Cerbung - Labirin Terkutuk - #4 Ganjil

Pagi segera menjelang; sepertinya ada yang mengatur scenario sehingga pagi sudah datang menjelang. Tak kudengar ayam berkokok; tak kudengar lenguhan serigala. Sepertinya Sang Sutradara lupa menyiapkan ayam hutan dan serigala jejadian.

Semua terasa sepi; sepertinya hutan ini menyimpan semua suara. Dan akan dimuntahkan pada waktunya. Kita tunggu saja kapan hutan meluapkannya.

Sementara tidurku belum begitu lama. Seperti memejamkan mata lalu membukanya; begitu singkatnya malam dalam dimensi ini. Mimpi yang biasanya jadi bunga tidur; tidak kurasakan harumnya. Tersebar pun tidak. Nyaris lengang dan sunyi; seperti hutan ini.

Kulihat Lee sudah ambruk di tendanya. Sosok rupawan yang diciptakan Tuhan dengan begitu sempurna. Perpaduan dua ras yang dimuliakan. Jonathan Lee. Sahabat baruku, yang semoga saja ia tidak lupa ketika aku sudah tidak bersamanya lagi.

Kadang pernah terpikir ingin merabah wajahnya yang oriental. Kenyal mungkin.

Tuhan, dalam keadaan ini aku masih bersyukur bisa dibangunkan. Menikmati fajar yang terbentang; menikmati udara yang menyejukan dan menikmati perjalanan yang tak mungkin kulupakan. Izinkan aku menghadapmu, meski dalam keadaan yang tak tahu arah kiblat.

“Kau seorang Muslim?” Lee terjaga dari tidurnya. Melihatku melakukan gerakan shalat. Berdoa dalam bahasa arab. Dan aku merapikan tempat sujudku.

“Ya Lee, maaf aku membangunkanmu.”

“It’s oke.” Lee kembali melanjutkan tidurnya. Ditutup sebentar matanya dan masih saja melihatku berdoa, entah apa yang ada dipikirannya. Kemana Tuhannya ketika ia dalam keadaan tersesat.

“Tuhan, jikapun kebaikan Lee bisa kau terima. Berilah ia jalan terangmu.” Aku mengusapkan tangan ke wajahku. Semoga doaku bisa menenangkanku; betapa disaat seperti ini aku masih punya banyak kawan. Meski awalnya kami tidak pernah bertemu.

Hutan ini banyak sekali keganjilan; mungkin benar kata Lee. Tidak ada suara sama sekali. Sepertinya ada seseorang di luar sana yang mengecilkan volumenya. Tidak seperti hutan lainnya. Begitu sepi tak ada suatupun yang terdengar. Atau memang aku yang tuli sehingga telingaku tersumbat dengan sempurna. Kurasa tidak. Aku masih bisa mendengar prolog diriku sendiri.

Aku berkeliling sebentar hanya untuk meluruskan urat sarafku; semalam aku tertidur dengan alas yang keras. Semua tenda nyaris tertutup rapat. Api unggun hanya tinggal bara yang tersisa. Tenda kapten belum terbuka; kudengar ada suara perempuan di dalamnya. Dan baru detik ini kudengar suara yang nyaris sempurna; antara laki-laki dan perempuan dewasa. Dunia memang tidak sama; barat dan timur adalah dua kebudayaan yang berbeda. Aku pasrahkan diri kubusku naik turun lagi; turut dalam lenguhan yang membuat jantung ini berdetak bersusulan. Mungkin Lee benar; tanpa melihatpun aku tahu bagaimana gerakan setiap durasi. Kalau saja Lee tahu pasti ia akan geli melihat kubusku. Dan ia tertawa lagi. Tapi Lee belum bangun dan semua orang tertidur dalam tendanya.

Hening lagi tanpa bukti yang kuat.

Dalam doa-doa ketika keheningan pagi terasa sejuknya; aktifitas yang tidak biasa. Tak kudengar suara ayam berkokok; tak kulihat cahaya terang benderang. Nyamuk adalah salah satu hewan yang bisa kudengar suaranya; dan itu sangat mengganggu. Tapi tak terdengar pagi ini.

“Tuhan, tolong perlihatkan petamu, ada dimana diriku sebenarnya? Adakah harapan untuk pulang menjadi peluang besar.” aku ingin menangis; kenapa kehidupan ini begitu berlikunya.

Matahari datang menusuk wajah-wajah yang nyenyak dalam tidurnya; hingga dibangunkan dengan terpaksa. Semua orang keluar dari tenda. Dan ku tahu sekarang siapa yang ada di tenda bersama kapten. Mariah Hasli, artis 3GP itu berhasil menaklukan kapten. Aku tidak bisa menjelaskan; sebelum kukumpulkan bukti yang kuat. Tapi buat apa, mereka tetap dalam dunianya. Dan aku mengapa aku gusar melihat semua ini. Lambat laun aku pasti akan menerima keadaan ini. Semua orang tak sama; tak seperti dalam cerita buku. Di dunia semua orang memegang kendali atas dirinya. Sekaligus pertanggungjawaban atas apa yang dilakukannya.


Semua orang dikumpulkan dan rencana tadi malam dilaksanakan. Semua orang siap bergerak meninggalkan bangkai pesawat dan mencari bala bantuan. Obat-obatan; persediaan makanan dan air minum; dan barang-barang yang dibutuhkan. Aku hanya membawa tas gendong, yang aku lupa apa yang ada di dalamnya. Entah buku, netbook atau chargernya. Tak berguna lagi disini tidak ada listrik. Tapi dataku sebelumnya ada disana; identitasku sebenarnya.

Lee merobek kain bekas sebanyak-banyaknya. Apa yang sedang ia lakukan. Apakah firasatnya yang mengguruinya supaya melakukannya? Jika benar aku akan mencoba percaya padanya dan tidak banyak bertanya, untuk apa yang ia lakukan ini.

“Ayo, semua berjalan dan ikuti Mr. Hendrik Saiki, kalau ada yang kelelahan bilang. Dan kita akan istirahat sebentar.” Perintah Kapten Hans Mdade.

Entah kenapa aku melihat wajah Kapten Hans Mdade, ada yang berbeda. Apa yang telah di lakukan Mariah Hasli padanya. Sehingga raut wajahnya begitu berbeda; seakan ia berada dalam tugas lapangan yang sudah biasa banyak rintangan. Dan ia begitu senang. Tak perduli ada ranjau atau jebakan; ia tetap dalam posisi tegak dan santai. Cerah dan terlihat muda.

“You, siapa namamu?” kapten memanggil photographer yang menemani Mariah Hasli.

“Rossan, kapten!”

“Kerjamu bagus!” Kapten menepuk pundak fotografer itu. “Ambilah apa yang kau bisa ambil; mungkin ini akan jadi kenangan yang tak terlupakan.”

“terima kasih, Kapten!”

“Ya.” Sahut kapten. “ Ayo semuanya bergegas sebelum matahari terbenam kita harus berada di tempat yang aman.”

Tak biasanya kapten Hans begitu ramah pada orang yang tak dikenalnya; ada yang tidak beres memang dalam diri kapten. Apakah telah terjadi sesuatu reaksi kimia antara kapten dan Maria Hasli. Dan apa yang sedang kulakukan, kenapa aku begitu penasaran dan begitu ingin tahu apa yang sedang terjadi. Kenapa tidak memikirkan yang lain. Aku memukul kepalaku sendiri.

 'Bodoh.'

Ada yang tidak beres dengan otakku ini.

Kapten membisikan sesuatu pada Rossan, aku tidak tahu kenapa aku begitu ingin tahu apa yang dilakukan kapten. Memikirkan diriku sendiri saja aku bingung. Aku selalu ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya. Dan aku memukul kepalaku lagi. Tidak begitu keras; hanya untuk menyadarkan saja; jika yang sedang kulakukan tidak ada gunanya.

“Sam, apa yang kau tunggu. Ayo.” Kapten rupanya memperhatikan arah mataku.

“Apa yang kau pikirkan, Sam?” Kapten menyelidiki setiap pikiranku.

“Tidak ada, kapten.” Gampang kapten Hans sekali menebak pikiranku.

Aku kembali berjalan dibelakang kapten Hans Mdade; Maria Hasli selalu ada disampingnya; bergelayutan tak tahu aturan. Setahuku ia wanita yang galak; kenapa ia begitu manja. Dan kubusku naik turun lagi. Apa yang sedang kupikirkan.

“Kau mempermainkan kubus lagi ya?” Lee mempercepat langkahnya dan ada disampingku sekarang. Senyumnya meledek.

“Apa yang kau maksud kubus, Lee?” aku mencoba untuk tidak tergoda menjelaskannya. Dan ia makin gila tertawanya; tapi ditahan. Semua orang memperhatikan kami berdua; semoga saja hanya Lee saja yang tahu apa yang telah kulakukan.

“Kau jangan gila Lee, kau harus punya bukti yang kuat!” aku sedikit memajukan bibirku pada telinganya. Dan semua orang memperhatikanku; semoga saja tidak ada yang salah paham.
“Oh kau mau bukti yang kuat?”

“Oh, Lee. Jangan kau teruskan.” Aku memohon pada Lee. “Hal ini saja membuat jantungku was-was. Kau jangan menjelaskannya terlalu banyak.”

Aku mengaku pada Lee. Dan Lee seperti biasanya; tertawa geli dan ditahan. Setelah itu tidak ada pembicaraan mengenai kubus lagi.

“Kau tak perlu malu denganku, Sam ..” Lee kembali mengulang arah pembicaraan.

“Lee ..” dalam hati kumohon supaya ia tidak membahas tentang itu lagi. Wajahku terlalu merah untuk mengaku.

Setelah lama berjalan; melewati sungai dan semak-semak belukar. Menyaingi ilalang setinggi dada orang dewasa. Tak terasa dengan ngobrol ngalor ngidul lelah berjalan kaki tidak kurasa. Dan Lee masih saja menceritakan tentang kubusnya lagi.

"Sebentar lagi .. Firasatku berkata akan ada sesuatu di depan." Bisiknya, sambil berlalu. 

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.