Cerpen - Gadis Pembawa

Karena tidak semua orang bisa memperlambat penuaan dini, maka dilakukan berbagai serum pada manusia. Diuji coba pada beberapa usia perkembangan manusia. Di beberapa kota besar khususnya malah telah ada teknologi yang menghentikan penuaan. Dan itu adalah kemajuan besar. Tidak sembarangan serum ini dibagikan.

Usia pertama adalah usia nonproduktif. Serum ini dibagikan secara acak saat pemberian vaksin pada usia balita. Hanya beberapa sample yang dilepas. Jika serum tidak bekerja maka akan terjadi kematian gen letal. Terjadi komplikasi atau hal-hal yang bisa disangkutpautkan dengan diagnostic kesehatan.

Usia kedua adalah masa awal produktif. Remaja-remaja yang diberi vaksin pada masa mengalami pubertas. Jika serum tidak bekerja maka akan terjadi perubahan kematangan gen kromosom sex, atau pembalikan.

Usia ketiga adalah masa dewasa. Dilakukan ketika mengawali masa bekerja. Disisipi pada test kesehatan. Jika serum ini tidak bekerja maka akan terjadi perubahan emosional yang signifikan. Terkadang emosinya stabil maupun berlebihan.

Usia keempat adalah masa nonproduktif terakhir. Hanya beberapa kalangan saja yang benar-benar menginginkan untuk bisa mengawali kembali fase pertumbuhannya. Selebihnya mereka mengakhiri hidupnya karena tidak kuat dengan beban mental.

Sore ini kami akan mengantarkan satu set serum ke rumah sakit. Dilaporkan jika hari itu banyak calon pegawai yang akan membuat test kesehatan. Kami bisa mengambil satu sample darinya.
“Sudah dilakukan belum, dok?” Aku memberikan amplop dari perusahaan.
“Sudah.” Dokter memberikan daftar riwayat hidup sang pembawa.

Nama : Grace
Jenis Kelamin : Perempuan
Golongan Darah : O Rhesus+

Kami akan memantau aktivitas Grace. Disetiap pojok rumah, kamar dan semua hal yang berhubungan dengannya terpantau di layar besar perusahaan kami.

“Grace, ayo bangun. Katanya hari ini mau ke tempat kursus?” Mama menyimpan segelas air di atas meja belajar Grace. Tidak lupa ia menaruh beberapa butir obat. “Jangan lupa minum obatnya.”

Sore ini, Grace terlihat sangat kelelahan. Tempat bekerja idamannya menolak dirinya. Kini ia akan menghabiskan masa frustasinya di sebuah tempat kursus. Kami juga yang merancangnya. Grace sudah nampak segar dengan guyuran air di shower kamar mandinya. Badan yang pejal dan berisi terbalut buih-buih sabun. Sementara handuknya tertinggal di kasur.

“Oh Tidak.” Grace berjalan keluar kamar mandi dan mengambil handuknya. Sebelum melilit tubuhnya ia berjalan menghadapi cermin di meja rias.  Rambutnya yang masih basah menghalangi pundaknya yang putih.

-

Para karyawan kami mimisan. Mereka bekerja siang dan malam, hanya untuk memperhatikan laju kembang ‘sang pembawa’. Pekerjaan ini harus tahan emosi. Maka syarat utama sebelum masuk organisasi ini adalah kuat rangsangan.

“Mas, tolong kirim laporan mengenai gadis pembawa ini.” Rekan pegawaiku memberikan from yang harus aku isi.

Aku membagikan selebaran pada beberapa anak buah yang sedang asyik menonton ‘gadis pembawa’. “Kerjakan!” Otak mereka kadang harus dibersihkan. “Tugas harus selesai sore ini!”

Terlihat wajah-wajah kelelahan, pucat dan menggerutu. Aku tidak terlalu mempedulikan mereka. Aku akan beristirahat sebentar di taman kota.

Anak-anak berlarian ditengah hujan menuju taman kota yang baru akan diresmikan. Taman kota yang berbeda dengan taman yang lain, karena diantara hijaunya rumput taman, terdapat gedung besar bernama Aula Kebesaran.


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.