Dark Moment 2

Ruangan dalam rumah masih terlihat segar. Tampak cat-cat masih wangi. Semua perabotan sudah lengkap. Keluarga Andi setuju menyewa rumah ini sampai sebulan percobaan. Ya ini adalah ide kakak yang ingin mengobati trauma ibu akibat kebocoran gas yang hampir menghancurkan seisi rumah. Sementara ibu masih dalam kondisi lemah di atas kursi roda.

Kak Selly mencari ruang kamar sendiri. Dipilihnya kamar yang paling besar di lantai dua. Ia yang memberikan alamat perumahan ini. Ia dapat dari majalah kesayangannya itu. Harganya murah dan cepat dihuni.

Aku dan adik kecil mendorong kursi roda ibu dan membantu ayah merapikan kamar mereka. Aku melihat-lihat semua ruangan. Melihat seluruh pondasi, ukiran dan sudut-sudut. Selalu kagum pada arsitektur. Bentuk-bentuk yang sesuai porsinya.

“Raka, tidur bareng adik di lantai dua dekat kamar Kak Selly ya!” Ayah menggendong adik yang sudah tertidur di pangkuannya.

“Aku ingin punya kamar sendiri, Yah!” Aku merajuk. Mana mungkin aku harus membagi tempat tidur dengan adikku. Aku ingin privasi.

“Pasti. Nanti kamu punya kamar sendiri. Hanya malam ini saja, bolehkan?” Ayah membujukku. Aku diharuskan menjauhi mereka berdua malam ini. Aku sudah tebak apa yang akan mereka rencanakan. Aku mengangguk dan menutup pintu.

“Terimakasih.” Ayah mencium keningku dan turun ke bawah disusul suara ibu.

Kamar tidur ini mengingatkanku akan rumah yang dulu. Ayah selalu saja membuat desain kamar seperti ini. Selimut kuambil dari tubuh adikku.

Dalam kegelapan, aku mendengar suara cicak seperti tertawa cekikikan. Burung malam terbangun membelah kesadaran. Aku tidak bisa tidur tenang. Aku nyalakan lampu kamar dan memandang langit kamar yang hitam.

“Ayah, Tolong!” Aku terkejut manakala tempat tidurku tidak jelas bentuknya. Penuh dengan abu dan berbau. Seperti bekas kebakaran.

Keringat dingin mulai mengucur dan ingatanku kembali ke masa itu. Saat kebakaran terjadi di rumah lama. Aku berlari ke luar kamar dengan pintu yang hampir roboh. Aku segera turun ke ke kamar ayah dan ibu. Tapi tak ada. Dimana ibu? Kursi rodanya masih ada. Aku naik lagi berlari ke kamar kak Selly. Tidak ada siapa-siapa di rumah ini. Kecuali perabotan yang rusak dan terbakar. Terdengar orang-orang berteriak rusuh dari luar.

Di jendela kamar lantai dua ini aku melihat begitu banyak orang yang berkerumun di jalanan. Aku berteriak minta tolong tapi tidak ada yang merespon. Mereka sama susahnya denganku. Rumah-rumah tetangga semua masih berselimutkan api. Meninggalkan harta berharga dan jiwa-jiwa yang terperangkap.

“Ting-Tong!” Suara bell. Aku segera turun melewati anak tangga yang sudah koyak. Terlihat dari lubang pintu sekecil itu, seseorang dengan pakaian putih berdiri tegak.

“Ting-Tong!” Suara bell itu kembali ditekan. Siapa orang itu? Aku diam tidak menjawab, tidak pula keluar. Aku takut sosok itu yang akan menyerangku dan menamatkan mimpi burukku.

“Selamat malam. Saya tetangga di samping rumah. Adik tidak apa-apa?” Jelas orang itu bukan sosok menakutkan. Ia mencoba membuka pintu berulangkali.

“Bisa kita bicara diluar saja pak dokter.” Aku melirik wajah orang itu. Membuka kunci pintu dan menatap terus orang tersebut. Ada sekelumit rasa curiga padanya.

“Tenang dik. Ada apa?” Ia memegang pundakku. Perlakuannya padaku sangat memuakkan. Aku harus hati-hati pada orang ini. Bisa saja dia seorang predator anak.

“Aku mencari ibu, kakak dan adik dan ayahku. Entah kemana mereka. rumah ini terbakar lagi. Padahal baru kemarin kami menempatinya.” Aku masih berkata dalam hati. Tidak kusampaikan ucapan itu. Bisa-bisa ia memanfaatkan keadaan.

“Tidak ada apa-apa.” Aku menutup pintu dan segera masuk.

