Cerbung - Catatan Terakhir - #8 Shaira

Kata orang-orang aku indigo. Mampu melihat orang yang telah meninggal dan berkomunikasi layaknya mereka masih hidup. Aku kadang terlihat bego.


Sampai aku mengikuti pelantikan itu; Panji; Maesti; Paramitha; Guruh; Astri aku berkenalan dengan mereka. Bus terakhir; Dan Sam, aku yakin dia bukan bagian dari mereka. Kurasakan auranya masih kuat; hanya saja ia tersesat.

Sam, anak laki-laki yang aneh; aku tahu ia ada didunia ini. hanya saja raganya tak tahu di kota mana. Dan ia penjelajah waktu yang hebat.

Perjalanan malam itu dimulai.

Semua regu telah dulu berangkat; tinggal kami berlima dan Pak Dirga yang memimpin langsung.

Jalanan yang tidak pernah dilalui orang; tebing yang tak pernah dipanjat orang dan tangga sungai dari batu yag tak pernah dilewati orang. Kupikir mereka sinting memberikan perjalanan malam seperti para pendaki sungguhan. Padahal kami haya mahasiswa yang tahunya tugas dosen dan komputer.

Hutan yang sepi hanya ditemani suara burung malam; katak hutan; kera; anjing kesetanan dan suara teriakan dari anak-anak yang telah lama berjalan. Satu orang memegang satu senter; jas hujan dipakai. Dan kami mencari teka-teki dari setiap petunjuk yang diberikan pos. sampai pada pos 4 kami tidak menemukan siapa-siapa disana.

Hanya sebuah jembatan panjang yang hanya akan ditemui di area perkotaan. Sungguh dihutan selebat ini, jembatan ini adalah bangunan satu-satunya yang memisahkan diri dari rimba. Kokoh menunjukan betapa zaman sudah maju sekarang. Dibawahnya sungai yang tidak terlihat sungainya. Langit bermuram durja; bulan congkak dengan sempurna dan udara tidak berputa kemana-mana. Embun membekukan seluruh persendian dan kami berjalan.

Kau tak akan mengira sedang jurit malam dihutan; kami melintasi perbatasan dan sampai ke kota di belakang gunung. Kota maju dengan gedung-gedung yang tinggi mengangkasa; jalan-jalan berasapl yang lebar. Meski tak satupun kendaraan yang terlihat berlalu lalang atau terlihat. Sepi. Ini kota hantu barangkali.

Group Matasetan adalah kami. Sengaja panitia berikan pada semua kelompok mahasiswa; keterlaluan memang. Tapi bagi kami ini namanya tantangan. Kami adalah kelompok mahasiswa terpilih dari jurusan masing-masing.

Aku hapal betul satu persatu dari mereka; Panji dan angga, paramitha dan Maestri, ibu Astri, pak dirge dan pak guruh. Dan satu lagi orang yang tak pernah menyapaku, Sam. Anak itu seakan berjalan semaunya. Pikirannya entah kemana; diajak ngobrol pun seperti tidak ada ditempat.

Betapa bodohnya aku terlalu memperhatikan anak itu, hingga aku malah tersesat dengannya. Mahasiswa lain sudah hilang entah kemana. Dan tidak ada yang mencari kami.

Kami seakan di takdirkan untuk berbicara berduaan.

Hingga datang suara sirine dan semua orang pergi degan cepat.

“Aku Sam!” anak itu memperkenalkan diri. Kemana saja selama ini. baru setelah sepi ia bicara.

“Shaira!” balasku. Dan ia berjalan lagi.

“Kita ada dimana?” pertanyaannya tidak bisa kujawab. Aku sama tidak mengerti denganya.

Sam, berteriak ke semua orang yang dilaluinya. Tapi tak satupun dari mereka yang merespon; sepertinya mereka mengindahkannya. Disebabkan ada suara lain yang memandu mereka.

Aku terus mengikutinya. Aku mau tahu apa yang bisa diperbuat olehnya; cahaya matanya yang meyakinkan padaku; bahwa ia adalah kunci keluar dari semua ini.

“Apa kita tersesat, Shaira?’

Aku tidak menjawabnya. aku hanya diam tidak bergerak.


Halaman Selanjutnya : 12345678|
Agus Sutisna
Agus Sutisna

Ini adalah biografi singkat mengenai penulis; Ia mudah terbawa angan-angan sehingga terlihat diam dan mematung. Justru disanalah ia mengumpulkan dunia imajinasinya. Selebihnya ia sangat tampan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar