Cerbung - Catatan Terakhir - #4Surya


“Baik pak!”

Meeting kali ini masih saja membicarakan hal ini. Sampai hari H pun perbincangan masih seperti ini. dari mulai membicarakan materi pra pelantikan, perjalanan, konsumsi dan sebagainya. Kalau saja pihak universitas memeprcayakan semua ini pada kami dan cukup menyuntikan dana saja tidak perlu ikut dalam panitia pasti tak ada rencana yang diubah.

Pihak universitas memilih jalan tercepat untuk sampai ke bumi perkemahan. Katanya para mahasiswa harus segera berkuliah dan tak ada acara liburan panjang setelah pelantikan. Lebih cepat lebih baik. Katanya.

Kami sudah memperjuangkan aspirasi mahasiswa untuk diberi waktu satu dua hari untuk beristirahat sebelum masuk kuliah lagi. tapi katanya itu hanya akan membuat mahasiswa manja. Katanya lagi ini pelantikan anggota bem. Jadi harus ada contoh kongkrit bagi adik-adiknya yang lain.

Aku sudah memposiskan panitia di beberapa titik. Tiga orang bertugas mendampingi satu bus. Ditambah dua orang dari phak universitas. Lima orang untuk berangkat lebih awal ke tempat lokasi. Untuk mempersiapkan tempat pelantikan dan acara yang telah direncakana. Sepuluh orang bertugas mengurus dan membantu di beberapa tiitk yang telah ditentukan.

“Kak Surya, bus satu sudah berangkat. Hanya satu orang yang belum datang. Panji.”
“Anak, pecinta alam itu. suka semaunya saja. biarkan saja nanti ia masukan saja ke bus dua.”

Aku kembali pada kelompokku untuk melaporkan kegiatan hari ini. pihak universitas dan dosen sebagian ada yang ikut bus pertama. Sebagian lagi disebar di bus lainnya.

“Bagaimana kegiatan hari ini, surya?” Pak kepala dosen menyapaku dan aku menciumi tangannya tanda hormat.
"Lancar pak, bus pertama sudah berangkat lagi. sebagian orang kita sudah masuk didalamnya dan sebagian panitia sudah berangkat lebih awal.”

“Cuacanya sepertinya tidak cerah ya.”
“Benar pak. Tapi kami sudah mempersiapkan segalanya. Dan peserta sudah diintruskikan membawa ponco dan baju hangat seklaian.
“Bagus, bapak tungu di lobi jika mau berangkat ya!”

Hiruk pikuk mahasiswa yang belum kebagian tempat duduk; mengaduh bikin ribut. Tidak ada yang benar-benar dewasa dalam urusan memilih tenpat duduk. Ada yang mau didepan; dibelakang malah ada yang mau berdiri saja. Susah diatur.

Andai saja ada satu orang yang bisa kupercayai untuk mengadu. Tak ada. Semua orang kunilai sama. Jika kubilang sesuatu dan itu rahasiaku; atau tidak boleh ada yang tahu. Esoknya berita menjadi laku. Pun tidak ada orang yang benar-benar serius dalam melakukan pekerjaan; harus aku yang mengawasi, kalau bisa aku yang melakukan sendiri.

“Surya, kalau bisa anak-anak di bagi menjadi beberapa kelompok ya!” Salah satu dosen yang ikut aktif memberikan data mahasiswa. “Terserah kamu mau dibagi menjadi berapa kelompok.”
“Tapi pak, ini sangat mepet. Apa nanti saja setelah kita turun dari Bus?”

“Secepatnya dong, Sebenarnya kalian meeting ngapain aja?”
“Ada juga pembagian regu, tapi nanti diacak di lapangan.”

“Ide dari siapa itu?”
“Itu keputusan bersama, Pak!” Surya mulai kerepotan dengan dosen satu ini, ikut meeting saja tidak tapi mulai berkoar sewaktu pemberangkatan.

“Ya sudah, tapi nanti jangan seperti itu. Terkesan kurang professional. Bagaimana mungkin kalian bisa memutuskan hal yang mudah seperti ini!” Lalu ia pergi berlalu tanpa ada rasa bersalah sementara Surya terdiam kaku, menahan rasa yang sudah tidak dapat dibendungnya.

“Jangan diambil hati, Surya!” Bu Astri datang mengambil beberapa peralatan P3K dan buah-buahan. “Tolong bantuin ibu bawa barang-barang ya!”

“Sebentar bu, saya panggil bagian Akomodasi!”
“Tidak perlu lah, hanya sedikit koq. Ayo sebentar saja koq!” Bu Astri seolah-olah menenangkan tapi membuatnya bertambah gusar.
“Baiklah bu.”

Surya menutup tirai Bus, ia tidak pernah lega sebelum acara ini benar-benar selesai. Dalam hitungan detik pasti ada yang memanggilnya.


Halaman Selanjutnya : 12345678|

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.