“Kudengar ada yang terbakar? Apakah semua baik-baik saja” Orang yang memperkenalkan diri dokter Adnan masih mencoba berkomunikasi denganku.

“Tidak ada yang terbakar. Semua baik-baik saja.” Aku mencoba sebisa mungkin menjawab pertanyaannya.

“Tapi rumah ini?” Aku menengok ke belakang. Semua baik-baik saja. Apa mungkin tadi hanya mimpi.

“Mungkin adik hanya bermimpi. Boleh saya masuk?” Ia menggenggam sebuah kunci lalu membuka pintu rumah seolah ia yang punya rumah. Aku berjaga-jaga.

“Tidak usah takut begitu.” Katanya sambil duduk dan menuangkan air ke dalam cangkir. Lalu ia meminumnya. “Coba pegang tanganku. Aku bukan hantu!”

Jelas memang bukan hantu, tapi kalau lebih menakutkan daripada hantu bagaimana. Predator anak sangat berbahaya akhir-akhir ini.

“Keluargamu pergi kemana?” Katanya melirik ke semua sudut ruangan. Keringatku mulai bercucuran. Orang ini mau apa jika aku sendirian di rumah.

“Ada di atas!” Kataku berbohong. Aku tidak mungkin mengatakan kalau aku sendirian. Bisa-bisa ia berbuat jahat.

“Kalau begitu, aku pamit ya. Salamkan ke orang tuamu.” Ia tersenyum. Senyumnya membuatku murka. Buat apa ia memamerkan sudut bibirnya seperti itu. Sebuah penghinaan bagiku.

Aku kembali ke kamar. Semua baik-baik saja. Entah kenapa akhir-akhir ini seringkali aku bermimpi kebakaran itu. Malam ini aku tak bisa tertidur. Lebih baik aku menunggu ibu dan ayah pulang. Aku menonton televisi saja.

Sial. TV-nya ga nyala-nyala. Besok aku ngadu ke ayah untuk panggil tukang servis.

“Ting-tong!” Suara bel lagi. Waktu semakin pagi, tapi banyak sekali orang yang datang kesini.

“Ka?” Seorang memanggil namaku.

Ayah, ibu dan kakak kembali pulang. Aku ceritakan tentang kejadian orang yang mencurigakan itu. Mereka pun tidak suka padanya. Terlebih ayah yang dengan jujur mengatakan padaku untuk menghindari kontak dengan orang yang mencurigakan.

“Orang itu sulit ditebak; jangan menerima tamu ketika sendirian.” Pesan ayah. Ayah mungkin sudah paham bagaimana isi kehidupan. Ayah memelukku dengan erat. Ia sangat menjaga betul anak laki-laki paling besar ini.

“Kak, tolong bangunin adikmu. Biar bisa makan bareng disini.” Ibu meminta Kak Selly untuk membangunkan adikku. Aku baru sadar ternyata adikku masih di kamar. Hampir saja aku tinggalkan. Kalau tidak ibu bisa marah besar.

Aku pergi ke dapur mengambil piring dan sendok. Ibu dan ayah pulang membawa pepes ayam. Di sudut ini Entah mengapa suasana jadi tak menyenangkan. Begitu sepi. Hanya suara cicak yang menakut-nakuti. Tapi aku tidak takut. Tiba-tiba sekelebat bayangan keluar dari dapur dan masuk ke rumah.

“Siapa itu? Bu, ayah! Kak selly.?” Aku memanggil siapapun itu yang mencoba menakutiku. Tidak ada yang menyahut. Aku mulai takut. Aku pergi saja ke ruang maka.

“Ada apa Ka?”

“Itu Ma. Kaka takut. Koq akhir-akhir ini sering banget lihat bayangan yang tidak jelas!”

“Ah. Itu Cuma ilusi karena rasa penakutmu saja?” Ayah seperti tidak peduli dan memang ia tidak percaya sama hal yang begituan.

“Nak. Tenang, jangan kau hiraukan. Ingat apa yang telah mama ajarkan.” Mama berbisik. Ayah dan kakak hanya diam saja memperhatikan.

“Ma, Kaka takut sebenarnya.” Aku memeluk mama.

“Ayah, bagaimana nih!” Jelas ku dengar mama mengeluh sama ayah.

“Tak apa, nanti juga terbiasa.” Kata-kata itu yang membuatku curiga.


Agus Sutisna
Agus Sutisna

Ini adalah biografi singkat mengenai penulis; Ia mudah terbawa angan-angan sehingga terlihat diam dan mematung. Justru disanalah ia mengumpulkan dunia imajinasinya. Selebihnya ia sangat tampan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar