Kiamat Kecil Tulang-Tulang (Extended)



Siapapun yang ada di dalam bus itu terbakar. Tidak ada yang bisa mengatakan kebenarannya. Selalu saja seperti itu. Tidak ada catatan criminal. Tidak ada penjelasan. Semua berakhir sebagai takdir dan kecelakaan semata.

Lusa Riuda akan pergi ke gunung wisata bersama seluruh team basketnya, melepas lelah sekalian merencanakan perpisahan kelas tiga. Ketua Team basket, Jian mengusulkan untuk membawa semua teman-teman sekelas saja agar suasana pegunungan terasa seperti di kelas.

Salah satu teman yang memiliki kendaraan, mengusulkan untuk memakai mobilnya. Tapi teman-teman yang lain menolaknya. Dengan alasan terlalu sempit dan menyusahkan keluarganya.

“Ini acara kita, jadi sebisa mungkin tidak meminta pertolongan dari orang luar apalagi keluarga.” Jian didukung oleh yang lain.

“Kita akan menyewa Bus saja.” Dan mereka bersepakat.

Hujan malam itu membuat Riuda tidak nyenyak tidur, entahlah. Ada rasa khawatir dengan keberangkatannya kali ini. Ia memutuskan untuk membangunkan Annia teman perempuannya.

“Ada apa nih malam-malam ngebangunin?” Annia dengan suara berat akibat ngantuk luar biasa. Sesekali ia menguap dan mengucek matanya.

“Aku tidak bisa tidur, ada yang ingin aku sampaikan.” Riuda menahan nafas dan terdengar dari gemuruh suaranya. “Besok aku akan pergi ke Gunung, bersama teman.”

“Jangan bilang ke gunung wisata ya? Bahaya Ri, kemarin saja terjadi longsor.” Mata Annia terbelalak, mana kala sebelumnya membaca cerita Ahool – Makhluk Mithologi di gunung Salak. Tapi ia pendam saja, toh itu hanya cerita narasi fiksi dalam sebuah blog.

Sementara Riuda masih saja mengoceh alasan kenapa ia harus ikut. ‘Tidak solider’ adalah salah satu garis pemutus diantara teman-teman SMKnya.

“Ya, mau gimana lagi, dasar cowok, susah kalau dikasih tahu!” Annia memukul boneka pemberian Riuda sewaktu pergi ke pasar malam yang lalu.

“Kamu mau ikut enggak?” Ajak Riuda diseberang sana. Meski tidak terlihat ekspresinya Annia tahu kalau Riuda tidak benar-benar mengajaknya. Mana mungkin ia diajak sementara teman-temannya laki-laki semua.

Annia duduk di kasur dengan boneka pemberian Riuda. Boneka itu tersenyum lebar. Sementara matanya sedikit bercahaya karena berada di tempat gelap. “Aku punya firasat buruk tentangnya.” Bisiknya pada boneka itu lalu menutup teleponnya.

Malam kembali mengatur siasatnya agar kembali tergulung fajar, bagaimana mungkin secepat itu bergulir sementara Riuda belum sepenuhnya tidur tadi malam. Wajahnya terlihat pucat. Darahnya berkurang digigit makhluk malam.

“Nak, ajak teman-temanmu sarapan di dalam.” Ibu memanggil Riuda dari dapur. Terlihat sibuk mempersiapkan bekal. Sementara adik perempuannya dengan kesusahan membawa tas ransel besar untuk kakaknya.

Wajah opal lembut keibuan menurun langsung kepada Riuda yang tampan. Terkadang terlihat menggemaskan manakala ibu dan anak sedang duduk di meja makan. Kedekatan mereka terpupuk sejak ayah mereka meninggal.

“Kalian sarapan dulu ya di rumah tante.” Ibu Riuda menyajikan sarapan di meja makan yang sudah dikepung oleh teman-teman Riuda. “Maaf makanannya ala kadarnya.”

