Jonathan Lee dalam Pelukan Kapsul Pesawat. Monolog.


Pesawat kami mengalami gagal mendarat. Salah satu roda pesawat terkilir. Percaya? Itu yang dikatakan Kapten Hans Mdade. Dan aku entah kenapa selalu percaya padanya. Aku anak baru di militer. Ditugaskan oleh Clan untuk belajar kepadanya. Ada hal yang mungkin aku juga kurang suka padanya. Ketiaknya.

Aku memiliki kulit cerah. Dan apa artinya. Aku mampu bersembunyi ditempat terbuka sekalipun. Percaya? Aku punya garis keturunan Saman. Sedikit-sedikit aku mampu mencoba meramal. Memang kadang suka salah. Tapi aku mulai memperdalamnya di dunia militer.

Semoga kelebihanku ini. Kelebihan juga untuk orang lain.

Aku orang pertama yang terbangun. Biarpun aku orang asia. Tapi kesadaranku lebih kuat daripada siapapun. Terutama di kumpulan tersesat ini. Asap pesawat masih terlihat tebal. Aku mencoba menyelamatkan satu persatu awak pesawat. Meski diguncang sekalipun, tetap saja tidak ada yang terbangun. Aku kira mereka semua telah mati.

Aku mencari sesuatu untuk ditemukan. Air dan kebutuhan makan. Sungai tidak jauh dari tempatku jatuh. Aku mendirikan tenda dan membuat api unggun. Aku melakukan semua hal yang bisa kulakukan sambil menunggu satu persatu awak bangun.

Satu hari berlalu. Aku tetap tidak menemukan satu orang yang terbangun. Aku tak berani menyentuh mereka. Dalam ketenangan ini lambat laun aku mulai Frustasi. Aku tidak tahu apakah golongan darahku mempengaruhi emosiku.

Dua hari berlalu. Aku masih bisa menahan kesendirianku. Orang-orang yang kuanggap mayat itu kujajarkan dalam tenda. Lalu tidak muat, aku bariskan di lapangan dekat api unggun. Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Maka mulailah aku kehilangan kesadaran. Aku mulai meraung-raung. Mengapa hanya aku yang harus terbangun. Merajuk pada alam dan mulai menelusuri hutan lalu kembali lagi ke tempat semula. Hutan ini mempermainkanku.

Aku mulai merasa lelah. Perbekalan mulai menipis. Dan aku terlelap.Memberi kesempatan pada cacing-cacing untuk mencincang otot dan otakku. Memberi kesempatan pada siapapun yang bangun setelah diriku.






Agus Sutisna
Agus Sutisna

Ini adalah biografi singkat mengenai penulis; Ia mudah terbawa angan-angan sehingga terlihat diam dan mematung. Justru disanalah ia mengumpulkan dunia imajinasinya. Selebihnya ia sangat tampan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar