Cerbung - Catatan Terakhir - #6 Sam Folder

“Perhatian, semuanya. Kepada semua mahasiswa di masing-masing bus; bahwa perjalanan telah sampai. Perhatikan barang bawaan jangan sampai ada yang ketinggalan. Bumi perkemahan akan segera sampai.!”



Pak Dekan Dirge selaku penanggung jawab kegiatan ini langsung terjun tangan ke lapangan, sepertinya dia yang paling bersemangat dalam kegiatan ini. barang bawaannya memang tidak seberapa banyak dibandingkaan mahasiswanya. Tapi semangatnya dalam berpetualang sangatlah luar biasa. Baru kali ini aku melihat orang tua semuda itu.

Hutan yang kami lewati begitu sepi. Tak ada satupun bunyi-bunyian; lengang bersih tanpa suara. Seakan telinga kami tersumpal oleh kapas. Begitu sepi. Tak terasa waktu begitu cepatnya. Sepertinya ada seseroang yang mengatur skenarionya, sehingga perjalanan yang katanya jauh terasa dekat sekali.

“Oke semuanya turun dari bus!” pak dirge yang sudah dulu turun dari bus. Mengawali pembukaan kegiatan kami.

“Hari yang luar biasa!” lanjutnya.

Tangan-tangannya dikepal bagaikan bola; menerjang langit dengan semangat yang terkumpul. Begitu antusiasnya beliau.

Ia yang pertama kali turun dari Bus; berlari ke tengah lapangan. Tak menghiraukan usai maupun sopir-sopir yang sesuainya. Menghirup udara segar yang seakan baru ia dapatkan sekarang. Perawakan yang tinggi besar dan rambut halu sekitar dagu; membuat kewibawaannya tetap terjaga. Maskulinitasnya teruji di medan perkemahan ini. aku pikir ia bukan dekan; kupikir ia mahasiswa seperti kami.

Tak seorangpun yang aku akrabi dari semua mahasiswa ini. Mungkin dengan bersikap biasa saja itu bisa membuatku bertahan di hutan ini. uji nyali adalah salah satu agenda yang selalu kupikirkan. Bagaimana mungkin hutan yang konon katanya angker ini, memakasakan diri untuk jadi tempat uji nyali. Kenapa tidak merekayasa tempat saja. Kenapa harus tempat yang nyata. Tapi bagaimana pun nanti; aku harus siap.

Pak Dirge yang suaranya membahana; membuat tanda supaya kami berkumpul setengah lingkaran. Tas yang kubawa begitu beratnya; apa tidak salah aku membawa barang sebegitu banyaknya. Dengan toa yang dipinjmanya dari ketua Mas Surya, ia memulia aksinya berorasi. Sudah kubilang; ia seperti mahasiswa.

“Kegiatan yang kita lakukan adalah rutin setiap tahun; dimana unsur kepemimpinan dibangun; disinilah kalian akan dibentuk menjadi pribadi-pribadi yang utuh. Bersahabat dengan alam dan mau berkerja sama dengan sesama teman, ingat kalian disini bukan untuk berkompetisi, tapi untuk bersahabat dengan alam. Tapi tetap penilaian ada ditangan kami pada juri dari dosen dan alumni.”

“Kalian sudah siap!!”

“Siap!” serentak mahasiswa semua bersemangat.

Aku mendengar semangat teman-teman begitu antusiasnya. Harusnya aku merekam semua kejadian ini dengan kameraku. Tapi kameraku ada ditemapat terbawah dari barang bawaanku. Aku harus memuntahkan semua isi tasku. Tapi tak ada waktu. Sial. Aku tidak sempat memanage kantongku.

“Baik, ada yang sudah pernah kemari?”

Seseroang dari kami mengacungkan tangan. Aku kalah start darinya. Padahal aku juga merasa pernah kesini; tapi kapan aku lupa.

“Oke kemarilah, ayo ke depan!”

Anak muda itu manggut dan mendekati pak dekan Dirge.

“Saya Panji dari fakultas teknik. Bersedia mengikuti kegiatan ini untuk menjadi ketua mahasiswa, dan membentuk jiwa kepemimpinan yang luhur.”

“Luar biasa, apa yang mendorongmu ingin menjadi pemimpin?”

“Dorongan dari lahir, pak!”

Serentak tawa membahana dari seluruh peserta. Padahal kulihat ia serius berkata seperti itu. Tapi nada suaranya salah barangkali; sehingga entah membuat lucu darimananya. Ia sama tidak mengertinya denganku.

Matahari cepat sekali terbenam; sepertinya ada yang mempercepat skenarionya. Tenda-tenda belum semua berdiri. Dan burung-burung malam mengingatkan mereka dengan teriakan yang merobek gendang telinga.

“Kau yakin pernah kesini?” Aku merapatkan diri pada Panji. Dan angga ada disampingnya selalu.

“Sepertinya begitu, tapi lupa.” Katanya. Aku yakin ia tidak berbohong.

“Hutan ini tidak asing bagiku.” Katanya lagi.

Angga seperti ingin berkata sesuatu tapi tidak diungkapkannya. Ia mengajak Panji meninggalkanku; dan pergi membuat tendanya sendiri. Aku berdiri mematung; tidak ada satupun orang yang aku kenal begitu kental.

Tepat dikaki bukit gunung Salak, tempat bumi perkemahan kami. Terlihat menjulang tinggi dan awan-awan seakan dirangkul untuk menutupi puncaknya. Matahari seakan diusir untuk tidak pernah masuk ke dalamnya. Sepi dan gelap sangat terasa dibawah ini. udara terasa begitu dingin sedini ini. padahal malam belum datang dan bulan belum bersinar. angin segar datang dan membawa kami ke gunung itu. Kalau bisa disimpulkan semua angin mengarah pada gunung itu. Terbukti dengan daun-daun yang melayang.

Sementara teman-teman merebungi tenda agar bisa berdiri; aku mendekati tebing yang cukup tinggi. Tidak jauh dari bumi perkemahan. Akar-akar pohon terasa kasarnya. Kokoh dan tinggi. Adalah tempat yang paling indah untuk menatap bulan kala malam. Pacarku harus melihat ini nanti. Ya, akan kukejutkan ia dengan rahasia ini. kuambil sebutir kerikil kulempar jauh ke dalam jurang. Namun Tak pernah terdengar suaranya.

Ada suatu keindahan dibalik cerita yang tidak masuk akal. Ada suatu hal yang bisa dibanggakan dibalik rumor yang mengerikan. Aku baru sadar jika aku terlalu memberanikan diri berjalan sendiri. Astaga. Apa yang telah kulakukan. Aku harus kembali ke tenda. Sebelum matahari benar-benar tenggelam.

Aku lari tunggang langgang. Seakan ketakutan dikejar oleh firasatku sendiri. Dan kuurungkan niatku untuk membawa pacarku kesini. Mending ke dupan saja. Ada sesuatu penyesalan entah apa itu namanya; agar tidak sekali lagi sendirian di tebing itu.

Api unggun digelar. Dimulai dengan berdoa dengan khidmat. Tak seorang pun yang punya nyali untuk bersuara. Bahkan angin seakan diusir pergi. Aku merasa ini tidak baik. Tapi aku mungkin dengan berdoa dalam-dalam dan tidak menghiraukan lingkungan sekitar akan menenangkan peraasaan. “Berdoa selesai.”

“Malam ini kita gunakan untuk istirahat, besok hari kita akan berpetualang ke dalam hutan.”

“Tidak ada perjalanan malam, pak?”

“Ide yang bagus; tapi nanti akan dirundingkan kembali; kita belum menguasai lokasi dengan benar, Surya kau sudah hunting lokasi ini sejauh mana?”

“Baru sekitar ini saja pak, dan pos-pos yang telah bisa dilakukan sebelumnya. Hanya pos itu akan kelihatan ketika siang hari. Jika malam hari dikhawatirkan kita kehilangan rute.”

“Jelas kita tidak terlalu menguasi medan, ada yang punya ide?”

“Kita akan membuat kelompok besar pak.”

“Oh iya, Surya tolong kondisikan anak-anak untuk membagi Team.”

“Baik pak!”

“Oke rapat selesai. Kembali pada tugas masing-maisng.”

“Pak, maaf. Apa tidak sebaiknya ana-anak dikasih jimat pelindung?”

“Kau sudah tahu, bagikan segera.”

Bu Astri, Pak Guruh dan Mas Surya meninggalkan tenda Dekan Dirge. Aku sendiri belum tidur tenang.

Malam datang dan kukira aku dibangunkan untuk jurit malam. Semua kawan-kawanku keluar tenda dengan muka penuh dengan keringat. Hutan ini begitu panas.


Halaman Selanjutnya : 12345678|

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.