Cerpen - Kabut Biru dan Pelindung Kota yang Hilang

Senang rasanya bisa bertemu teman-teman lama di kampung. Meski bukan hari lebaran tapi mereka dapat dihubungi. Sore itu aku duduk-duduk manis menyelimuti pundukku dengan syal pemberian kekasih di kota, Lusy. Membakar tembakau dan membuat lingkaran-lingkaran baru di udara. Telah lama aku tinggalkan kebiasaan buruk ini, namun entah mengapa ada segelumit rasa menarik kala menghisap segumpal asap.

“Mas Bras, kangen aku!” Seseorang yang kukenal tiba-tiba memeluk dari belakang. “Sudah berapa hari di kampung?”

Aku memeluknya kembali, lebih erat. Mamat teman sepermainanku kala masih sekolah. Matanya yang tajam tetap sama dari waktu ke waktu.

“Sudah menikah?” Mamat kembali menekan ulu hati. Entah ulu yang lain lagi. Rasanya pertanyaan ini hanya ada di kampungku saja. Semenjak aku tinggal dan berkarir di kota Metropolitan, jarang sekali bahkan tidak ada yang berkata serumit itu. Kebanyakan berbicara karir, jabatan dan uang bonus tambahan.

Sepertinya hanya aku satu-satunya pemuda yang tiada berjodoh dengan wanita manapun. Lain halnya dengan kekasih, bisa tidak terhitung jumlahnya sesuai tempat penugasan.

“Ku dengar kau sudah jadi orang besar di kota ya?” Mamat mengalihkan pertanyaan lain. Entahlah. Mungkin ia tahu betapa sulitnya pertanyaan itu bagi orang yang tidak punya komitmen sepertiku. Sementara ia bulan depan mau bertunangan dengan perempuan satu kampung.

Rasanya aku terlalu banyak monolog dengan diriku sendiri. Dan melupakan bahwa aku belum benar-benar member jawaban lisan baginya.

“Aku ajak sekarang ke tempat yang dulu pernah kita jelajahi, namun sekarang kau pasti terkejut.” Ia berhenti membuat pertanyaan dan mengajakku serta ke suatu tempat. “Kau pasti takjub hari ini.”

Malam datang dengan setengah kegelapan, setengah terang benderang. Bukan dari lampu-lampu pasar, bukan pula dari damar dan bintang yang melingkar. Tapi dari suatu bangunan di tepi hutan.

Jalan setapak yang pernah aku lewati sejak kecil. Kini tak Nampak lagi. Tertutupi oleh semak belukar dan pohon-pohon besar. Rumah-rumah penduduk tidak ada yang dibangun di sekitar hutan. Kata Mamat mereka menghindari segala macam bencana dan maksiat.

Kami membawa obor yang disumpal kain, bermandikan minyak tanah. Sama persis ketika aku mengaji dulu. Ah, rasanya aku terlalu murtad untuk menghapal barisan huruf-huruf itu. Sudah lama aku tidak mendengar bahkan membacanya dari mulut seseorang. Mungkin benar ibu kota telah meninabobokan anak kampung menjadi seorang putri tidur. Lupa akan kematian. Lupa akan bekal di hari akhir.

“Sudah sampai!” Katanya sumringah, tapi ditahannya kalimatnya. Pelan-pelan ia berbisik padaku untuk meniupkan api supada padam. Dan aku menutup dengan kedua tanganku. Aku sudah lupa bagaimana cara mematikan obor.

“Kau sudah banyak berubah, Bras!” Tebak Mamat. “Kehidupan macam apa yang telah membentukmu, begitu getirkah hidup dalam bingkai seorang petugas keamaanan di kota?”

Aku hanya tersenyum sebentar saja. Tidak tahulah Mamat, selama memutuskan untuk masuk di akademi militer. Tidak ada barang sebentar pun untuk bisa kesenggangan kenikmatan. Sebelum menjadi pangkat tertingi, maka hidupmu bagai pion-pioin catur yang harus siap dimakan benteng, patih dan kuda.

“Apa itu Mat?” Aku takjub akan apa yang kulihat. Selepas kupadamkan obor di tanganku. Kegelapan malah menghilang dan sirna. Kini terangkap oleh mataku segumpal cahaya dari suatu lembah di tepi hutan. Bangunan atau apapun itu tidak terlalu jelas ditangkap lensa mata.

“Bisa bersuara juga kau Bras!” ledeknya. “Itu adalah phenomena terbesar di kampung ini, warga sementara tidak diperbolehkan untuk mendekati area ini. Sebelum tahu apa yang terjadi.”

Kami mengendap-endap mendekati bangunan tersebut. Bukan pesawat luar angkasa. Tapi lebih besar dari itu. Aku merasa ada kehidupan baru di dalamnya.

“Suatu hari kami diguncangkan oleh gempa bumi. Diperlihatkan bintang jatuh mengarah ke bumi. Dipekeruh dengan munculnya kabut biru yang menghisap nyawa-nyawa kami.” Terangnya.

“Maksudmu, benda ini menelan korban?” Aku makin penasaran dan kudekati benda tersebut dari dekat. Hampir sebesar gelanggang arena sepak bola luasnya. Jika kau lihat ditebing mungkin terlihat seperti piringan makhluk angkasa. Tapi disini dengan kedua mataku. Aku bisa melihat hal yang tidak masuk akal. Bagaimana mungkin jatuhnya pesawat luar angkasa sebesar Gelora Bung Karno, tidak diketahui oleh kepolisian setempat.

“Sudah ada yang melaporkan, Mat?”

“Kala itu seluruh energy listrik mendadak mati, internet terputus dan selama satu bulan kampung kami ditinggalkan penghuninya.”

“Dan kabut biru itu?”

“Ia yang membawa kami kemari, menculik wanita-wanita dewasa dan menelan pria dewasa ke dalamnya. Entah kabut itu seperti penyedot debu. Sangat kuat tarikannya. Bahkan kau tidak akan menyangka butir-butir indah berwarna biru itu mempunyai kekuatan yang luar biasa.”

“Bagaimana mungkin kau bisa selamat dari itu semua?”

“Entahlah, aku ditolong seseorang.” Ia menghapuskan nama seseorang. Dan aku tidak menanyainya secara detail. Biarlah orang itu menjadi dewa penolong baginya.

Aku mengetuk ponsel di genggamanku. Menekan seluruh pembicaraan dan melaporkan pada atasan. Aku pikir benda ini yang dicari Genetic Corporation dan Tim Militer di kota. Tugasku hampir selesai.

“Kau mau kemana, Bras!” Mamat menahan langkah kepergianku.

“Aku akan kembali ke kota.”

“Tidak ada yang boleh melaporkannya ke kota. Kami sudah diselamatkan untuk tidak mengganggu tempat ini.” Cepat ia berkata.

“Terlambat, aku sudah mengirimkan pembicaraan kita ke pusat kota, sebentar lagi Tim dari Kota akan datang mengevakuasi tempat ini.” Aku melengos pergi.

“Sialan kau Bras!” Ia hampir menghujamkan pukulanya ke dadaku, jika tidak ku menghindar secepat gerakanku.

“Aku pikir kau temanku, kau sama saja dengan orang-orang kota yang mengeruk kekayaan daerah!” Hentaknya. Entahlah ia membicarakan hal yang mana. Tugasku sudah selesai.

“Itu masalahmu, Mat. Aku sudah tidak ada kaitanya lagi dengan kampung ini. Kau tahu, kampung ini sudah tidak ada dalam pengawasan kota Metropolitan dan namamu, ya. Kau dan semua warga disini, sudah dianggap mati oleh warga Metropolitan yang baru. Jadi percuma saja kau mengajukan kehidupan dan semua ceritamu tentang dewa penolong. Maafkan aku, aku harus pergi!”

Dari langit terdengar gemuruh angin dari baling-baling helicopter. Pesawatku sudah datang menjemput. Sebuah tangga otomatis, turun dari pesawat dan aku memegangnya kuat.

“Pilihan ada padamu, ikut aku atau bersama Kabut Biru-mu itu. Kemarilah!” Aku memberikan tanganku malas-malasan. Antara ajakan atau basa-basi saja. Aku sudah tidak punya waktu lagi.

Mamat terdiam dan terdiam. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Lantas Kabut biru yang ia maksud tiba-tiba turun dan mendekati kami, sepertinya kabut biru itu tidak terpengaruh hokum fisika. Sekeras apapun angin yang dibuat oleh baling-baling, tidak membuatnya menjauh.

“Pak, gawat, system penerbangan kita terganggu.” Salah satu awak pesawat gugup mengalami hal yang tidak masuk akal. Cepat cepat aku member perintah untuk menjauh secepatnya.

Aku melihat Mamat masih dibawah sana, ditangannya terkepal bubuk berwarna biru. Ia meremas-remasnya. Anak itu sudah berubah, dia bukan lagi manusia. Mereka semua telah terinveksi.






Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.