Lingkaran Waktu dan Terbukanya Gerbang Dunia Lain Bag 4 - Putri

Ayam jantan berkokok, begitu keras mengalahkan alarm di kamar. Mpok Hindun lantas membangunkan Putri untuk membantunya menyiapkan sahur. Putri dengan terpaksa bangun juga dan pergi ke belakang rumah untuk mengambil air.

Sumur tua tidak jauh dari rumahnya. Dekat dengan pohon rambutan yang rindang dan pagar-pagar rumput yang mengelilingi pekarangan belakang. Sekitar pukul tiga dini hari. Udara masih terasa dingin belum ada satu orang pun yang keluar dari rumahnya.

“Hai, Putri!” Seseorang memanggil putri dari kegelapan.

“Astagfirulloh Mang Arif. Ngagetin putri saja. Bikin putri takut!” Putri melanjutkan menimba air sumur. Terdengar keretan tali saat udara masih sepi. “Habis ngeronda Mang!”

Laki-laki yang ia kenal Mang Arif menganggukan kepalanya dan tetap berdiri di tempat yang gelap. Putri pun masuk rumah dan segera menutup pintu belakang. Mpok Hindun mendengar percakapan anaknya.

“Siapa Put?”

“Mang Arif, Bun. Ngagetin aja!” Putri kembali dari belakang rumah lalu menuangkan air hasil timbaanya ke bak mandi.

Mpok Hindun keluar melihat Mang Arif tetap berdiri di tempat yang sama.

“Sahur bareng aja disini, sambil nunggu Pak RT pulang.!”

“Engga usah, Mpok. Saya Cuma lewat saja. Makasih tawarannya. Pak RT Belum pulang, Mpok!”

“Lah, kan sama lu ngeronda bagaimana sih. Lu pulang duluan kenapa? Kagak biasanya.” Mpok Hindun bercakap-cakap sementara Putri terpingkal-pingkal di dapur mendengar gaya bicara bundanya.

“Kagak Enak badan, Mpok!” Lalu Mang Arif pergi melengos tanpa salam. Bikin Mpok Hindun kesal aja.

Terdengar suara pintu terbuka. Mungkin Pak RT pulang. Dan pak RT Bahrun langsung duduk lemas di kursi empuknya. Putri membawa teh hangat dan Mpok menyiapkan makan sahur.

“Astagfirulloh, Abah ketiduran di Mesjid, Neng. Ba’da tarawih tadi.!” Pak RT Bahrun bercerita pada anak gadisnya.

“Jadi abah ga jaga malam, ngeronda?” Putri bertanya.

“Engga, abah ketiduran.”

“Tadi kata Mang Arif Abah ngeronda?” Mpok Hindun membenarkan kecurigaan Putri.

“Mang Arif mana?” Abah meneguk teh hangat buatan putri.

“Mang Arif yang ngekost dekat jalan besar. Dekat rumah Tua itu.” Mpok Hindun menjelaskan.

“Bukannya orang itu sudah lama pindah ke luar kampung ya, katanya tidak betah di rumah itu.” Pak RT rebahan di kursi, untuk melanjutkan tidur tidak mungkin karena adzan Shubuh sudah berkumandang.

“Tapi tadi ama melihatnya.” Mpok Hindun duduk dekat suaminya. “Ama tidak salah lihat, ya kan Put?”

Putri mengangguk.

“Ya sudah, mungkin ia belum pergi ke luar kota.” Pak RT tidak menanggapinya. Setahu ia memang orang itu sudah pergi dari kampungnya. Ia tahu siapa-siapa warganya.

Agus Sutisna
Agus Sutisna

Ini adalah biografi singkat mengenai penulis; Ia mudah terbawa angan-angan sehingga terlihat diam dan mematung. Justru disanalah ia mengumpulkan dunia imajinasinya. Selebihnya ia sangat tampan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar