Cerpen - Tokoh Utama Si Bujang Berdiskusi Tadi Malam

Aku masih banyak rencana untuk melanjutkan cerita Si Bujang. Tapi menurutku itu berlebihan. Bagaimana mungkin tokoh ciptaan itu bisa muncul di setiap lakon cerita? Loncat-loncatan dari setiap naskah layaknya superhero yang bisa teleportasi. Aku memang harus menghentikan sifatnya yang selalu mencampuri urusan orang lain dan semaunya membuat alur cerita.

“Sekali ini saja, Gus. Biarkan aku hidup meski dalam naskah cerita. Kau tidak tahu bagaimana kesepiannya aku akan petualangan-petualangan yang mengejutkan dibelantara otakmu?” Si Bujang mendesakku untuk bernegosiasi. “Aku janji tidak akan terlalu mencuri perhatian pembaca.”

Aku tahu Si Bujang hanya bujang kesepian yang mengalami tindakan kekerasan lingkungan sekitar. Ia hanya ingin keluar dari nasib malangnya dan ingin melanjutkan hidup meski dalam naskah cerita. Bagaimana pun aku yang telah membuat karakternya. Dan bagaimana pun ia adalah gambaran sisi lain dari penulisnya. Aku sendiri tidak begitu percaya diri dan penakut akan sesuatu yang baru. dan Si Bujang mampu melampaui keterbatasan itu.

“Mungkin kita harus bekerja sama untuk melanjutkan cerita. Karena makin hari nuansa cerita ini terasa membosakan dan tidak ada aturan jelas dalam konflik, alur maupun endingnya. Hingga, kau tahulah semua naskah ceritaku selalu saja menggantung di bab ke enam, tujuh atau delapan.” Aku meregangkan otot tangan, pundak dan dada. Rasanya aku mulai terbiasa berbicara dengan Si Bujang.

“Baik, kita mulai dari mana dulu?” Si Bujang seolah berhadapan denganku. Aku membayangkan bagaimana otot mukanya berkerut ketika bertanya padaku. Atau otot-otot tangannya terlihat maskulin ketika mengajakku bekerja sama.

“Sam Folder. Kau tahu ia adalah karakter pertama yang kuciptakan, terdengar aneh untuk nama orang Indonesia. Tapi begitulah ia muncul dibalik cerita ‘Labirin Terkutuk’ lalu bergabung bersama para ‘Kandidat’ untuk menunjukan bahwa manusia itu mempunyai daya imajinasi, daya kreasi, daya energy layaknya superhero, mutant atau pahlawan.” Aku mengambil tempat duduk yang nyaman. Lama-lama mataku perih menatap layar netbook di meja, lantas aku mengalah untuk duduk diatas lantai.

“Aku belum mengenalnya, tidak mudah bagi orang lokal macam aku untuk masuk ke dunia ‘Sam’, seperti memaksakan orang desa masuk ke luar negeri. Ke masa depan yang namanya saja sulit dieja. Sam Folder, Jonathan Lee, Mariah Hasli, Bras Katanji. Siapa mereka sebenarnya? Aku rasa cerita mereka terlampau jauh ke masa depan. Sementara aku (Si Bujang), Rarasati, Malin Kundang, Sang Kuriang, Ciung Wanara, Wayung Hyang dan Situma Hyang adalah tokoh-tokoh yang alurnya mundur ke masa lalu. Bukankah begitu?”

Aku mengiyakan.

“Aku kira Sam dan teman-temannya tetap berada di jalur maju ke masa depan. Dan kau tahu, gus? Itu namanya Science Fiksi. Dan aku tahu kau belum pernah satu buku pun bergenre sci-fi yang pernah kau baca. Jadi menurutku, kau terlalu berani membuat cerita seperti itu?” Si Bujang mungkin benar tapi sungguh membuatku merasa kerdil.

“Tapi ..” Aku ingin mengelak. Memang benar kalau aku bukan penulis yang rajin membaca buku karangan fiksi. Seluruh pembelajaran hanya terpaku pada film-film box office luar negeri. Dan memang berbeda penceritaan dari buku dan film. Aku mengaku kalah.

“Aku terinsfirasi lewat mimpi.”

“Lain kali, kau juga harus menemukan sosok Sam dan harus bertanya langsung padanya.” Si Bujang menutup penjelasannya. “Berbeda saat kau menulis cerita Sang Kuriang dan Ciung Wanara, kau jadi rajin pergi meminjam ke perpustakaan untuk mencari referensi dan keilmuan yang berhubungan dengan tokoh-tokoh dan alurnya. Dan jelas ada manfaatnya. Untuk keinginanmu menuliskan cerita legenda itu sesuatu yang membanggakan.” Si Bujang menepuk pundakku. Aku merasa tersanjung.

“Baiklah sudah jelas sekarang, tokoh yang akan kita bahas adalah kelanjutan dari Ciung wanara atau Malin Kundang. Sebelum aku lupa bagaimana kalau Ciung Wanara kita bawa ke dunia lain, dimana di dunia itu sedang tren/biasa berada tanding hewan mistis. Semacam Naga. Kelak Ciung Wanara menunggang Naga. Aku teringat lagi film Train to Dragon.”

“Cemerlang. Itu ide bagus. Ceritanya agak kekinian. Anak muda pasti suka.” Si Bujang menguap. Pinggangnya pegal-pegal, kakinya kesemutan. “Ayo catat sebelum lupa.”

SAVE.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.