“Ah, tante. Maaf merepotkan terus.” Hormat Rafi sambil menyambar ayam goreng dengan segera. “Masih panas tante.” Gelak tawa terdengar dari seluruh teman-teman Riuda.

“Titip Riuda ya, Fi.” Sang Ibu sambil memeluk Riuda berpesan pada Rafi. Ia juga sudah seperti keluarga di keluarga Riuda. Bahkan terasa seperti anaknya.

“Bun, Ri pamit dulu ya!” Riuda memasukan tas bawaanya pada Bus sewaan. Sementara teman-temanya sudah ada di dalam Bus. Rafi turut serta membawakan bawaan Riuda. Mereka meninggalkan Ibu dan adik perempuannya.

Jalan yang berkelok membuat suasana semain riuh penuh canda. Siswa laki-laki semua membuat kegaduhan yang luar biasa. Ada saja yang mereka ulahkan. Jangan kau hiraukan bau keringat. Mereka adalah biangnya. Team basket sekolah harus tetap jaga kesehatan, dan sekuat mungkin jauhi narkoba, rokok dan minuman beralkohol.

“Ri, aku minta keripik yang tadi.” Rafi yang satu kursi dengan Riuda mulai merasa kelelahan dan kelaparan. Perutnya yang besar masih kuat menampung segala macam makanan.

Bus berhenti, candaan mereka terhenti. Mereka lupa seseoang dari kelas mereka. Seseorang yang tidak satu kegemaran, seseroang yang tidak sempat berkumpul waktu makan siang dan istirahat kedua. Teman mereka yang rumahnya paling jauh. Anak yang sering dibully di sekolahnya karena sering berbicara sendiri. Ia naik bus dengan kesusahan. Terlihat dari tasnya yang besar. Matanya melihat ke arah sekitar. Tapi kursi yang terisa hanya di belakang. Dengan perawakan yang sangat kurus itu, ia kesusahan berjalan dalam Bus yang bergerak pelan.

Riuda berdiri dan melambaikan tangannya.

“Ngapain sih Ri, biar saja ia duduk sama yang lain!” Rafi merasa terganggu. Kedekatan mereka mulai terusik dengan kehadiran anak tersebut.

“Kursinya juga masih ada satu. Kan bisa kita bertiga disini, lagian kasihan juga.” Riuda terus saja melambaikan tangannya. Tapi anak itu tidak melihatnya. Anak itu sibuk tertunduk melihat satu persatu kursi di depan. Mungkin kaca matanya mengganggu pergaulannya.

“Hei, bocah. Ayahmu yang gila itu apa kabarnya? Katanya kiamat akan segera datang ya?” Satu orang teman Riuda yang suka bercanda kali ini menghadangnya. Jhony, tubuhnya yang besar membuat apa yang ia katakan terasa serius meski ia sedang bercanda. Dan ya bisa ditebak, anak berkaca mata itu makin menunduk.

Merasa tertekan oleh keadaan yang meski sebenarnya hanya sederhana. Entahlah. Emosinya terlalu buruk pagi ini. Ia yang tidak pernah bertindak ceroboh kali ini, entah disengaja atau tidak ia mendorong Jhony yang agak besar tubuhnya. hingga ia terjungkir ke atas pangkuan teman yang lain.

Merasa direndahkan Jhony naik pitam. Didorongnya pula dengan keras sampai terpelanting ke dekat supir. Kegaduhan mulai terlihat di depan.

“Sialan. Mengganggu saja!” Pak supir dengan sederetan kata-kata najis keluar dari mulutnya. Apa sebab, tingkah mereka sangat memuakannya. Membuat laju kendaraan menjadi oleng.

Anak itu matanya merah, sesekali ia seperti merafal mantra. Mereka yang sedari tadi menonton mulai hening. Mereka melihat sesuatu yang seharusnya tidak terlihat. Dua makhluk tinggi hitam muncul dari bawah bus. Mengerikan, matanya memicing tajam dan tersenyum menyeringai.

Siapapun yang punya jantung cepat sembunyikan, mereka akan mengambil secara acak organ-organ intim dari korbannya. Sampailah salah satu dari mereka menuju kursi Riuda. Duduk dipangkuannya, menyeringai. Menjilat wajahnya.

Sementara Rafi menoleh dan memperlihatkan giginya yang tanggal satu persatu. Ia menangis dan sekuat tenaga menjerit tapi terlambat lidahnya tertarik oleh tangan besar makhluk hitam tersebut.

Makhluk itu hampir menghabiskan sebagian tubuh Rafi.

Disampingnya Riuda terpaku, tangannya bergetar, jantungnya cepat sekali berdetak. Mata bertemu mata, wajah bertemu wajah. Makhluk itu menjilat telinga Riuda. “Kau mau melihat yang lain?” Bisiknya.

Makan malam bagi makhuk yang lapar. Daging yang terpanggang, kekar di makan api dari bus yang terperosok jurang. Tidak ada yang selamat, selain Jantung yang masih terikat.

"Tolong, hentikan!" Riuda mencoba memanggil anak itu. Tangannya mencoba meraih kaki anak yang sedang merafal mantra. Sementara makhluk itu menyeretnya. Ia melihat kulit, tulang dan organ dalam teman-temannya sudah tertumpah.

Anak itu berhenti merafal mantra. Ia jongkong menatap wajah Riuda yang mengkhawatirkan. "Tolong, aku tidak pernah berbuat jahat padamu." Riuda makin memohon dengan tangis yang menyesakkan. Anak lelaki mana yang menangis selain pada hal-hal yang penting.

Anak itu memegang lembut wajah halus Riuda. Dengan kedua tangannya yang seakan-akan ingin menciumnya. "Kamu pun tidak pernah memanggil namaku. Bahkan tidak ingat siapa namaku. Bagaimana mungkin kamu berbaik hati padaku."

Ketika makhluk itu hendak mencopot satu persatu organ tubuh Riuda. Anak tersebut menghentikanya.

"Jangan sakit dia!" Sepasang makhluk itu saling berpandagan, menggelengkan kepalanya. mengacuhkannya.

"Hentikan!" Sekali lagi ancaman anak tersebut menghentikan aksi mereka. Dengan langkah mundur makhluk itu beralih pada organ tubuh teman-teman yang lain.

"Terimakasih!" Ucap Riuda. "Akan aku lakukan apapun untuk menebus kesalahankku." Janji seseorang yang hendak mati memang selalu begitu.

Anak itu tersenyum. "Aku ingin menukar ragaku padamu." Ia tersenyum menyeringai, mengelus-elus wajah halus milik Riuda. Pria tinggi kekar, pemain basket team sekolah. Dipuja wanita, digilai para fans dan disanjung kaum lelaki. Mana mungkin ia tahan membayangkan dirinya berada pada raga Riuda.

"Kau tebuslah kesalahannmu." Anak itu kembali memejamkan matanya dan merafalkan mantra. Lalu tak lama sepasang Makhluk yang lain keluar dari dirinya dan membantu melepaskan tubuh dari Riuga dan memasangkannya pada anak tersebut.

Tulang berganti tulang. Darah berganti darah. Jantung berganti jantung. Transfusi jiwa sedang berlangsung. Seluruh alam akan mengutuk perbuatan mereka. Api neraka akan mengaburkan penderitaanya. Hina sudah jiwa yang berambisi menjadi orang lain.

Agus Sutisna
Agus Sutisna

Ini adalah biografi singkat mengenai penulis; Ia mudah terbawa angan-angan sehingga terlihat diam dan mematung. Justru disanalah ia mengumpulkan dunia imajinasinya. Selebihnya ia sangat tampan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar