Mariah Hasli 1 - Surat Tugas


Cahaya mengawali semua cerita. Kali ini kilat yang membelah tirai malam. Pertunjukan dimulai.

Diawali dengan suara guntur membelah hiruk pikuk kota Metropolitan. Bergelegar di awal Januari. Menampung seluruh satuan militer untuk tetap berada di dalam gedung perkantoran. Malam ini sebagian saja yang berjaga di luar. Sementara yang lain terjebak hujan dan banjir yang menggenang seluruh area jalan.

Di sudut ruangan yang berkaca, lantai empat. Terdengar suara percakapan dua orang dewasa. Sesekali terdengar suara gertakan, dan pukulan keras meja. Suaranya terbawa dan terseret derasnya air hujan. Sampai-sampai tidak terdengar dengan jelas meskipun mereka satu lantai.

“Tugas ini harus selesai minggu, ini!” Sentak Kapten Hans Mdade pada seseorang yang duduk terhalangi pintu.

“Siap, pak!” orang itu tahan dengan penjelasan dan berbicara seformalnya. Lalu ia terlihat berdiri dan memberi hormat setelah itu mendekati pintu keluar dan menutupnya.

Rapat-rapat ia tutup pintu ruang kapten Hans. Ia tidak juga diperlakukan semaunya. Ia harus menjaga nama baiknya di antara anak buahnya. Sersan Bras segera mengambil tindakan dan berjalan tegap tanpa ekspresi apapun. Sementara staf-staf menunggu giliran masuk dan tidak sekalipun mendengarkan pembicaraan karena hujan yang begitu besar. Oh syukurlah. Hujan ini menyelamatkan wibawanya.

“Pian, kumpulkan pasukanmu sekarang!” Teriak Sersan Bras setelah ia memasuki ruanganya. Ini adalah ruang kekuasaaannya. Apapun bisa ia luapkan disini.

Pasukan Garuda binaanya dikumpulkan berjajar tegap sekalian menyembunyikan ketakutan. Mereka tahu betul apa yang akan terjadi jika mereka dikumpulkan. Push-up 50 kali, jump-Up 50 kali sudah mereka siapkan jika itu memang menjadi kebiasaan.

“Lakukan!” Tanpa menoleh pada pasukannya, Sersan menyebutkan hitungannya. Tanpa melihat ke belakang pun ia tahu mana pasukan yang tidak patuh padanya.

Hujan masih menyelimuti kota Metropolitan. Ia masih belum menghilangkan kemarahannya dalam dada. Dan tidak cukup bijakasana jika ia berbicara dalam keadaan terkungkung amarah. Jendela kaca kantor membekas rintikan air hujan, itu bisa membantunya melihat siapa yang tidak melakukan perintahnya dibelakang.

Sebuah surat tugas terbengkalai di atas meja. belum dibuka sejak surat itu sampai pada pagi hari yang lalu. Ia mencoba melemparkan wadah sekar tepat ke salah satu anggota di belakangnya. Dan nyaris mengenai kepalanya. Prajurit itu menahannya dengan satu tangan. Sebuah kecepatan tangan atau sebuah ketidakberuntungan. Suara-suara riuh terdengar.

Sementara prajurit ini tersenyum karena benda yang dilempar Sersan Bras tidak menemui jidatnya. Selagi ia membanggakan diri sebuah bogem mentah melayang kembali tepat dihadapan wajahnya. Ia mencoba menghadangnya lagi. Tapi saying itu adalah tangan mentah Sersan Bras. Kedua mata mereka bertemu.

“Prajurit sialan, tidak tahu siapa pimpinan.!” Teriak keras Sersan Bras di telinga. Membuat siapapun tercengang dan ketakutan.

“Prajurit bodoh!” Sersan Bras memukuli perutnya dan membiarkan prajurit lain menyaksikan tanpa satu pun pembelaan. Sepuas hati Sersan Bras memukuli dan membinasakan salah satu prajurtnya. Hingga salah satu tanda pengenalnya jatuh dan Sersan menghentikan serangannya.

Terlihat bonyok dan tidak berdaya prajurit itu, memohon dilepaskan. Sementara atas perintah Sersan Bras ia dikeroyok lagi oleh semua anak buahnya. Mereka sadar betul jika tidak meninju ia yang akan ditinju.

“Jonathan Lee ..” bisiknya. “Sudah merasa hebat kau tidak menuruti perintah pimpinanmu!” Sekali lagi ujung sepatunya mengenai pelipis Lee. Wajahnya yang hanya dihadiahi sepasang mata sipit terlihat mengerikan setelah dihajar olehnya.

Tanpa bisa berucap ia memohon untuk dihentikannya. Tapi suaranya hilang entah kemana. Sementara tangannya mencoba menunjukan tanda menyerah.

Sersan Bras menghentikan perangnya. Ia mengasihaninya sekarang. “Ambil makanan dan obat-obatan dan tempatkan ia di tempat yang layak. Besok pagi ia harus ikut misi.”

“Baik, Sersan.” Seluruh pasukan mulai membantu Sam berdiri dan membawanya menjauh dari tempat. Sebagian datang kembali membawa peralatan kebersihan untuk menghilangkan bekas darah dan perabotan yang hancur saat perkelahian tadi.

Sementara disudut lain, Pian menertawakan tingkahnya yang seperti anak kecil. Pimpinan seperti itu mana bisa jadi teladan baginya. Tapi itu sudah menjadi penglihatan sehari-harinya. Sungguh tidak jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya. Dan sudah ada beberapa anggota baru yang meminta untuk pindah team. Sementara ia tidak dapat mencegah mereka yang tidak sekokoh batu baja. Akhirnya setiap bulan surat pengunduran diri dan surat rekomendasi pemindahan melayang padanya. Ia yang harus mengurusi seluruh kenakalan pimpinannya.

Hujan mulai reda, dan Sersan Bras mulai reda amarahnya. Saatnya sebuah kopi hitam kembali menghangatkan suasana.

“Apakah dia prajurit baru?” Bras mencoba berbicara pelan paa seketarisnya.

“Ya, ia prajurit pindahan dari Team Genetic. Ia mempunyai pengalaman yang luar biasa untuk bertahan hidup di hutan. Ceritanya sungguh pasti pernah kau dengar, ia bekas prajurit Kapten Hans Mdade.” Pian sengaja membisikan nama Kapten Hans Mdade, untuk mencoba menakutinya.

“Sialan ..” gerutunya.
Agus Sutisna
Agus Sutisna

Ini adalah biografi singkat mengenai penulis; Ia mudah terbawa angan-angan sehingga terlihat diam dan mematung. Justru disanalah ia mengumpulkan dunia imajinasinya. Selebihnya ia sangat tampan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar