Cerpen - Bus Malam dan Para Penumpang Setan - Babak Satu


Senar gitar terdengar mengalun, ketika dipetik oleh seorang pemuda pengangguran. Duduk ditengah angkutan kota dengan gagahnya. Tangannya sesekali memetik senar, sesekali memetik selangkangan. Manusia macam itu mana mungkin suka mandi. Baju kumal pun dianggapnya seksi.

Seorang anak sekolah yang kehabisan uang jajan, duduk dibelakang. Sesekali memperhatikan jam tangannya. Berharap bus ini tidak segera berangkat. Ia beradu dalam kebimbangan. Lewat tengah malam ia akan dimarahi ayah tirinya. Tapi jika ia pulang dan ayahnya ada di depan pintu. Maka terenggut sudah keperawanannya untuk kesekian kalinya. Maka ia sekarang mengendus dosa-dosa ayahnya.

Kursi-kursi telah mulai terisi sebagian. Jam menunjukan pukul Sembilan malam. Udara sudah terasa dinginnya. Supir bus belum juga berniat menjalakan busnya. Penumpang mulai gelisah, tapi apalah daya mereka tidak berkuasa. Sementara botol-botol mineral yang telah diberikan sudah mulai mongering.

Beradu dengan waktu sang pengelana kota datang dengan tergopoh-gopoh. Mencapai pintu dan meniupkan peluitnya. “Ayo berangkat, Pir!” Kenek bus menggantung di bibir pintu dan membuka satu batang rokok. “Ada yang mau?” Ia menawari penumpang di depan, tapi sebagian menggelengkan kepala tanda kesadaran akan kesehatan.

“Tunggu.” Dua orang berlari memukul-mukul badan bus. Terlihat dari nafas yang memburunya, jika ia sedang terburu-buru. Terlihat dari seragamnya ia adalah salah satu pegawai supermarket. Pulang kerja saat orang-orang beristirahat.

“Makasih, mang!”

Mereka duduk dibangku depan, melewati anak sekolah yang gelisah, ibu muda yang hamil tua dan beberapa pria berkemeja putih yang sengaja berdiri mempersilakan dua orang itu untuk duduk. Dan pria-pria berkemeja itu dengan tenangnya memilih bergelantungan memamerkan kokohnya tubuh mereka.

“Sri, jangan lupa besok pulang bareng lagi ya!” Hindia berbisik pada Sri gadis disebelahnya. Sri mengangguk.

“Kau sudah terbiasa naik bus ya?” Hindia melirik penumpang dibelakangnya. “Memang aman pulang malam naik bus?” Ia melihat salah satu pemuda urakan berdiri memakai gitar untuk mengorek telinganya dengan lagu yang kencang.

‘Cakep sih tapi ganggu.’

“Kalau kamu tidak suka, kita bisa berhenti disini. Dan kita cari uber.” Sri mengobok-obok tasnya dan membuka layar handphone-nya.

“Ga usah.” Hindia menepis tangannya. “Ga apa apa.”

Perjalanan masih berlangsung. Satu persatu penumpang turun. Halte yang mereka lewati sepertinya ada yang ganjil.

“Bukankah tadi kita sudah melewati halte ini ya?” Hindia berangsur dari tempat duduknya dan menatap jendela. Ia pun mengamati beberapa orang penumpang. Tidak ada yang berubah dari jumlahnya.

“Suer, Sri. Aku merasa ada yang aneh!” Hindia menunjuk salah satu penumpang.

“Bukannya harusnya ibu muda yang tengah hamil tua itu telah turun, karena kontraksi tadi. Dan rumah sakit ada di belakang kita? Dan lagu pemuda itu apakah aku salah dengar atau memang lagu itu yang bisa ia mainkan?”

Dengan kereta malam ku pulang sendiri

Mengikuti rasa rindu pada kampung halamanku

Pada ayah yang menunggu, pada ibu yang mengasihiku


Duduk di hadapanku seorang ibu

Dengan wajah sendu, sendu kelabu

Penuh rasa haru dia menatapku

Penuh rasa haru ia menatapku seakan ingin memeluk diriku


Ia lalu bercerita tentang anak gadisnya yang telah tiada

Karena sakit dan tak terobati yang wajahnya mirip denganku
Duduk di hadapanku seorang ibu

Dengan wajah sendu, sendu kelabu

Penuh rasa haru dia menatapku

Penuh rasa haru ia menatapku seakan ingin memeluk diriku


Ia lalu bercerita tentang anak gadisnya yang telah tiada

Karena sakit dan tak terobati yang wajahnya mirip dengan
kuYang wajahnya mirip denganku


“Mang, kita berhenti disini!” Hindia menarik tangan Sri dan segera turun dari Bus. Orang-orang menatap mereka.

“Sri, ayo cepat keluar!” Hindia sulit sekali menarik tangan Sri. Sementara penumpang melihat perdebatan mereka. Aura kegelapan menyelimuti mereka. Lagu berhenti, petikan gitar terhenti. Kontraksi ibu hamil terhenti, jeritan bayi terdengar histeris dan pemuda berjas putih itu berdiri kaku.

Hindia mulai merasa kesal. Ia meninggalkan Sri dan membuka pintu depan. Tapi sulit sekali. Sang kenek dengan mata terbuka lebar, seakan menahan mereka. Sementara anak sekolah yang duduk di belakang melambaikan tangannya.

Hindia terjebak di dalam bus. Seluruh persendiannya terasa panas, kaku dan lunglai. Ia tidak sanggup menahan semua tatapan, semua pendengaran dan penglihatan yang diluar kebiasaan. Ia menyeret-nyeret sendiri kakinya yang terasa lumpuh. Mengabaikan mata-mata yang menatapnya. Mengabaikan seluruh ketakutan dalam hatinya.

“Ini baru babak pertama.” Anak sekolah itu memutar kembali jam tangannya. Dari raut wajahnya terlihat ekspresi senang. Tertawa lalu menangis, bergantian seolah akalnya hilang.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.