Cerbung - Labirin Terkutuk - #6

Aku melihat kapten Mdade sedang berjalan di depanku, Sementara kepalaku begitu beratnya dan mataku berkunang-kunang tidak waras. Rasa ngantuk yang luar bisa datang tiba-tiba. Team berjalan didepanku lurus menyusuri labirin; entah dimana ujungnya. Kepala ku semakin berat. Akar-akar tembok semakin terlihat menonjol diantara dinding-dindingnya.

“Sam, kau taka pa-apa?” Seseorang menepukku dari belakang.

“Mariah?” aku kehilangan tenagaku.

“istirahatlah disini, biar kupanggil kapten untuk membawamu,”

“Mariah, kenapa aku merasa mengantuk?”

“kau terlalu kelelahan, Sam. Perjalanan masih jauh dan lorong ini tidak ada ujungnya.”

“Bagaimana kau tahu tidak ada ujungnya.”

“Tidurlah, Sam itu akan membuatmu tenang.”

Kulihat Mariah dengan gaun merahnya, meninggalkanku. Menyusul kapten tanpa menoleh lagi padaku. Rambutnya begitu segar, aku tak pernah tahu betapa segarnya Mariah.

Dalam kekacauan pikiran, aku masih mengingat sekilas. Entah nyata atau khayalan bagiku itu seperti kenyataan. Otakku harusnya bisa mengingat dengan benar. Tapi semakin kuingat semakin menyakitkan, terasa berkerut isi kepalaku.

“Oke sam, hentikan. Tidak usah kau lanjutkan.” Lee menggenggam tanganku. Seluruh tubuhku terasa kaku tetapi bergetar. Sepertinya aku mimisan. Lee dengan cepat mengatur arus pernafasanku. Dan aku merasa lemas begitu sangat.

“Apa yang terjadi Lee?”

“kau terlalu keras dengan ingatanmu,” lee membawa sebotol air dan menyuruhku meminumnya. Aku tidak kuat meminumnya, perutku tersa bergejolak, aku tidak mungkin memaksanya. “Sampai habis, Sam.”

Beberapa saat kemudian, Lee menyuruhku rebahan kembali. “Ceritakan apa yang barusan kau ingat, sam!” sepertinya Lee tahu apa yang barusan terjadi padaku. Dan aku menceritakan seperti yang kuimpikan.

“Itu bukan mimpi, Sam.” Terangnya. “Itu sebuah konsep kejadian yang kembali terulang, di dunia ini kadang kita merasa pernah bertemu seseorang, pernah ketempat tersebut sebelumnya dan pernah membicarakan ini sebelumnya.”

“Sebuah konsep?”

“Seseroang akibat trauma, mau tidak mau akan melupakan kejadian yang menimpanya. “ dan suatu saat nanti di waktu yang sama sekali tidak disadari kembali terulang dalam mimpi, mereka bilang itu hanya mimpi buruk, padahal itu adalah kenangan yang sengaja di lupakan.”

“Lee kau membuatku tidak mengerti, sekaligus ngeri.”

“Mereka juga bilang itu firasat. Kita harus kembali ke labirin itu, untuk menemukan kebenarannya.”

“Sekarang .. Lee “

“Tidak untuk saat ini, kita akan mencari tahu jawabannya tanpa harus masuk ke labirin.”

“bagaimana caranya?”

“Dengan mengumpulkan semua ingatan, darimu dan darinya ..” Lee menunjuk seseorang yang tergeletak lemas, Rossan.

https://id.pinterest.com/pin/607423068461281950/


“Aku menemukannya barusan di luar labirin. Sepertinya ada seseorang yang melemparkannya atau entahlah, sehingga ia terluka begitu parah. Tangannya robek, dan lehernya patah.” Mengerikan sekali, aku ceritakan pada Lee jika di dalam begitu banyak pintu. Lee mengeluarkan buku yang di tulis Rossan.

“kau bisa menjelaskannya, Sam?”
“ya.”

Lee membawa satu buku lagi, ia membuka halaman tengahnya. Itu buku tulisku, yang tempo lalu kuceritakan pada Lee. “Dan, ini bisa kau jelaskan, Sam?”

Aku melihat kecurigaan Lee. Buku itu sudah ada di tangan Lee, tempo hari yang lalu. Tanpa pernah kutulis lagi. Dan gambar yang ada dikertas yang digambar Rossan sama persis dengan gambar yang ada di bukuku, dan sekompleks cerita yang menyertainya.
“Bagaimana mungkin kau bisa menuliskanya, Sam?”

Aku diam tidak bisa menjelaskan.

“Aku tidak akan mencurigaimu, tidak ada alasan yang kuat. Mungkin saja itu kebetulan dalam imajinasimu saja.”

Aku merasa bersalah karena kawanku mulai tidak mempercayaiku dan paling membuatku takut, lee akan menjauhiku. Karena masalah ini. Aku menjelaskannya; secara detil namun tidak dengan bahasa yang logis. Lee benar-benar mendengarkanku dengan setengah-setengah.

“Itu cerita mimpiku, Lee. Aku tuliskan.”
“Tidak mungkin.” Bantah Lee
“Benar!”
“Kau tahu apa yang Rossan katakan sewaktu kutemukan,?”
Aku menggeleng.

“Folder, folder.” Sambungnya. “ Dan itu namamu Sam Folder.
“Tapi itu tak menjelaskan semuanya.”
“Benar, ada lagi yang kucurigai selainmu.”
“siapa?”
“kau jangan senang dulu, mungkin ini komplotanmu.”
Aku diam, kawanku marah padaku.
“Mariah hasli, kau lihatlah foto ini?”

Aku melihat kaptens hans dililit ular besar, sewaktu tidur telanjang. Entah bagaiaman Rossan memfotonya. Dan itu waktunya mengingatkanku shubuh kemarin; bukankah ia berada dengan Mariah Hasli.

“Aku tahu yang kau pikirkan, Sam.” Lanjutnya. “Aku pura-pura tidur waktu itu.”
“Tapi ini bukan bukti, bisa saja Rossan hanya mengeditnya; padahal kita tahu sendiri. Tidak ada orang yang terbangun waktu itu kecuali kita.

“Aku belum memikirkan sejauh itu, kurasa ideku untuk membaca pikiranmu waktu tidur adalah salah satu cara mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.”
Lee membaringkanku dan aku bermimpi lagi.



Agus Sutisna
Agus Sutisna

Ini adalah biografi singkat mengenai penulis; Ia mudah terbawa angan-angan sehingga terlihat diam dan mematung. Justru disanalah ia mengumpulkan dunia imajinasinya. Selebihnya ia sangat tampan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar