Cerbung - Catatan Terakhir - #5 Paramitha

Segar sekali nampaknya suasana di pegunungan. Masih asri. Ditambah hijaunya kanopi hutan dan rumput-rumput liar di tepi jalan. juga merdu nian burung yang masih di dalam sangkar. Aku akan melaporkan segala macam tentang perjalanan ini.



Aku anak gadis yang sangat periang. Selain ikut Bem aku juga aktif di jurnalistik mahasiswa, sebagian karyaku sudah lama nonghol di media. Aku sedang menyusun novel yang semoga saja penerbit mau menerimanya.

Catatan kecil telah aku siapkan. Kamera kecil dan segalanya yang berukuran kecil. Panitia melarang kami membawa terlalu banyak benda canggih di tas. Karena ini perjalanan untuk pelantikan bukan untuk main-main atau pelesir.

“Mita, bagaimana tugas resensinya sudah selesai?”
“Beres bu, tinggal edit sedikit.”
“Oh baguslah, kalau begitu. Akhir-akhir ini ibu perhatikan kegiatanmu begitu banyak ya?”
“Jelas bu, salah satu motto hidupku adalah menjadi wanita nomer satu!”
“bagus itu; tapi jangan terlalu memaksakan.”
Ibu dosen astri memang selalu dekat dengan kami. Aku pun tak menyangka ia bagian dari kepanitiaan ini.

“Bu, kenapa pelantikannya di daerah pegunungan sih bu? Kamera ku belum dibenerin kurang dapat menangkap gambar di tempat yang redup.”
“Kamu sih niatnya ingin meliput saja, nanti kamu jadi bagian publikasi saja di bem.”
“Oh itu memang niat saya dari awal bu!”
“Jadi bukan untuk jadi ketua?”
“Ya, ibu urusan jadi ketua mah tergantung kesepakatannya. Sekali-kali menjadikan bem untuk memberdayakan anggotanya bukan untuk mengurusi orang lain.”

“Oh, ya sudah kalau ada yang mau ditanyakan mengenai apapun jangan sungkan konsultasi sama ibu. Nanti ibu atur kalau ada yang ibu enggak tahu.”
“Siap bu,”

Sepanjang perjalanan ini aku disibukan dengan obrolan ringan dengan bu Astri, semoga dengan ini perjalanna ke bumi perkemahan cepat sampainya.

“Oh, ya bu, ibu alumni kampus ini kan?
“Benar, kamu tahu darimana?”
“Kasih tahu ga ya?”
“Ngejengkelin banget sih kamu,”
“Aku lihat dari album kenangan abangku, ibu ada dalam photo itu.”
“Sebenatar, siapa nama abangmu?”

“Mas Fian, bu.”
“Fian-Akuntansi itu? Ia ikut BEM, kan?”
“Ya, bu. Fian Barata Hermawan”
“Bagaimana kabarnya? Lama tidak ada kabarnya setelah pelantikan itu.”

“Mas Fian dikabarkan meninggal bu, ..”
“Meninggal, tidak mungkin ..”
“Tepat di bumi perkemahan yang akan kita datangi ini ..”
“Tidak mungkin ..”

Apa berita itu tidak masuk kampus ya? Padahal itu sudah lama. Sejak aku masih duduk di SMP. Abangku, hilang tepat di gunung itu. Ketika ia aktif dalam pecinta alam. Keluargaku sudah mempercayakan sepenuhnya pada polisi dan tim SAR. Dan mereka mengerahkan pasukannya di area gunung Aon. Hanya saja tidak ada hasilnya. Sudah lama sekali; dan keluargaku mengikhlaskannya sedikit demi sedikit.

Aku tidak tahu kenapa bu Astri yang notabene kawan angkatannya; tidak tahu menahu akan ini.
“Kukira abangmu, pindah kampus dan tak pernah memberi kabar, Mitha. Ibu turut menyesal dan berduka cita. Kenapa baru hari ini tahu dan itu dari kamu. Harusnya ibu tahu sejak dulu; dan tidak pernah menyalahkannya; kenapa ia menghindari ibu kala itu. ..

“Ibu dan abang?”
“Ya, Mitha, selepas pelantikan kami kenalan. Meski berbeda jurusan. Kami dipertemukan. Ia pemilik senyum yang manis. Aku tak pernah tahu kalau Fian Barata Hermawan itu abangmu." Bu Astri menyeka air mata dengan tangannya. "Hermawan. Ya, nama itu yang mungkin mendekatkan ibu denganmu. Kau tahu mitha, ibu benar-benar menyesal telah membencinya selama ini ..”

Aku memeluk bu Astri. Aku tak tahu mengapa harus melakukan ini, andai saja abangku masih ada mungkin saja bu astri jadi kakak iparku sekarang.

“Maafkan ibu telah begitu banyak bercerita, sehingga tak bisa mengendalikan diri. “ Bu Astri menyeka air matanya. Dan aku memberikan tisu yang bisa kugunakan untuk membersihkan kamera.

“Terima kasih, mitha.”

Tuhan biarkanlah rasa ini menjadi nyata. Biarkan terjadi entah bagaiman caranya bu Astri harus jadi kakakku.

(Lima Tahun Yang Lalu)

Perjalanan kali ini seperti ada yang berbeda. Entah ada apa nantinya. Tuhan kenapa engkau memberiku anugerah seperti ini. setiap kali bermimpi aku bertemu dengan laki-laki bermata merah itu. apa yang kau isyaratkan padaku?

Gadis-gadis muda sudah bersiap mengikuti perjalanan. Bangku bus depan sudah terisi. Tas-tas besar untuk rekreasi sudah mereka siapkan. Ah. Mereka sungguh berjiwa muda.

Dulu aku adalah alumni sekolah ini. tapi tak pernah ada perekrutan anggota bem seperti ini. tapi rasanya ini seperti pernah terjadi. Tapi tak ada bukti. Bahkan aku sakit waktu itu.

“Bu, mari duluan!” sosok yang pernah kukenal.
“Oh, ya silakan!” balasku.
“Sebentar, sepertinya kita pernah kenal?”
“Saya mahasiswa bu, tapi memang tidak diajari ibu.”

“Oh, fakultas apa?”
“Ekonomi.”
“Oh, iya silakan.”

Disela-sela kebingungan aku menemukan lagi sosok yang mengingatkanku pada seseorang di masa lalu. Apakah dia, ah bukan. Aku terlalu mengingat sosok itu sehingga siapapun yang mirip dengannya kusangka dia.

“Bara ..” aku menyebut nama lelaki yang pernah membawa hati ini. Sebutan kecilku dan tak ada yang memanggilnya selainku.

Laki-laki yang pernah mengisi kesepian dikala sendiri; dan memberi kebahagiaan dalam keramaian. Lelaki yang baru pertama kali bertemu. Pacar? Ah bukan. Entahlah ia tak sempat mengatakan bagaimana hubungan kami. Dimana pun ia berada aku sungguh rindu kebersamaan itu.

Lima tahun yang lalu. Adalah waktu yang sangat ingin kuulangi. Sewaktu aku kuliah dulu.


Halaman Selanjutnya : 12345678|

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.