The Icon Part 3 - Lidah Lilith

Gelap. Gelap, lalu dingin. Dingin-dingin. Lalu sesuatu seperti memelukku. Jijik.

Sesak. Ruang nafas terasa sedikit. Tubuhku dipermainkan oleh sentuhan. Aku ingin berontak. Aku ingin menendang. Menghajar. Melabeli dengan kata-kata najis pada makhluk yang mempemainkanku.

Makhluk yang tidak pernah aku lihat sebelumnya.

“Bodoh!” Seseorang yang keras berteriak keras di telingaku lalu menampar wajahku. Keras sekali suaranya. Tapi aku belum merasa mampu untuk berdiri. Sekuat apapun aku menggerakan jariku, sia-sia. Dan orang itu kembali mengucapkan kata 'Bodoh' padaku.

Aku terbangun mataku terbelak.

“Dimana aku? Di Akhirat?” Aku melihat malaikat pencabut nyawa ada di depanku. Dengan kepalan besarnya hampir menuju wajahku lagi. Disampingnya ada juga bidadari yang sangat cantik, namun tidak bersayap.

“Kuy, kau sudah sadar?” Seorang lagi setan hitam menggerayangi wajahku. Dan aku makin yakin jika itu adalah Juh, teman sebelah kamarku.

“Ada apa, kenapa aku ada disini?” Aku bengong sendirian, seingatku aku berada di lorong dan ditarik setan kerbau. Tapi sekarang ada di ruang kesehatan bersama Bang Pandji, Juh dan perawat yang cantik. Syukurlah aku masih tinggal di bumi. Kalau tidak aku tidak bisa menulis cerita ini.

“Kau mempermalukan geng asrama cowok, tahu!” Juh menopang bahunya padaku dan mengantarkanku pergi menjauh dari kamar kesehatan dan menuju asrama cowok. Ia terus saja nyerocos tetapi ia tetap membantuku berdiri.

"Aku tak mau tinggal di Asrama!" teriakku.

"Kita memang tidak akan tidur di asrama, tahu!" Juh susah payah membopongku. "Aku mau membereskan pakaianku dan pergi ke Asrama cewek!"

"Apa setan itu mengganggu siswa yang lain?" Aku meyakinkan jika Juh tidak diapa-apakan oleh setan kerbau itu. Entah siapa namanya. Di kampung ku dinamakan 'Behehe' tapi di dunia barat dikenal dengan nama 'Belial' sosok malaikat yang diusir oleh Tuhan ke Nereka setelah Lucifer. Entahlah. Manusia memang pandai bercerita.

"Gila lo Kuy!" Juh menyikut tubuhku. "Jangan menambah kegaduhan di kampus kita! Tidak ada itu namanya hantu kerbau! Kau perlu istirahat benar. Kau belum sehat betul!"

"Aku takut kau meracau disana!" Juh seakan menghindariku. Bakteri aku. "Di asrama kita sedang ada pemeriksaan terkait bukti dan tempat kejadian. Banyak polisi di sana. Jadi kita diungsikan." Ia memaparkan sampai telingaku pedas. Dikatakannya aku terlalu banyak baca cerita horror.

Suhu kamar sudah kembali normal, tidak banyak lagi keluhan dan ketakutan dari penghuni asrama. Pihak kampus sudah melakukan pembersihan dan pemeriksaan. Kami bisa tidur siang dengan tenang, tapi tidak dengan malam. Malam hari kami masih beristirahat di gedung sebelah. Asrama cewek.

“Dasar Otak Mesum..!!!” Teriak seorang gadis dari dalam kamar dan menedang habis cowok dari dalam kamarnya.

“Ini kamar cewek, tahu! Tuh kalian warga buangan tidur di tempat sana!” Sambil menunjuk arah dapur dan lorong gudang. Ia berkacak pinggang, sembari memamerkan pinggangnya yang langsing. Rambutnya yang dikucir dibiarkan bergerak-gerak bagai ekor anjing.

“Bruk!” Suara keras dari seluruh kamar cewek bersamaan menutup pintu. Tidak ada celah masuk bagi mahasiswa buangan seperti kami.

Kami mendekati ruang dapur dan lorong gudang tersebut, berantakan, bau dan pengap. Di belakangku berbaris cowok-cowok penakut dengan membawa peralatan tidurnya.

“Kalau begini terus, sama saja dengan menginap di asrama cowok. Malah lebih baik disana!” Gerutu salah satu mahasiswa lain, sambil “ngampar tikar” di dapur.

“Kalau berani pergi saja ke asrama.!” Timpal Juh yang sudah tidak tahan mengantuk ingin tidur. Di sebelah kepalanya ada panci dan beberapa alat dapur yang belum dibereskan penghuninya. Sementara aku mencari cahaya lampu untuk dihidupkan karena mataku bisa sakit jika harus mengetik tulisan ini.

“Aku lupa bawa charger, Juh!” Aku meraba-raba stop kontak di lorong gudang. Baterai ponsel pintarku tinggal lima puluh persen. Aku tidak mau jika tengah malam terbangun karena kehabisan daya.

“Kuy, .. tidur saja. Besok saja menulisnya. Sudah malam ..” Juh berkata-kata entah ia focus padaku atau dalam mimpi. Tapi tangannya aktif memberi charger padaku. Gila. Aku bahkan tidak dapat membedakan kapan dia tidur, kapan dia terjaga.

Mirip dengan jurit malam, aku bergeser merayap dari satu dinding ke dinding lain dalam keadaan gelap. Hanya untuk mencari lubang charger. Tanganku mencoba mencari lubang-lubang di dinding, kulakukan hati-hati agar tidak menyentuh arus listrik.

Tidak sadar aku telah jauh meniggalkan dapur dimana Juh dan kawan-kawan lain menginap. Aku juga melewati gudang. Aku tidak tahu seberapa jauh lorong ini, mungkin dalam keadaan gelap, insting kita tidak setajam kelelawar. Aku merasa sangat lelah merayap-rayap dinding dalam gelap.

Dan, Shafttt ..

Aku merasa memegang sesuatu yang pejal di dinding. Kupastikan lagi untuk meraba lagi dan memang pejal. Apa ini? Dalam gelap aku membayangkan sesuatu, cicak? Katak? Atau tangan? Pokoknya yang kenyal-kenyal. Dan tidak mungkin barang cewek ada disana!

Aku mulai menghitung mundur lalu dengan pelan bergerak mundur. Tapi setiap kali tangan ini meraba selalu saja menyentuh benda pejal itu. Sepertinya mereka berada di semua dinding-dinding. Tuhan apa lagi ini? Baru saja kemarin aku dikasih kejutan di lorong asrma cowok sekarang di lorong asrama cewek. Kejadian kemarin saja tidak ada yang percaya dan sekarang .. terjadi hal yang aneh lagi.

Aku cepat-cepat melepaskan tangan dan tubuhku dari benda pejal yang menempel di dinding. Mungkin di dinding karena ruangan sangat gelap gulita.

Aku mencari ruang dan berdiri di tengah-tengah, aku pikir akan aman. Dan aku bergerak mundur. Mencari ruang yang bisa kujelajahi dengan kaki. Sekarang dengan setengah keberanianku aku melepaskan tangan dan mencoba mencari arah dengan kaki, mulai merabah-raba apakah yang kuinjak adalah lantai atau dinding atau sejenis hambatan.

Lama aku mencoba cara seperti itu, hampir seperti pencuri yang beraksi di tengah malam. Lorong-lorong memang demikian luas dan panjang ya? Kenapa tidak kudapati dinding dan cahaya.

Kepalaku mulai terisi dengan hal-hal yang absurd. Pikiranku mulai tidak waras, bagaimana mungkin aku bisa tersesat di gedung asrama cewek?

Aku menahan segenap air mata dan menahan kantuk yang luar biasa, dan apapun yang ada di dinding tadi, lebih berarti daripada tidak ada sama sekali. Aku merindukan benda pejal tersebut entah itu cicak, katak, ular atau tangan manusia atau kepunyaan Juh. Pokoknya aku tidak mau berada di tempat sepi, luas dan gelap seperti ini.

Satu-satunya benda yang bisa kurasakan adalah lantai. Jadi aku turunkan tubuhku dan sengaja berbaring di lantai, dengan gaya tentara yang sedang melakukan halang rintang, aku mencoba mencari pertolongan. Terlihat bodoh tapi ini adalah cara terakhir aku bisa berinteraksi dengan benda-benda abiotik.

Aku keliru karena aku berbaring di dalam kegelapan. Sesuatu benda menempel di atas pungungku. Lambat laun menjadi padat, berat dan menyerupai manusia yang sedang duduk di atas punggungku. Tanpa kutahu siapa dan seperti apa, makhluk itu menertawakanku.

Hahaah ..

Makhluk itu dengan senang duduk di punggungku. Menggelitiku dengan sebebas-bebasnya.

“Tidak … Tolong!” Akhirnya aku berteriak, bodo amat kalau disebut pengecut dan penakut!

Aku tidak mau bertemu ICON menyeramkan dua kali!
Agus Sutisna
Agus Sutisna

Ini adalah biografi singkat mengenai penulis; Ia mudah terbawa angan-angan sehingga terlihat diam dan mematung. Justru disanalah ia mengumpulkan dunia imajinasinya. Selebihnya ia sangat tampan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar