembuh dengan cepat.

“Mila!” Namanya dipanggil seseorang dari arah jembatan. Mereka melambai-lambaikan tangannya. Dua laki-laki yang akan ia temui. Mamat dan Rafi menunggunya disana.

“Darimana saja, kita sudah lama nunggu.” Mamat memberikan uang seratus ribuan padanya. “Tinggal berapa lagi cicilannya?”

Mila terdiam. Ia belum paham dengan apa yang terjadi. Dimana ia sebelum ini?

Garis dunia lain mulai kabur. Beberapa orang yang memiliki kepekaan, terkadang tersesat di dunia yang lain. Hingga tak dapat membedakan mana dunia manusia dan mana dunia lain.



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.