Lingkaran Waktu dan Terbukanya Gerbang Dunia Lain Bag 2 - Asih

Aku setiap malam melewati jalan ini. Lampu-lampu penerangnya dipasang seadanya saja. Aku tidak tahu apakah pemerintah mengetahui hal ini. Aku perempuan dan aku rentan kejahatan. Siapa yang mau bertanggung jawab pada bayi yang akan kulahirkan ini?

Aku sudah mendengar gosip mengenai Rumah Tua di Batavia itu. Memang benar sangat tua sebab bekas peninggalan Belanda. Tapi ucapan ibu-ibu itu lebih menakutkan daripada ceritanya. Mereka sengaja membesar-besarkan ceritanya. Anak-anak sekolah bahkan dilarang dengan resmi untuk memasuki rumah itu. Kata-kata ‘angker’ dan ‘terkutuk’ adalah menjadi nama panggilan terakhirnya.

Bukannya aku tidak percaya dengan cerita itu, tapi dibandingkan dengan rumah yang berhantu itu, jalan ini. lebih menakutkan bagiku. Sekali lagi, kejahatan manusia lebih menakutkan dari pada makhluk gaib.

Namaku Asih. Dan ini sebagian ceritaku.


Suatu malam aku pulang dari pekerjaanku, memang aku agak malam pulangnya sekitar pukul 12 malam. Dan melewati jalan itu adalah pantangan bagiku. Selalu saja ada segerombolan anak muda yang melintas disana. Dan aku tidak sudi berpapasan dengan mereka. Bisa-bisa mereka melakukan hal yang tidak senonoh lagi padaku. ‘Kotor’ adalah hal yang selama ini mereka katakan. Dan ‘Jijik’ adalah hal yang selalu mereka ucap setelah melakukan semuanya. Mana mungkin para lelaki mampu menimbang dan mengasuh seorang bayi.

Wajah-wajah polos yang dengan kepolosannya menjamah diriku.

Maka jalan satu-satunya adalah melewati pekarangan rumah tua itu. Suasananya memang dingin dan kelam. Tapi aku masih baik-baik saja. Setiba disana aku mendengar orang yang menangis. Kali ini benar apa yang digosipkan ibu-ibu penyiyir itu. Aku mendekatkan telingaku diantara dinding-dindingnya. Aku tahu itu sebuah kamar. Suara tangisan itu amat memilukan.

Seorang laki-laki tengah malam menangis. Hal yang paling menakutkan bagiku, seperti apa rasa sakit laki-laki hingga ia menangis?

Tuhan apa yang sebenarnya yang terjadi di rumah ini? Hantukah yang kudengar itu? Tetiba ia menghentikan tangisannya. Aku terperanjat menjauh. Jangan-jangan ia tahu keberadaanku disini. Aku mengelus perutku, aku takut terjadi apa-apa dengan kandunganku.

Lalu terdengar orang-orang bertengkar dan aku makin penasaran apa yang sedang mereka perdebatkan. Lagi-lagi ibu-ibu penyiyir itu benar. Rumah ini memang tidak beres. Tiba-tiba pintu tertutup dengan keras dan aku berteriak ketakutan.

Sebuah drama masa lalu yang terulang kembali di rumah itu. Aku tidak mau bertemu hantu Belanda. Aku belum fasih bahasanya.

Terpaksa aku melewati jalan itu. Aku menelan ludahku sendiri. Aku berlari dengan sekuat tenaga dan ah sial ketemu lagi dengan beberapa pemuda tanggung. Mereka berenam dan salah satunya memakai jam tangan. Aku masih ingat para pelakunya.

“Hei, neng pulang nya koq malam terus? Ketagihan ya?” Salah satu pemuda yang berbadan tegap memutari badanku dan menepak pantatku. Sialan. Mereka memang perusak wanita.

Suara tertawa terdengar entah dari mulut siapa. Terkekeh puas dengan luasnya. Menggelitik bulu kuduk enam pemuda itu. Memberi linu pada tulang-tulang yang rapuh, karena kehabisan sperma itu. Angin sedengin es. Terdiam dalam ketiadaan kehidupan.

Tetiba mereka saling memberi kode. Dan pura-pura menerima telepon penting dan harus segera pergi karena ada undangan rapat para pemuda di desa. Melihat wajah dan tangannya yang gemetaran, aku yakin ada yang mereka sembunyikan. Tapi apa hal yang ditakutkan oleh enam pemuda itu? Hantu? Semenakutkan itukah makhluk yang mereka sebut hantu? Atau memang isi otak mereka hanya konsumsi ganja.

Kali ini aku hanya tersenyum saja tanpa tertawa di tengah malam. Mulutku terlalu pegal untuk menertawakan mereka. Jalanan sepi ibukota terkadang menawarkan beberapa hal yang tidak masuk akal. Pun luput tidak pernah masuk surat kabar.


Agus Sutisna
Agus Sutisna

Ini adalah biografi singkat mengenai penulis; Ia mudah terbawa angan-angan sehingga terlihat diam dan mematung. Justru disanalah ia mengumpulkan dunia imajinasinya. Selebihnya ia sangat tampan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar