Mariah Hasli 4 - Saksi Pertama

Hening malam sudah tidak ada lagi kejutan. Kejahatan akan terdengar, meski setitik suara jatuh sekalipun. Malam, ini segala jenis pendengaran dan penglihatan seakan waspada. Orang-orang menaruh curiga. Pada apa yang terjadi, pada apa yang ia jumpai dan pada apa yang ia yakini. Hingga memunculkan sikap saling berjauhan, menyembunyikan wajah dengan menundukan pandangan, mengaburkan seluruh ingatan. Dan menganggap semua tidak terjadi di kotanya.

Saksi mata dipertemukan di ruang interogasi. Tidak secara jumlah, mereka terbagi dalam kamar yang berbeda. Tidak ada yang boleh tahu siapa saksi, dan berapa orang yang diundang atas kesaksiannya.

Sekretaris Pian membuat list daftar saksi. Satu persatu saksi dibuktikan keberadaanya. Ruang interogasi terkesan tenang dan nyaman. Beradu warna putih dengan dinding kaca dan teknologi di dalamnya. Saksi diberikan serum dalam suntikan di tangannya. Lalu berdiam diri sambil menunggu seseorang bertanya padanya.

Mila, Gadis periang itu duduk dikursi yang telah disiapkan. Sorot matanya begitu layu. Akibat semalam tidak tenang tidur setelah kejadian perenggutan nyawa di gang tempat dimana ia tinggal. Lelah dalam tubuhnya tidak bisa ia cegah, sedikit demi sedikit tulang punggungnya menyentuh sandaran kursi yang empuk.

Pengalaman pertama ia bertamu di ruang kepolisian, tidak ini tidak seperti yang ia bayangkan. Bahkan ini seperti memutar film bisu. Seorang perempuan berbaju putih menyentuh tangannya, ia tak sadar jika sudah berapa jam ini ada seseorang di sampingnya. Tanpa berkenalan, tanpa saling bersapa, perempuan berbaju putih itu menarik sebuah cairan dalam jarum yang tertancap pada kulitnya. Kapan ia melakukannya? Namun sebelum ia sadar akan semua itu, Mila sudah berada di alam mimpinya.

“Tung .. Tung !” Suara notifikasi itu kembali terdengar, Mila bangkit dari tidur nyenyaknya.

Ikatan rambut kepalanya ia sambar dan buru-buru ia keluar. Memilih menjadi seorang bisnis woman memang harus sigap. Mila gadis pemberani, ia beranjak dari tidurnya yang empuk.

Mila malam itu keluar rumah untuk membeli pesanan. Nampak ia tergesa-gesa ketika mendapat notifikasi dari handphonenya. Turun dari lantai tiga tepat pukul dua belas malam. Tak sempat ia berpikir menemukan siapa yang dicarinya. Orang yang menghubunginya melambai di tepi jalan. Pelan-pelan berjalan melewati jalan besar dan dengan cepat seseorang menubruknya. Dan segera berlari menuju celah sempit di gang sempit.

Dalam hatinya ia merasa pernah melakukan ini,” Apa namanya ya?”-Entahlah.

Sambil mendengus kesal ia berteriak sumpah serapah, “Laki-laki tidak tahu aturan!” Gerutunya setengah terdengar.

Sampai ia di tepi jalan, namun tak juga ia menemukan orang yang melambaikan tangannya. Merasa dipermainkan ia mencoba menelepon langganannya.

“Tung .. Tung ..!”

Namun bunyi telepon mengarah pada titik dimana laki-laki tadi pergi. Tanpa rasa curiga ia mendatangi gang sempit diantara pertokoan. Seketika lampu mulai bertingkah, hidup mati-hidup mati. “Apa yang terjadi?”

Seakan ia berada di alam lain, atau sesuatu mengharuskan ia berada di tempat itu. Mila melangkah mundur, dan menginjak sesuatu di belakangnya. Tubuh entah, Jasad mungkin, Mayat barangkali sudah menjadi mayat. Daging onggokan yang mirip manusia itu kepalanya terpelintir, menyisakan warna putih tulang yang mencuat dan daging segar yang membius penciuaman. Anyir darah dan linu melihatnya.

“Kyaaaa !!!” Dan ia berteriak dengan keras.

Lampu-lampu ruang interogasi mulai konsleting, Serasan Bras segera memberi perintah untuk menghentikan proses interogasi. Sebuah suntikan diberikan kembali pada Mila saksi mata pertama. Lalu ia berteriak dengan sadar dan ketakutan. Ia kembali mengingat kejadian tersebut tapi ada sepenggal cerita yang tidak ia sampaikan. Bukan ia berbohong. Tapi ia memang tidak mengingat apa yang terjadi di gang tersebut.

“Maaf Sersan, aku tidak dapat mengingat pembunuh itu.” Mila melepaskan ikatan di tangannya dan kemudian meminum cairan pelarut dahaga. Keringat berceceran. Sekretaris Pian mencatat kejadian yang terekam di layar computer. Tanpa Saksi menceritakan kronologi cerita pun sudah ada di dalam Komputer. Namun hanya bersifat sementara, selepas saksi sadar, rekaman itu hilang dengan sendirinya.

“Sudah kau catat semua detail kejadiannya?” Sersan Bras meminta tulisan pada Sekretaris Pian. Dan tanpa harus membaca keseluruhan, ia mencoba mengambil tindakan.

“Tempatkan saksi di tempat yang aman sebelum kita tahu apa yang terjadi sebenarnya.”

Ia meminta anak buahnya untuk mengantarkan Mila ke Hotel MetroName untuk sementara tinggal disana. Mila diantar keluar ruangan dan tanpa sedikitpun pembicaraan. Membuat Mila dibuat bingung sebab selama ia berada di dalam ruangan, tak satupun pertanyaan terlontar dari mulut kepolisian. Tim kepolisian memang sengaja tidak menampilkan teknologi selama ia berada disana, maka dari itu Saksi akan ketahuan jika ia berbuat kebohongan atau membuat alibi.

Mila segera membereskan tempat tinggalnya. Mengemas pakaian dan segala sesuatu yang ia perlukan. Sementara pihak kepolisian menjamin keselamatannya, melunasi biaya tunggakan listrik dan uang sewa kamarnya, dan membiayai kebutuhannya selama pelaku belum tertangkap.

Ada sedikit rasa kegembiraan terlihat di wajah mila. Ia rasa hak-haknya sebagai warga Metropolitan akan didapatnya. Menikmati hotel berbintang dan dilayani layaknya masyarakat kelas atas.

“Tung-tung!” Lagi-lagi suara itu.

Notifikasi handphone terdengar di kejauhan. Tim kepolisian mengamankan setiap barang bukti yang ditemukan. Ia tidak dapat menyentuh atau bertransaksi lagi selama ia berada dalam hotel. Pelanggan-pelanggan bisnisnya akan hilang dalam sekian waktunya.

“Tenang Mis Mila, apapun yang anda butuhkan akan kami sediakan. Jika anda membutuhkan alat komunikasi akan kami siapkan. Tapi satu syarat yang harus mba penuhi. Tidak ada satu orang pun yang harus tahu keberadaan Mis Mila. Mis paham!”

“Kenapa harus seperti itu? Bukankah aku hanya sebagai saksi bukan tersangka?” Mila mencoba berpikir ulang. Entah kenapa ada yang salah dengan alur kejadian ini.

“Mis mau penjahat sebenarnya datang ke tempat Mba?” tanpa menjawab pertanyaan tersebut, Mila menundukan pandangan. Matanya merasa kendur. Ia melemah dan menuruti semua aturan kepolisian.

Malam telah berganti, saksi pertama telah diminta keterangannya. Daftar list Sekretaris Pian masih ada beberapa yang belum diundang. Sersan meminta anak buahnya membuatkan dua cangkir kopi hangat. Mereka berdua rapat di dalam ruangan kerjanya.

“Apa kau melihat siapa yang Mis Mila lihat?” Sersan Bras mencoba menekan arah pembicaraanya.

“Ya.” Sekretaris Pian memberikan photo padanya.

“Lalu kenapa Mis Mila tidak mau menyebutkan siapa yang ia lihat?” Sersan mengamati photo di atas meja.

“Apakah ia mencoba menutupinya?” Sersan mencoba memposisikan jadi dirinya. “Jika aku jadi dia, apakah aku juga akan melakukan hal ya sama?”

Sersan Bras memposisikan ketiga photo di atas meja. Mila, Korban dan Seseorang yang belum dimintai keterangan. Lingkaran ini penuh dengan keterkaitan.
Agus Sutisna
Agus Sutisna

Ini adalah biografi singkat mengenai penulis; Ia mudah terbawa angan-angan sehingga terlihat diam dan mematung. Justru disanalah ia mengumpulkan dunia imajinasinya. Selebihnya ia sangat tampan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar