Mariah Hasli 3 - Korban Pertama

Malam Menjelang, tirai dibalut menjadi rupawan. Bulan purnama mulai menaklukan kegelapan. Di salah satu sudut gang pertokoan, cahaya lampu mulai redup dan menunjukan gejala akan mati. Terdengar kegaduhan dan mulai orang-orang berkerumun tanda penasaran. Seseorang mati mengenaskan disana.

Suara ambulan terdengar menyayat kelenggangan malam. Beriringan dengan mobil patroli mulai mengamankan daerah tersebut. Garis polisi dibentangkan, sorot kamera mulai dihadang bagi wartawan.

“Segera amankan tempat kejadian perkara.” Sersan Bras member perintah lisan pada anak buahnya. Pian mencoba mengatur barisan dan mencari jejak pelaku yang kemungkinan masih ada di sekitar area pertokoan.

“Kami hanya bertugas mencari informasi, Pak!” Seorang wartawan Metropolitan mencoba bersitegang diantara kecemasan warga. Duduk diantara kursi-kursi saksi membuat ia susah untuk bergerak mencari informasi.

“Mohon, anda bekerja sama dengan kami. Kalau anda mencoba melanggarnya kami tidak segan-segan menghakimi anda.!” Sersan Bras mencoba bersikap tenang, sementara ia menangani korban ia meminta pada salah satu anak buahnya untuk menangangi wartawan ini.

Jonathan Lee. Ia mulai berkuasa sekarang, amanah dari Sersan Bras membuat ia leluasa mengamankan siapa saja dihadapannya. Tak terkecuali wartawan itu. Namun sayang sikap keras kepalanya membuat sang wartawan mulai beringas.

“Duduk sekarang, atau saya bertindak!” Tangan besar Lee mulai menyentuk kamera Pak Gio. Sikap arogan Lee tersebut membuat Pak Gio mulai menyulut amarah. Namun sayang walaupun bertubuh besar dan sekuat tenaga apapun, Jonathan Lee bukan militer sembarangan. Ia mampu menaklukan serangan Gajahnya. Mulai dari hal inilah Sersan Bras mempercayakan pengamanan pada Lee.

Hujan tiba-tiba datang menyapukan berkas darah dan bukti-bukti jejak, satuan polisi yang bertugas mulai kerepotan. Hujan makin deras namun tetap saja tidak bisa membuat warga menyingkir dari tempat kejadian perkara. Mereka malah makin berani menerjang garis polisi. Hanya untuk mendapatkan satu kepastian, siapa korbannya. Apakah salah satu dari kerabat atau kenalannya.

Suasana mulai tidak dapat dikendalikan, pandangan mulai terkaburkan. Sementara mayat belum juga dievakuasi karena penyelidikan masih berkutat pada tubuh korban.

“Kita tidak dapat menunggu lama, bawa segera korban dan naikan ke ambulance.” Perintah Sersan pada anak buahnya. Sementara Pian menanyai satu-persatu saksi kejadian tersebut.

“Jangan bawa korban ke rumah sakit dulu, bawa ia ke markas Laboratorium.” Perintah kedua Sersan pada pegawai ambulance, Sementara satu anak buahnya ikut ke dalam mobil dan melaju dengan cepat.

Sersan mulai mencoba mencari informasi dari anak buah yang lain, namun laporan belum juga sepenuhnya memuaskan. Dan tidak mungkin juga ia harus mengeluarkan amarahnya diantara warganya. Menjaga image tetap menjadi pedoman Sersan Bras, meski kelakuannya sangat memuakan pihak lain. Tapi mau tidak mau, mereka harus mengakui kehebatan dan ketelitian Sersan Bras dalam menguak misteri.
Agus Sutisna
Agus Sutisna

Ini adalah biografi singkat mengenai penulis; Ia mudah terbawa angan-angan sehingga terlihat diam dan mematung. Justru disanalah ia mengumpulkan dunia imajinasinya. Selebihnya ia sangat tampan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar