Sangkuriang The Series - Naskah 7 - Sang Guriang

Seperti apakah langit pada hari ini? Terasa seperti gulungan tikar yang kusat lagi apek. Entahlah. Perasaan itu yang membuat tokoh utama kita Sangkuriang gundah. Ia bertanya pada pamannya, pada ibu yang melahirkannya, dan pada pembantu yang menjaganya. Tentangs satu hal yang sangat mudah diucapkan. Anak-anak lain pun memilikinya.

Seorang ayah. Namun tidak pada keluarga ini. Pertanyaan serupa ‘Sosok Ayah’ sungguh melebihi batas soal UMPTN. Apa yang bisa ia harapkan pada ibunya. Ibunya sendiri seringkali mengalihkan pembicaraan, manakala ia bertanya.

Jikapun Ayahnya masih hidup, dimana tempat tinggalnya. Jikapun Ayahnya telah wafat, dimanakah tempat kuburnya. Sungguh seumur-umur ia tidak ingin disebut ‘anak haram’

“Ketahuilah, aku tidak meminta uang ataupun jabatan.” Curhatnya disela-sela istirahat. “Aku hanya ingin hidup normal.”

Pemuda tersebut Nampak gelisah manakala sedang diadakan evaluasi diri lewat sharing. Kursi-kursi dibuat berkeliling. Satu persatu mahasiswa duduk melingkar. Mereka saling mengutarakan isi benaknya. Pemuda tersebut bukanlah satu-satunya yang mendapatkan bimbingan konseling. Ada banyak cerita serupa bahkan lebih menyedihkan. Tapi pemuda itu lain daripada yang lain. Ia memiliki kharisma. Dan itu cukup membuat Rarasati terkagum-kagum.

“Suatu hari aku bertanya pada ibu sekali lagi.” Sangkuriang bercerita kembali. “Demi satu janji yang ia akan tebus pada hari itu. Ia akan mengatakan siapa ayah sebenarnya.”

Seluruh ruangan terasa dingin, angin menyambut kedukaan tersebut dengan cara hilir mudik diantara pundak dan lutut. Malam ini lebih intens daripada yang lain. Sementara dibarisan paling depan sang Instruktur mencoba memberi dorongan emosional. Ia memegang tangannya begitu kuat.

“Teruskan, nak. Tumpahkan bebanmu disini.” Instruktur tersebut memegang tangannya begitu erat. Sifat kebapak’an yang ia miliki hampir memenuhi kerinduan Sangkuriang pada sosok yang dicarinya selama ini.

Sangkuriang tidak berani membuka mulutnya, entah cerita apa yang membuat ia sulit mengungkapkan kebenarannya. Sementara Rarasati semakin berempati padanya. Ditunjukannya dengan pelukan dari belakang. Ia sebisa mungkin mendamaikan perasaan Sangkuriang. Entahlah. Mungkin dengan hati perempuan yang sedang jatuh cinta. Hal tersebut bisa terwujud.

“Malam itu seusai aku berburu, aku duduk dihadapan kaki ibu. Mencium kakinya dan meminta maaf atas pertanyaan yang selama ini ia bebankan. Sang Ibu mengelus rambutku. Terasa lama waktu, sedangkan aku terlalu terburu-buru ingin mengetahui ayah kandungku.”

Sangkuriang berhenti sebentar, seluruh mahasiswa yang mengampu pelajaran psikologi ikut penasaran. Pemuda yang hampir dikenali seantero kampus Padjajaran, kini terlenguh perihal jati dirinya. Tak disangka dalam perwatakan yang kalem dan gagah, tertungku dendam serta kekecewaan yang berat.

“Ayahku adalah .. “ Sial. Ia menahan rasa penasaan semua orang.

“Aku tidak mau melanjutkan semua ini!” ia berteriak. Kursinya terjungkal. Seisi kelas berteriak. Sangkuriang bangkit mengamuk. “Hentikan hal bodoh ini! Hentikan!”

Suaranya keras menggelegar. Lantai yang dipijaknya seperti bergema, retak dan berdentum. Entah raksasa apa yang telah merasukinya. Tapi wujud asli dari Sangkuriang keluar. Ia nampak pemarah. Raras yang berada didekatnya merasa ibu, tapi sayang tindakannya terlalu membahayakannya. Rarasati entah sengaja atau tidak ia terjatuh akibat sikut Sangkuriang. Lebam pipiya. Tergeser beberapa meter dari tempatnya semula. Semua orang melihat. Rarasati menjadi malu. Matanya merah menyala. Mau marah pun ia tidak bisa, gadis selembut dia, mana mungkin bisa berlaku nista. Ia berlari sambil menangis.

Meninggalkan kelas. Meninggalkan Sangkuriang.

Ketika Sangkuriang sadar apa yang telah ia perbuat terhadap Raras, ia berusaha mengejarnya. Namun sebuah dada bidang yang lain menghadangnya. Si Bujang. Yang tidak tega melihat seorang wanita terluka, memberanikan diri menghadapi Sangkuriang.

“Beraninya sama perempuan.” Si Bujang Nampak gemetar. Tapi ia hiraukan. “Cuih!” ia pura-pura meludah.

Mendengar hal tersebut. Api makin besar. Di dada sangkuriang terdapat sekam yang gampang tersulut api sekarang. Harga dan citra diri Sangkurang telah mereka rendahkan. Sangkuriang yang hebat olahraganya. Juara Mojang Jajaka tahun 2016. Seketika reputasinya menyusut. Karena (satu) ia dipermalukan dihadapan orang banyak, mengenai kehidupan keluarganya. (dua) Ia dianggap pengecut karena berani memperlakukan wanita.

“Seumur-umur aku baru mendengar hal nista tersebut!” Teriak Sangkuriang di depan telinga Si Bujang. “Ibu yang melahirkanku sangat aku junjung! Belum ada satupun manusia yang berani berbicara pada Sangkuriang!!”

Si Bujang keliru. Ini bukan waktu dan tempat yang tepat untuk beradu mulut. Seumur-umur belum pun ada yang berteriak di depan telinganya. Wajah Si Bujang ikut memerah. Kiamat sudah. Mereka akan bertarung habis-habis. Dan benar dimulai dari pelukan otot tangan di leher Si Bujang, Sangkuriang meludahinya dengan leluasa. Si Bujang tersulur. Ia tidak bisa berpikir dingin. Ia kalap juga. Tidak melihat jika disekelilingnya ada banyak mahasiswa dan guru bidang.

Pukulan demi pukulan mendarat di masing-masing perut, tangan, paha dan wajah mereka. Meski yang paling banyak yang mendapatkan bogem tentu Si Bujang. Otot yang tidak pernah ia latih untuk bertarung, kini sok-sok’an beradu kekuatan dengan atlet olahraga.Tangan yang setiap kali digunakan untuk menulis tidak cocok bertanding di ring tinju. Tentu saja pukulannya tidak seisi otot Sangkuriang. Mati sudah riwayat Si Bujang.

((Ruang Rektorat))

Buku-buku terpampang rapi. Lukisan tertata dengan apik. Ruangan yang tidak satupun berani datang. Tidak untuk anak pandai, tidak untuk anak berbakat. Inilah ruang bagi mereka yang melakukan pelanggaran.

“Sikap kalian ini sangat keterlaluan!” Seorang tokoh berbicara di depan mereka bertiga. “Mencoreng kampus ini dengan gegabah!”

“Anak seorang gubernur, anak seorang dosen dan seorang model jajaka.” Tokoh tersebut menekuk pundak satu persatu. Tak ada yang berani menatapnya. Ia satu-satunya tokoh yang secara langsung keturunan raja siliwangi. Kewibawaannya meresap di darah dan namanya.

“Tak perlu aku menghukum kalian.” Lanjutnya. “Kalian telah menghukum diri kalian sendiri. Mempermalukan diri sendiri.”

Mereka bertiga makin terpojok. Tidak ada Sang Ayah yang membela. Tidak ada siapa-siapa yang melerai mereka.

“Saya mohon pak, jangan memberitahukan ini pada keluarga kami!” Desak Raras, air matanya mulai berlinang manakala ia menyadari tindakan ini akan berakibat pada reputasi orang tuanya.

“Sekarang kalian tahu, kan? Apa akibatnya jika seseorang tidak dapat mengendalikan emosinya?” Pertanyaan yang tidak perlu dijawab. Mereka sudah tahu sekarang.

“Sangkuriang, kuharap kau mau memaafkan ibumu. Dan mau menerima ayahmu. Meski ia hanya seorang pembantu.” Sang Tokoh menepuk pundak Sangkuriang. Memegang kedua pundaknya dan menyuruhnya berdiri.

“Lihatlah Si Bujang, nasibnya tidak jauh denganmu. Ia tidak tahu dimana ibunya. Sementara Rarasati ia lebih menyedihkan daripada kalian berdua. Ia tidak dapat mengetahui keberadaan kedua orang tuanya. Tidakkah kalian berdua cukup bersyukur?”

“Kuharap ini terakhir kali kalian melakukan hal bodoh seperti ini!” Sang tokoh mengakhiri pekataannya. “Kalian boleh pulang!”

((Dunia lain. Dimensi Lain.))

“Sial!” Sang Guriang memukul-mukul prajuritnya. “Tokoh biadab itu selalu menggagalkan rencanaku!”

“Lain kali kita akan mencobanya kembali, Raja!” Para prajurit guriang menentramkan hati raja siluman itu. Pesta kembali dirayakan. Musik kembali berdendang. Makanan disajikan. Mereka melakukan pesta meriah di alamnya.

“Barangkali iya.” Ia tertawa. “Kita harus menyusun rencana agar Legenda tersebut bisa terwujud!”

“Bagaimana pun caranya!” Terkekeh-kekeh Sang Raja Guriang tertawa sepuas-puasnya. “Manusia-manusia itu memang bodoh! Gampang ditekan harga dirinya. Memang setinggi apa, cuman dari tanah busuk ieuh!”

Genderang ditabuh bertalu-talu. Tanda perang besar telah dimulai.
Agus Sutisna
Agus Sutisna

Ini adalah biografi singkat mengenai penulis; Ia mudah terbawa angan-angan sehingga terlihat diam dan mematung. Justru disanalah ia mengumpulkan dunia imajinasinya. Selebihnya ia sangat tampan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar