Cerpen - Kemampuan Migrasi Hewan Liar Pertanda Bencana Datang

Beberapa hari ini udara pegunungan sangat panas. Tak lagi seperti biasanya. Embun-embun segera cair sebelum shubuh datang. Kering. Beberapa ramuan tanaman menghilang dari permukaan bumi. Dan beberapa spesies hewan hilang entah bermigrasi atau ditelan bumi. Cuaca sudah tidak lagi bersahabat. Suhu meningkat sampai beberapa deracat celcius. Tubuh tak bisa menahan penguapan yang berlebihan. Tak ada satupun yang mengira jika saya baru berolahraga. Karena keringat lebih dari biasanya.

Selepas mandi dan mencari seragam aku langsung pergi menghubungi bagian petugas pengawas gunung. Berita terbaru mengenai keadaan gunung Agung mulai diperhitungkan. Akhir-akhir ini aktivitas gunung berapi itu mulai terlihat tanda-tandanya mau memuntahkan isinya. Tapi ada yang aneh dari kejadian ini. Yaitu tumbuhan malah semakin sering berbunga dan berbuah. Ahli botani memperkirakan jika telah terjadi pengkondisian cuaca yang mendukung perkembangan tanaman. Tapi yang lebih aneh lagi. Perkembangan bunga dari tumbuhan sekitar gunung tersebut tanpa dibantu oleh penyerbukan serangga dan sejenisnya. Karena semua hewan telah migrasi.

Beberapa data telah diserahkan pada petugas dan diperhitungkan akan menaikan status gunung berapi menjadi waspada. Seluruh area disekitar gunung telah dievakuasi. Semua warga telah ditempatkan di beberapa pengungsian yang lebih aman. Meski ada beberapa warga dari daerah terancam bencana yang masih mempertahankan rumah dan harta bendanya. Maklum hanya itu yang mereka miliki sebagai milik mereka. Jika mereka mengungsi berarti mereka harus memulai dari nol. Sedangkan mereka telah berupuluh-puluh tahun mengumpulkan uang untuk membeli tanah dan sawah.

Di dalam pengawasan gunung berapi, beberapa petugas masih mengawasi aktivitas gunung dan ditempatkan dibeberapa titik dengan menggunakan kamera pengintai dan observasi langsung lewat pesawat heli. Beberapa titik disebar menurut kepentingan. Sebagian warga yang tidak ikut mengungsi masih di awasi.

Inilah diantara alasan warga tidak meninggalkan tanah tempat tinggalnya yaitu karena terjadi musim panen dadakan seluruh tumbuhan. Semula saya tidak percaya akan peristiwa yang bisa dianggap luar biasa. Karen semua tumbuhan berbuah seketika berbuah, dan tumbuhan berbunga seketika berbunga tanpa ada penyerbukan dari serangga tanpa bantuan manusia. Apakah aktivitas gunung mempengaruhi ini semua?

Beberapa mahasiswa kehutanan dan biologi bersiap meneliti kejadian yang dianggap luar biasa ini. Pemandangan yang hampir mengerikan ini seakan berubah menjadi areal pariwisata. Media televisi dan media massa lain telah berdatangan dari mana-mana. Meliput secara keseluruhan dan ada yang berani masuk area bencana. Mereka dengan yakin melewati garis pembatas dari petugas dan membantu warga memanen apa saja.

Disaat warga banyak datang ke sana. Entah benar atau tidak pirasatku bahwa ini hanya jebakan dari gunung merapi untuk mengumpulkan orang-orang dan jika telah berkumpul maka gunung itupun segera melepaskan panah panasnya. Apakah gunung itu hidup? Aku hanya menduga-duga saja.


-

Gunung anom yang menjadi legenda; dimana sering terjadi kejadian yang di luar batas akal manusia. Sedang mengamuk sekarang.

Kepulan asap masih ia lihat di antara gunung-gunung maha karya tuhan yang menjadi pasoknya bumi. Adapun bau belerang sudah lebih dari sekedar bau kentut yang tak ada yang mengaku. Tatapan nanar dari seorang adik kelas yang duduk bergelimpangan air mata seolah menarik simpatiku. Rumahnya hangus terkena aliran lava. Dia menunjukan bekas reruntuhan yang dulu sering menjadi tempat tujuan pulang. Kini tak ada lagi harapan. Bahkan keluarganya entah mengungsi dimana. Semua sudah berlalu beberapa tahun yang lalu.

Layar-layar terkembang dan bumi pertiwi direndam nestapa. Ombak-ombak mengganas saat damai dan bumi pertiwi menangis menyisakan kepedihan. Lautan seakan sudah jadi kehidupan asing bagi makhluk bumi. Begitupun sebaliknya lautan sudah menjadi kehidupan bagi awak laut seperti kami.

Aku mencoba meluruskan pandangan pada gunung-gunung jajahan wedus gembel itu. Sarat dengan orang-orang yang sama-sama penasaran akan ketangguhan alam memporak porandakan kampung halaman. Tuan-tuan dan nyonya-nyonya besar sekarang tidak ada lagi bedanya setelah bumi dihanguskan. Entah siapa tetangga mbah marijan yang dikasih tahunya jika gunung akan memuntahkan isinya. Semua hangus terbakar tinggal tandus-tandus lahan yang lama terjadi suksesi kembali.

Beberapa meter dari kawah yang masih ku rasakan ijakan tanah lembut. Sudah tidak lagi panas. Sementara adik kelasku masih duduk lemas. Tak tahu jalan pulang. Ia lupa dimana letak rumahnya karena hampir tidak ditemukan pembatas dan pohon akasia yang selalu ia ceritakan padaku. Bagaimana di pohon itu terletak rumahnya.

Sudah tiga tahun kami terombang-ombang di kapal karena pekerjaan yang harus kami korbankan. Sudah lama tidak menginjak tanah dan seluruh rumput-rumput sasak. Sesak bertabuh dengan rindu yang entah pada siapa harus berlabuh. Sementara ibu dan bapaknya tak tahu dimana.

“Kita ke tempat pengungsian saja, Gus!”

Aku menyusulnya berlari entah dengan sadar atau tidak ia berlari kencang sekali. Aku lupa jika aku bisa terbang. Tetapi tidak aku lakukan karena banyak sekali orang. Hingga dengan susah payah aku mengejarnya. Namun tak jua aku temukan adik kelas yang sama-sama dapat kesempatan berlayar di kapal pesiar.

Setelah tiga tahun lamanya aku baru sadar jika ia sangat berarti bagiku. Kehadirannya ibarat adik kandungku. Dan kesedihannya adalah kesedihanku. Dimana ibu dan bapaknya entah kemana aku juga meraskan kepedihan yang sama. Aku kejar namun tak terkejar. Ia hilang dimakan lautan manusia. Apakah ia pergi ke tempat pengungsian? Dari mana ia tahu pengungsian yang mana? Sedang kami baru saja mendarat dari kapal pesiar.

Laut kini tenang kembali. Lapangan pelabuhan terlihat begitu lapang. Aku dan sembilan kawanku mendapat kesempatan untuk berlayar di kapal pesiar. Aku pamitan sama kedua orang tuaku. Dan sampaikan salamku padanya agar jangan kuatir atas keadaanku yang pasti tidak lama bisa bertemu. Aku pergi untuk menuntut masa depanku. Sekalian menyelesaikan teka-teki mimpi ini.

Dalam kabut tebal aku perlahan merobek pekaan matahari. Aku sapu dengan telapak tanganku dan aku rebahkan kedua tanganku mengepak ke angkasa. Aku siap melayang di angkasa dengan bantuan energi angin dari ombak-ombak besar. Aku naik ke buritan yang lebih tinggi aku siap melayang di angkasa sebelum tugas awak kembali menantang. Ah.. Aku hirup bau laut dan terpaan ombak yang siap mengirimkan anginnya untuk aku pergunakan. Tanpa sayap seperti burung saya bisa mengangkat tubuh ku tinggi-tinggi.

“Sam! Sadar! Masa muda kita masih banyak yang harus diperbuat. Jangan kau sia-siakan hidupmu hanya karena rindu ibu dan bapak.!” Ia memegang kakiku erat-erat.

“Apa yang aku lakukan, Lian?” Aku terkejut hampir saja terdorong kelautan.

“Ayo Sam turun! Kita bisa selesaikan masalah dengan hati yang dingin!” Ia terus memegang kakiku dan menarikku.

Aku makin takut bisa-bisa ku terjatuh karena tak kuat menahan tubuh dengan satu kaki! Ia malah memegang ke dua kakiku!

“Sam jangan bunuh diri!” Ia makin jelas dengan praduganya.

“Apa maksudmu, lepaskan aku! Lepaskan kakiku!”

“Tidak sebelum aku urungkan niat bejad mu itu!”

“Kau nih apa-apaan siapa yang akan bunuh diri.” Ia makin kuat memegang kakiku kuat-kuat keduanya. Aku tak bisa bergerak. Bisa-bisa aku jatuh beneran.

“Ok. Tapi lepaskan kakiku!” Aku pura-pura saja sepikiran dengannya.

Ia segera melepaskan tangannya dari kakiku. Aku melompat ke kapal dan aku pergi meninggalkannya. “mengganggu saja!”Aku menggerutu sambil meninggalkannya.

Ia terlihat lega dari kejauhan. Siapa juga yang ingin bunuh diri. Berenang ke dasar laut tanpa alat penyelam juga aku mampu. Inikan hanya sekedar imajinasi mimpi.

Daun-daun kaktus tumbuh dengan suara mengaduh karena lago-lagi ia disusutkan menjadi sebuah duri yang menusuk. Ia harus patuh pada ketentuan takdirnya meski ia tak ingin orang-orang mengiranya akan membunuh mereka yang menyentuhnya. Aku melihat kaktus itu dan membelahnya menjadi dua. Lalu aku buang di pot yang berbeda. Aku biarkan ia tumbuh dengan sendirinya. Kapal pesiar mulai berjalan semua awak kapal bertugas kembali. Aku ditugaskan untuk mengantar makanan pada tamu-tamu besar kapal.

Aku mencoba keahlianku berjalan didinding tapi cukup sulit. Meski ini hanya imajinasi mimpi tapi tidak semua keahlian itu kita kuasai. Semua orang ada kemampuannya masing-masing. Di antara kemampuan ku itu adalah menjauhi malapetaka sebelum datang. Karena aku dapat meraskan jika ada bahaya dari orang-orang atau setan yang selalu mengganggu imajinasi ini. Jadi aku harus extra waspada karena aku masih curiga diantara tamu atau awak kapal ada yang bermuka dua dan dpat merubah diri jadi siapa saja.

Beberapa petugas dihubungi lewat mikrophone kecil yang diselipkan diantara daun telinga lebih mirip tindikan kecil. “pramusaji 13 diharap mengambil pesanan makanan untuk tamu di nomor 29s.”

“Baik Chef!”

Meski aku jadi bagian dari awak ini tetapi aku masih belum bisa menguasai denah area kapal. Kapalnya sangat besar. Dapat dipastikan akan tersesat jika ia belum mempunyai mikro chif. Aku juga merasa kapal ini ada sesuatunya. Soalnya entah kenapa aku ditugaskan untuk tetap berada dikapal ini sampai aku menemukan rahasinya.

Memang ada rahasia yang bukan rahasia umum. Jika kapal ini seringkali tak bisa terdeteksi oleh radar manapun. Aku juga merasa tidak sendiri di sini. Karena ada beberapa orang yang juga terinfeksi kekuatan ini. Pernah aku melihat ada satu wanita yang bisa merubah dirinya jadi tumbuhan. Ada pula yang bisa menduplikasikan dirinya jadi dua. Ada juga yang bisa memanjat tanpa bantuan alat. Dan rahasia ini hanya kami yang tahu. Kami yang terinfeksi mimpi. Kelebihan ini harus dimanfaatkan.

Aku kehilangan Lian di tempat bekas muntahan merapi. Sudah kuduga ini akan terjadi. Aku harus lebih extra lagi menjaga dia. Aku coba mengaktifkan radar manusia. Tapi percuma; kekuatanku belum maximal apalagi disini lebih banyak manusia yang sama golongan darahnya.

“Sam, kau dimana?”

“Aku di tempat pengungsian, kapten!”

“Kau terus jaga Lian jangan sampai ia jauh dari pandanganmu.”

“Baik kapten!”

“Perlu bantuan?”

“Ya, aku perlu satu orang lagi. Kalau bisa seorang wanita. Karena memahami hati pria yang patah adalah wanita.”

(Karena bekerja sama memang lebih baik daripada sama dia)

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.