Dark Moment 1


Beberapa kejadian sering terulang di tempat yang sama. Suatu energi negatif terus menghantui beberapa tempat yang keramat. Tetapi tidak ada yang sampai tahu jika dapur adalah salah satu tempatnya. Bahkan pusat dari segala pusat. Pintu dari segala pintu. Hilir mudik para roh yang tersesat. Pintu penjagaan ke dunia lain. Ruangan yang bersih dan rapi pasti tidak ada orang yang sanggup mengira kalau tempat itu berbahaya kalau sendirian.

Perumahan teras depan berjajar memenuhi ketentuan peraturan dinas tata kota. Begitu rapi dan bersih. Terlihat petugas kebersihan mendorong gerobak biru dan memungut sampah yang masih berserakan diantara dua tempat sampah. Lalu memasukannya ke gerobak dan dibuangnya ke bak mobil sampah. Berkeliling komplek perumahan ini. Dari beberapa sumber telah menyebutkan jika komplek ini hanya ditinggali beberapa keluarga saja. Tetapi sampah terlalu menumpuk untuk keluarga yang sedikit.

Blok F-5 dimana sepetak rumahnya diapit oleh rumah-rumah lainnya. Hanya saja belum ada penghuninya; perumahan yang baru dibuka ini mengeluarkan harga yang murah untuk keluarga Andi. Keluarga yang dulu harmonis dan berkecukupan kini; harus rela berbagi tanah dengan orang lain. Jika dibandingkan dengan rumahnya dulu, ini hanya sebuah ruang tamu yang disekat menjadi dua kamar, kamar mandi, ruang tamu dan dapur. Sudah tidak ada halaman luas sebagaimana hobbynya menanam sayuran dan memelihara burung kenari.

Baginya keluarga adalah segalanya, tidak perduli usaha yang dirintisnya di tipu orang; rumahnya kebakaran dan tanah milik mertuanya diserobot adik istrinya. Menantu yang baik, ia akan berhasil melalui semua ini dengan keringatnya sendiri.

Lepas dari semua musibah yang menimpanya; istri dan anak-anaknya haruslah tetap diberi nafkah. Ia mencoba melamar ke satu perusahaan yang bergelut dibidang pengiriman barang. Tak lama setahun ia diangkat menjadi pegawai tetap. Dengan gaji yang cukup untuk pindah dari rumah kontraknya.

“Ayah, kita punya rumah baru lagi? Lebih luas kan yah?” Kakaknya yang paling sulung; bertanya sekaligus menegaskan. Sifatnya yang mewah turun dari keluarga istrinya; bukan darinya.

Ia memandang istrinya, mencoba mencari pembelaan dari orang yang dikasihnya; berharap ada jawaban yang serasa pantas diucapkan untuk sebuah rumah petak di perumahan.

“Kakak, bisa bantu adik mengerjakan PR, di kamar, nanti ibu menyusul.” Istrinya yang lembut sama lembutnya dengan suaminya. Suaminya bahkan merasa bingung darimana sifat lembut istrinya berasal. Selama menikah sifat asli keluarganya ketahuan benar; kecewa karena ia tidak punya segalanya. Terlebih setelah bisnisnya hancur dan rumah yang dibuatnya kebakaran. Semakin tegaslah jika keluarga istrinya tidak seramah ketika ia pacaran dan main ke rumah.

“Nanti, saya bicarakan baik-baik dengan kakak, yah!”

“Terima kasih, mah. Maaf tidak bisa memberikan rumah terbaik untukmu dan anak-anak kita.”

Istrinya tersenyum ramah; tanpa ucapan pun ia merasa didekap oleh kata : Tidak apa-apa, sayang. Kita mulai lagi dari awal.

Hilir mudik arwah menuju satu persatu rumah disana. Bau amis menggeledah setiap sudutnya. Awan hitam menyelibungi seluruh permukaan. Hendak kemanakah mereka menuju? Aura negatif melingkupi satu daerah tersebut.

Jatuh dari langit jelaga-jelaga hitam. Disusul satu persatu teriakan dari arwah-arwah yang kehilangan tempat tinggal.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.