The Icon Part 1 - Ular dan Tengkorak

Ini Cerita Baru. ☀
Semenjak lahir aku bisa melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain. Sebuah tanda alam yang terlihat mengelilingi kepala manusia. Terkadang menakutkan, terkadang menggemaskan. Namun selalu saja ada akhir yang malang.

Hampir aku gila karena kukira itu hantu dan siluman. Ternyata itu adalah icon dari karakter seseorang. Mulai dari sanalah aku mengikuti pelatihan karakter manusia di Universitas Padjajaran. Satu-satunya universitas di kota ini yang membuka jurusan terbaiknya.

Alasan bagusnya adalah untuk mendalami setiap karakter manusia. Tapi alasan yang sebenarnya adalah ingin meyakinkan diri sendiri apakah yang aku lihat setiap hari itu imajinasi atau hanya gangguan otak saja. Barangkali di Universitas ini aku dapat menggali sisi lain dari sisi lainnya lagi.

Aku malah sudah ngaco berceritanya. Entahlah. Pokoknya aku harus punya seseorang yang dapat menerjemahkan penglihatanku. Titik!

Suatu pagi aku terbangun dan melihat icon ular-ular mengelilingi kepala salah satu mahasiswa di asrama. Baru kali ini aku melihat ada icon ular tapi tidak satu ekor. Mereka bergelombang menyerupai rambut di kepala mahasiswa itu. Aku merasa penasaran. Kalau icon ular di kepala berarti ia akan mengalami suatu keberuntungan, tapi sebelum itu ia akan menghadapi kesialan terlebih dahulu. Yaitu dililit hutang atau dikhianati pacar. Tapi orang ini setahuku tidak punya pacar dan hidup mewah dari kiriman bokapnya. Aku makin penasaran.

“Rio, kau hari ini sakit kepala enggak?” Aku menepuk pundaknya hati-hati karena bisa saja ular-ular itu mematuk diriku. Sama ketika aku tidak sengaja menyentuh icon ulat bulu yang mengelilingi kepala salah satu dosen.

“Kau benar!” Sahutnya. “Aku tidak tahu kenapa kepalaku agak berat.” Ia menepuk-nepuk pundaknya. Kadang tanganku sangat responsif. Aku coba membantunya untuk memukul-mukul lehernya.

"Apaan sih Lu, Kuy?" Rio risih mendapati perlakuanku. "Gila lu ya!" Balasnya lagi sampai berjalan cepat.

“Apa kau punya hutang?” aku menyambar dengan pertanyaan lain. “Atau ditikung teman?” Aku mengikutinya berjalan. Habis penasaran banget sama icon Ular tersebut. Apa gerangan yang akan terjadi jika manusa memiliki icon ular secara tiba-tiba. Aku hanya memprediksi sesuai karakter ular tersebut saja. Berbisa.

“Sialan, tidak lah .. ” Ia mengambil air kemasan di kantin dan pergi meninggalkanku. "jangan coba ikuti aku!" Katanya mengancam.

Busyet. Aku seperti lalat saja. Dihindari.

Dari kejauhan aku melihat mata ular-ular itu bergeser ke arahku, lalu tersenyum tanda menyepelekanku. Sial, kukira aku tidak akan menghadapi icon seperti itu.

Sedikit yang kutahu icon-icon di kepala orang itu hanya imajinasiku saja, gambarnya seperti hologram. Tapi lambat laun seiring perjalanan usia, icon-icon itu terlihat hidup bahkan dapat mematikan dan mempengaruhi secara cepat mangsanya (kepala).

Aku harus pergi ke ruang dosen, dan berkonsultasi dengannya. Melaporkan apa yang barusan aku lihat.



“Tiduran di atas kasur dulu.” Dosen Aswat mengambil map riwayat pasien dan menanyaiku beberapa pertanyaan. Entah. Aku merasa tidak dihipnotis, tapi aku dengan lancar menjelaskan apa saja yang ada di otakku.

“Apa aku mulai gila, Dok?” Aku memang memanggil Dosen Aswat dengan panggilan Dokter. Sebab ia multifungsi dalam kehidupanku. Ia satu-satunya yang mengetahui jika aku memiliki penglihatan supernova. Aku merapikan kancing bajuku dan duduk di kursi sementara Dosen Aswat menuliskan resep.

“Aku tidak mengerti, mengapa anda menyuruhku membeli resep dan memberikan kepada orang yang aku lihat?” Aku membaca catatan dokter. Setetes pun aku tidak pernah meminumnya.

“Percayalah, efek obat ini akan membuat penglihatanmu normal.” Dosen Aswat menyudahi konsultasiku karena ada mahasiswa lain yang mengetuk pintu. Rasa penasaranku tiba-tiba menguap begitu saja, tatkala berhadapan dengan mahasiswa yang memiliki icon menyeramkan di kepalanya.

Icon tengkorak. Ia bahkan pura-pura tak melihatku sewaktu berpapasan. Dikacangin.

“Sebentar lagi dia akan mati!” Terka aku. Ah, aku sedang tidak berniat mengetahui karakter mahasiswi itu. Sore ini aku terlalu lelah untuk melihat hal-hal yang diluar kebiasaan.

“Tutup pintunya ya!” Suara dosen Aswat terdengar dari dalam. Aku ragu-ragu untuk masuk kembali ke dalam. Aku mau melaporkan tentang mahasiswi itu. Tapi ya sudahlah .. Mungkin besok pagi aku bisa menemui Dokter Aswat.

((Besok harinya.))

Aku kembali ke asrama dan menemukan Pil Obat yang kuberikan pada Rio, ia tidak memakannya. Harusnya aku tidak memberitahukannya. Langsung saja dicampur air meneral. Ah, masa iya aku harus percaya pada Dosen Aswat. Aku harus menemui Rio. Aku takut ia kenapa-kenapa.

“Kuy, Kuy, kemari cepat!” Seseorang muncul dan pergi begitu kulirik kepalanya.

“Ada apa?” Aku bergegas pergi mendekati Juh tetangga kamarku.

“Ada apa?” Aku mengulang pertanyaan dan melihat kamar sebelah penuh dengan penghuni asrama.

Aku menyeruak mencari celah untuk mendekati kamar Rio.


“Aku tidak sengaja, aku tidak sengaja!” Rio memukul-mukul pintu dari dalam dan menguncinya. Orang-orang terpana mendengar pengakuan dari Rio, ia sendiri tidak terlihat batang hidungnya. Hanya suaranya bergema di dalam kamar.

“Rio, sadar, cepat bukalah .. Apa maksudmu?” Aku coba mendekati mulut kunci dan berbisik padanya. Sementara orang-orang asrama berdesus mengenai Rio yang kesurupan, mabuk atau gila.

“Kita dobrak saja, Kuy!” Juh member usul.

“Boleh?” aku mencegahnya.

“Darurat ini darurat .. Siapa tahu ia akan bunuh diir, Kuy!” Juh menendang pintu kamar Rio dengan keras.

“Sakit!” rintihnya. Badan sekurus itu mana bisa mendobrak pintu. Aku menerka-nerka seluruh aktivitas yang ada di dalam kamar. Ada apa dengannya? Jangan-jangan ia lupa makan obat yang kuberikan?

Dari belakang antrian dan riuh mahasiswa-mahasiswa asrama, muncul dengan langkah tegap seorang ketua asrama, Pandji. Seperti laut merah yang dibelah Musa, manusia-manusia itu melipir ke dinding dan memberi jalan padanya.

“Bodoh.” Ia menendang bokong Juh dengan keras. “Minggir!”

Juh terpental beberapa meter. Meraba-raba bagian belakang tubuhnya. Memasktikannya baik-baik saja. Aku melihatnya ingin ketawa.

Pandji mulai mencari arah dan kuasa. Secara tidak langsung kami memberi keleluasaan baginya. Barangkali dengan tubuh besarnya ia dapat mendobrak pintu itu dengan sekali tumbukan.

Dan, ya!

“Pintu terbuka lebar!” Sebuah cahaya mengkilat dari arah genggaman tangannya. Mengkilat keemasan.

YUP

Ia memegang kunci pintu setiap asrama. Sebuah tersenyum tersungging dari raut wajahnya yang keras.

“Pakai ini!” katanya. Ia menunjuk isi kepalanya. Sombong. Kami kalah terka.

“Lho, mana Rio?” Juh mencari ke setiap sudut kamar. Namun nihil. Ia menghilang.

“Kelamaan, banyak acara sih.” Aku berbisik dan terdengar oleh Pandji. Keceplosan. Bodoh. Tanpa berhitung dalam hitungan detik, Kepalaku mendapatkan benturan keras dari bogem mentahnya. Kezell ..

Benar-benar kosong, suara yang barusan merintih. Tidak ada wujudnya. Benar-benar terjadi di kamar ini. Asrama ini berhantu ya? (Pertanyaan bodoh)

Suara teriakan muncul dari arah ruang dosen. Kami segera mencari arah sumber. Kami tidak sempat turun dari asrama, hanya menengok dari jendela kamar Rio di lantai tiga. Di ujung sana keriuhan terjadi. Mahasiswa –mahasiswa dan dosen lain berkumpul di luar. Kami mendekatkan telinga kami ke arah luar. Ada apa?

Pandji melambaikan tangan dan memberi kode pada orang diluar sana.

“Apa yang dikatakannya?” Aku melirik Pandji. Kepalaku masih sakit, tapi ia satu-satunya pahlawan di Asrama ini.

“Pak Dosen Aswat, tewas terbunuh .. di kantornya!” Jelasnya.

“Terbunuh?” Juh melontarkan pertanyaan yang sama dengan pikiranku.

“Dibunuh.” Jelasnya.

Seperti kilat. Tidak mungkin. Dokter Aswat. Tidak mungkin. Tidak mungkin. AHHH .. Aku berteriak sekuat tenaga dalam hati. Emosi yang terkungkung dalam dada. Tahu rasanya bagaimana? Sesak. Karena tak percaya. Satu-satunya orang yang bisa menyembuhanku. Kini tiada.

Mulai malam ini suasana asrama berbeda. Penjagaan lebih ketat dari biasanya. Jam malam diberlakukan. Mahasiswa asrama tidak diperkenankan untuk keluar malam dan keluyuran. Dan Aku kehilangan pegangan.
Agus Sutisna
Agus Sutisna

Ini adalah biografi singkat mengenai penulis; Ia mudah terbawa angan-angan sehingga terlihat diam dan mematung. Justru disanalah ia mengumpulkan dunia imajinasinya. Selebihnya ia sangat tampan.

2 komentar: