Lingkaran Waktu dan Terbukanya Gerbang Dunia Lain Bag 3 - Mamat

Malam ini kami berdua jaga ronda. Tidak ada pemuda lain yang ikut bergabung. Malam minggu mereka sedang berada di mall atau menyusuri setiap gang sempit dan sepi. Berkelana dan mengembara mencari mangsa atau kesenangannya. Adalah kami yang mungkin terpenjara dengan kepala desa. Menemani para orang tua berkeliling desa.

Kenalkan namaku Mamat dan itu temanku Rafi. Ini cerita pertama kami.


Suara kentongan terdengar nyaring. Aku dan Rafi sudah berada di pos ronda.  “Berapa kali kau pukul kentongan itu?” Aku mengocok kartu remi di tanganku. Hal yang aku kuatirkan terjadi.

“Apa aku salah pukul?” Rafi menggaruk tidak gatal kepalanya. Sudah kukatakan padanya jika setiap pukulan kentungan ada tandanya. Dan ketika satu kali berturut-turut adalah tanda ada yang meninggal. Lalu tanpa selang waktu lama para peronda lain datang menemui kami. Aku akhirnya menjelaskan pada mereka. Bahwa kawanku itu baru ikut ronda jadi ia tidak tahu aturan di pos ronda ini. Dan mereka pahami itu lalu mereka berkeliling lagi.

Rafi memang jarang aku ajak ke pengurusan desa. Biasanya ia berada di tempat PS atau mall. Seringkali aku melihatnya bersama pemuda-pemuda tanggung lainnya, mengganggu perempuan di pinggir jalan. Tapi malam ini aku sengaja ajak dia. Sebab aku butuh karena harus ngeronda sendirian.

Sementara kami menjaga pos, para orang tua berkeliling. Sudah puas aku main Remi, aku dan Rafi duduk bersila saling menatap.“Apa yang kau lihat, Mat?” Rafi merasa risih aku lihatin.

“Enggak, aku hanya meyakinkan diri saja jika aku memang berteman dengan orang macam kamu, fi!” Aku mengejeknya. Anak mami seperti dia dekatnya hanya denganku.

“Aku ngantuk, Mat!” Rafi melihat jam sudah pukul 12 lewat. Aku mengambil permen kopi dan memberikan satu pada Rafi. Sementara aku mengambil rokok dan membakarnya.

“Ikut, aku Fi!” Aku mengajak Rafi berkeliling supaya kantuknya hilang. Mungkin ia bukan ngantuk tapi takut.

Dan aku melihat jelas apa yang ada di belakang Rafi tadi, tapi aku tidak perduli. Mungkin aku terlalu ngantuk juga. Rafi mengikutiku segera. Bulu di kulitku mulai berdiri. Dan jantungku mulai berdetak cepat. Semoga aku hanya salah lihat. Setelah agak jauh dari pos ronda. Aku membuang nafasku. Sosok yang kulihat tadi masih berada di pos. Entahlah aku tidak jelas melihatnya. Seolah udara berminyak atau berjelaga. Dan aku melihat riak-riak mengambang di udara. Dan dari penglihatan kasarku membentuk sosok yang seolah-olah manusia sedang duduk.

“Mat, tadi sebenarnya kau tidak melihatku kan?” Rafi bertanya seolah tahu apa yang kupikirkan.

“Apa yang kau katakan?” Mamat barusan menepis kekhawatirannya, sekarang malah dibukakannya lagi. Entah aku harus berkata apa. Disaat seperti ini, mana mungkin aku menakutinya.

Dilema besar ketika bersama dengan orang penakut lainnya.

“Kau tidak benar-benar melihatku kan? Kau melihat sesuatu yang lain dibelakangku kan?”

“Aku tidak yakin, fi. Mungkin mataku sudah lelah.” Aku berbohong.

“Jangan buat aku ketakutan, Mat.” Ia memegang tanganku. Aku jadi risih juga dipegang sama cowok.

Tiba-tiba kentongan itu dipukul keras sekali. Seperti apa yang Rafi tadi lakukan. firasatku makin yakin, bahwa ada yang tidak beres. Suara kentongan itu berbunyi lagi. Aku melihat dari kejauhan orang tua sudah berkumpul disana. Aku sangat lega dan langsung mengajak Rafi menuju pos. Setidaknya ada orang tua yang jadi penjaga kami.

“Sudah kubilang jangan main-main dengan kentungan, Mat!” Pak Bahrun ketua RT memarahiku. “Warga nanti mengira ada apa-apa.”

Aku mencari Rafi namun tidak ada. Aku ingin menjelaskan, tapi apa yang dikatakan pak Bahrun sangat tidak masuk akal.

“Jangan bilang ini ulah temanmu. Dari tadi kamu sendirian yang jaga Pos ini. Tidak ada lagi alasan kau mengarang cerita, Mat!”

“Tapi, ..” Aku mencari Rafi namun tidak ada. Apa aku sekarang gila? Tidak dapat membedakan mana makhluk kasar dan  mana makhluk astral?
Agus Sutisna
Agus Sutisna

Ini adalah biografi singkat mengenai penulis; Ia mudah terbawa angan-angan sehingga terlihat diam dan mematung. Justru disanalah ia mengumpulkan dunia imajinasinya. Selebihnya ia sangat tampan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar