Kota yang Bercahaya Ketika Malam



Lampu yang menyala di tengah kota, terkepung ribuan nyawa orang yang tak bersalah. Badai energi menyapu seluruh makhluk hidup, menyalakan radiasi sehingga pembunuhan missal terjadi.

Kota hantu, kota mati dan kota yang diisolir. Tak seorang pun datang berkunjung atau menginjakan kaki. Siang hari bagaikan hari kiamat. Porak poranda. Sampah sisa bangunan yang berterbangan, sisa pembakaran dan puing-puing gedung pencakar langit, bangkai mobil dan jasad yang belum di temukan. Sepi tidak akan kau temui makhluk hidup yang bertahan.

Sedangkan Malam hari bagai kota ulang tahun, cahaya gemerlap di tengah kota. Lampu-penerang jalan berdisko dengan serentak, petasan dan kembang api bersusulan menyentuh langit. Hingar bingar di malam puncak, berduyun-duyun manusia datang mengenakan pakaian mahal bak tahun baru-an. Mengenang kejadian ‘49.

Aku ada di sana, menikmati jalanan sepi lalu bertamu pada orang-orang sekitar. Tak ada jam tidur, dan tak ada rasa kantuk sedikit pun. Menikmati jajanan pinggir jalan, gratis bagi yang berkunjung. Swafoto dan saling mengirim gambaran. “Ran, kita berfoto kesana, sekalian lihat baju mode terbaru.” Timku mengambil langkah seribu dan bergegas takut ketinggalan. Malam ini aku punya target menghabiskan uang bulanan.

Dalam langkah kaki, aku lihat sosok perempuan berbaju pendek tertunduk dan berjalan lurus ke depan. Di tangannya tergantung kamera. Langkahnya sangat pelan, seperti maling takut ketahuan. Wajahnya tertutup topi dengan rambut diikat ke belakang panjang, wajahnya pucat benar. Ia melihatku diantara riuh pesta.

Dalam keramaian tak kulihat ia berjalan, menghilang.

Pesta semalam membuatku pening dan tertidur pulas. Dalam tidurku aku melihat perempuan itu berjalan ke arahku dan tak kulihat wajahnya tersenyum. Lalu ia mengambil pistol dan menembakkan peluru ke arahku.

Hingga ku terperanjat terbangun. Sial, wanita semalam yang kulihat, sengaja mampir di otakku.

Dalam lamunan sepi wajahku, kutuliskan Sesuatu dalam netbook. Aku penasaran siapa yang aku lihat semalam. Kamar aku matikan kembali. Tidak ada yang berani keluar pada siang hari. Udara sangat terik dan debu berterbangan menimbulkan penyakit.

Aku dan tim lainnya adalah seorang pelancong, aktivitas yang sangat menyenangkan. Kami bisa berkeliling dunia meliput beberapa tempat dan wisata yang indah.

Sial. Aku belum menyiapkan cadangan makanan. Aku terpaksa harus keluar dari apartemen dan menelusuri jalanan yang lengang.

Bangkai-bangkai mobil, Koran-koran bekas di seluruh kaca dan jendela. Aku berjalan menundukan kepala, melindungi dari sengatan panas matahari. Terkadang siang hari biasanya ada mobil polisi yang berpatroli.

Sampailah aku di supermarket mall. Aku membawa keranjang dorong dan membawa apa saja untuk persediaan makan. Aku sudah berniat untuk mengambil barang sebutuhnya saja, jika habis tinggal ambil. Toh, pada siang hari tidak ada manusia yang berjaga.

Sosis sebatang dimulutku, kukunyah sambil memainkan game online di lantai tiga. Kuambil sendiri koin yang ada di meja kasir.

“Siapa kamu?” Seseorang memergokiku sedang asik bermain. Seorang polisi wanita mendengarkan suara game onlineku. Sial aku lupa mematikan sound-nya. “Mengapa kamu bisa berada di kota ini?”

“Aku tinggal di apartement itu!” Aku menunjukan gedung yang setengahnya terbelah, hancur. Aku lupa tidak membawa identitasku.

“Angkat tanganmu, dan masuk ke dalam pintu mainan itu!” Polisi wanita itu memenjarakanku di tempat permainan. Wajahnya pernah kulihat. Ya ia yang kulihat semalam.

“Jangan mendekat dan banyak bergerak, aku akan kembali lagi.” Ia mengunci pintu dan membiarkanku terperangkap dalam kotak permainan yang sempit.

Polisi itu pergi, seperti memanggil seseorang di luar sana. Aku tidak mau berlama-lama disini. Aku harus segera pergi sebelum malam datang.

Mayat-mayat merayap dari lubang bekas bom di tengah kota, merangkak dari tempat persembunyiannya dan kembali berjalan seperti manusia biasa menuju tempat mereka semula. Mereka yang bekerja kantoran akan menuju gedung dan akan merapikan pakaiannya. Malam hampir datang dan mereka berjalan menunduk.

“Mas Ran, sudah makan?” seseorang mengetuk pintu apartemenku. Seorang bocah laki-laki penghuni apartement memberiku makanan. “Ini ada sedikit makanan dari ibu!”

“Terima kasih!” Aku mengusap rambutnya. Sangat bersih dan harum. Jelas ia memang manusia, tidak ada bau-bau mayat sekalipun. Aku melihat makanan yang dibawanya. Jelas ini, makanan yang aku bawa dari supermarket tadi.

“Sampaikan terimakasihku, pada ibumu ya!”

“Nanti malam ikut lihat pawai ulang tahun kota ya!” Ajaknya. Sangat manis anak ini.

“Iya!” Aku jongkok menyamai tinggi tubuhnya. “Aku mau tahu, Apa kau ingat siang hari kamu dimana?” Aku mencoba menebak jalan pikiran anak itu.

“Di sekolah, kak. Aku kan masih kelas tiga!” matanya melihat ke atas. Mungkin saja ia akan sadar, jika ia bukan lagi manusia. Tapi ia dan semua warga terus mengulang kejadian sejak tahun ’49.

Malam bergemintang, riuh warga turun ke jalan. Pesta perayaan Ulang Tahun Kota Metropolitan digelar. Aku menikmati sajian pawai dan makanan di tepi jalan.

Hingga pada hitungan ketiga. Pukul dua belas tepat, terompet dan kembang api meletus di udara. Dan tidak ketinggalan bom nuklir terulang kembali, menghapuskan kehidupan kota. Orang-orang tetap bergembira di jalanan. Sementara kulit dan dagingnya mengelupas, rambutnya berjatuhan dan kuku-kukunya terlepas. Mereka bagai mayat busuk berjalan. Dan mereka tidak menyadari keadaan mereka, sampai matahari terbenam dan mereka akan kembali ke dalam lubang bom.

“Mas, Ran. Mau sosis ini?” Adik kecil itu menawariku sosis. Aku kaget yang diberikannya bukan sosis tapi organ intim pria. Dan ia menggigitnya, terlihat wajahnya mengelupas, meninggalkan tulang dan gigi yang saling berbunyi. Gemeretak.

Walau seberapa seringpun melihat kondisi menjijikan dan menakutkan seperti ini, tetap saja mengagetkan.

"Mas tolong bungkus sosisnya, buat esok pagi."


Agus Sutisna
Agus Sutisna

Ini adalah biografi singkat mengenai penulis; Ia mudah terbawa angan-angan sehingga terlihat diam dan mematung. Justru disanalah ia mengumpulkan dunia imajinasinya. Selebihnya ia sangat tampan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar