Dark Moment 3

Hujan menenggelamkan tidurku pagi ini. Aku tak bisa tidur sambil lampu dimatikan. Maka aku nyalakan. Setiap aku tidur menyamping, selalus aja ketakutan. Seolah aku tidak diizinkan untuk tidur lelap. Makhluk dalam mimpiku mencoba menghunuskan pedang ketakutannya padaku. Hingga aku terpenjara dalam malam dengan mata terjaga. Pening kepalaku manakala rasa kantukku terbentur mimpi buruk.

Mama menengok sebentar ke kamar dan pergi lagi. Sesudah itu tak ada lagi suara di luar sepi. Aku ingat jika tivi tidak nyala. Ah mau bicarain ini sama ayah. Sebelum lupa. Tengok jam weker sudah pukul dua dini hari. Tidak ada siaran menarik jika pun Televisi hidup.

Aku langsung keluar kamar. Tapi sepi dan tak ada siapa-siapa. Aku begidik. Apalagi. Bayangan itu selalu menggema dalam pikiran. Aku kembali menutup pintu. Tapi tak ku kunci.

“Ibu tak akan meninggalkanmu nak!”

“Ibu. Ah. Mengagetkan saja. Ibu koq bisa masuk ke kamar kaka. “

“Ibu mau ngambil mukena.”

Ibu tersenyum membawa pakaian putih yang ia sebut mukena. Aku mengiyakan saja. Sejak kapan mukena ibu ada di kamar ini. Mungkin tadi memang benar-benar ibu.

Matahari kembali terbit dan aku bersyukur pagi ini aku masih diberi kesempatan bernapas. Aku ambil air wudlu dan shalat shubuh. Dalam kesendirian shalat Shubuh di mushloa rumah. Aku merasa ada yang ikut shalat di belakang. Tapi entahlah mungkin kakak. Atau ayah. Tapi tak ada siapa-siapa. Aku pastikan setelah mengucapkan salam. Tak ada tanda-tanda orang lain selain diriku lagi.

Aku ingat pesan ibu. Aku baca istigfar dan ayat kursi. Ya. Alloh lindungi aku.

Selesai shalat, aku berkeliling ruang tamu. Ibu, ayah dan kakak belum bangun. Rumah baru ini benar-benar menyelimuti mereka dengan kelenaan. Aku meneruskan bersandar di sofa ruang tengah.

Bayangan berlari lambat lalu dipercepat secepat kilat waktu aku memperhatikannya. Benar-benar bayangan itu terjebak. Ia tidak mau aku memperhatikannya. Aku mendengar pembicaraan hebar antara ayah dan ibu di dalam kamar. Tepat setelah bayangan itu menghilang dekat pintu kamar mereka.

“Mereka mau mengusir kami, nak!” Suara bisikan terdengar seolah ada yang mengelilingi telingaku. Tapi suara itu melambat dan menghilang sewaktu tubuhku kuputar ke belakang mencari sumber suara itu. Sungguh sangat menggangguku. Betapa mengejutkannya itu hingga tenggorokanku tercekat. Kehausan.

“Ayah dan ibu mau berangkat!” Matahari belum juga keluar mereka sudah menyiapkan segala kebutuhan, makanan, meja belajar dan buku-buku yang telah mereka beli tadi malam.

“Biar tidak macet selama perjalanan.” Ibu beralasan. Ayah menepuk pundakku. Aku ditinggal sendiri lagi.

“Jangan membukakan pintu untuk siapapun.” Ayah merangkulku. “Kau mengerti maksud Ayah, kan?” Aku mengiyakan. Termasuk dengan dokter itu. Aku harus berhati-hati.

“Ibu koq tidak pakai kursi roda?” Wajahnya tiba-tiba panik.

“Kejutan!” Katanya. “Ibu sudah sembuh, makanya ibu harus bekerja lagi.” Matanya melirik ayah.

“Perekonomian keluarga kita tidak seperti dulu lagi. Jadi ibumu mau membantu ayah bekerja. Tidak apa-apa kan?” Ayah memberi pertanyaan yang tak mudah kujawab. Aku mau menolak pun alasan apa hingga aku harus menahan ibu disini. Aku sudah besar dan bisa memenuhi kebutuhan ku sendiri.

Begitu sehari-hari, aku ditiggal bekerja oleh mereka. Sementara kakak suka menginap di rumah temannya. Dan adik dititipkan ke bibi. Aku sebagai anak laki-laki tertua harus berani tinggal di rumah sendiri. Hingga suatu hari seorang anak laki-laki yang mengaku anaknya pak Dokter datang mengajak bermain.

“Mainnya di rumah saja, ya.” Aku menjelaskan penyakitku padanya. Penyakit yang tidak boleh terkena sinar matahari terlalu lama.

“Kalau begitu aku bawakan mainan dulu ya!” Katanya senang. Ia pergi entah lewat pintu mana, tahu-tahu ia membawa teman-temannya. Mereka saling melempar mainan, aku takut nanti orang tuaku marah. Melihat banyak perabotan rumah pecah.

Tapi aku tidak mudah marah. Aku menangis sediam-diamnya. Aku tidak suka bermain dengan mereka. Tidak punya sopan santun di rumah orang lain. Aku menyesal berteman dengan mereka. Maka setiap kali mereka datang lagi. Aku kunci semua pintu dan jendela.

Tapi sesuatu yang aneh terjadi, langkah kaki anak-anak itu datang dari tangga lantai dua. Dari arah kamarku. Mereka berlima menertawakanku. Suaranya membuatku pening, mengelilingi seolah aku dikucilkan.

“Katanya mau berteman denganku, koq kalian jahat!”
Agus Sutisna
Agus Sutisna

Ini adalah biografi singkat mengenai penulis; Ia mudah terbawa angan-angan sehingga terlihat diam dan mematung. Justru disanalah ia mengumpulkan dunia imajinasinya. Selebihnya ia sangat tampan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar