Sangkuriang The Series - Naskah 5 - Dahyang Sumbi


Wajah yang ayu. Berhati lembut dan santun dalam berkata. Terlebih ia adalah anak dari seorang Gubernur. Pasti digilai oleh pemuda-pemuda tanggung. Dincar oleh pria-pria mapan. Diambil jadi menantu siapa saja. Tiada cela pada dirinya. Rarasati namanya.

Rarasati seringkali meninggalkan rumah orang tua angkatnya dan pergi mengunjungi beberapa panti asuhan. Banyak hal yang ia dapatkan dari Rumah Panti Asuhan. Rasa ‘beruntung’ masih bisa dilindungi dan diberi kehidupan layak oleh dinas Sosial dan Ketenagakerjaan.

“Neng Raras, mau mamang antar ke panti asuhan hari ini?” Pagi itu supir yang biasa mengantar ayahnya, datang pagi-pagi sekali.

“Bolehkan ayah aku hari ini ikut sekalian ke panti asuhan?” Raras menghampiri ayah dan ibunya yang sudah berdandan rapi.

“Ayah dan ibu kan sedang acara di Bandung.” Ibunya membenarkan dasi Ayahnya. “Kalau kau mau, bisa ikut ke Bandung. Sekalian mengunjungi Panti Asuhan yang ada di Bandung. Gimana?”

“Boleh, Ayah?” Raras meminta persetujuan Ayahnya.

Diusapnya wajah gadis itu oleh Sang Ayah. “Sungguh besar niat hatimu, nak. Kemewahan yang kami berikan lantas tidak membuatmu lupa akan hakikat kehidupan. Ayah bangga padamu!” Lalu sebuah kecupan mendarat di kening Raras.

Air matanya berlinang. Tak pernah ia menyangka, orang tua angkatnya tidak pernah membeda-bedakannya dengan anak kandungnya.
Pagi itu mereka berangkat bersama ke kota Bandung. Kota kreatif julukannya. Alunan merdu dari mobil dinas terdengar mengalun, lirih membuat siapapun merasa tenang dalam perjalanan. Ini perjalanan pertama bagi Rarasati. Kota Bandung. Kota dimana ia pertama kali diadopsi.

Ayah dan ibunya memang sedari kecil mengatakan hal yang sebenarnya. Hal ini membuatnya nyaman berada di lingkungan keluarga. Setidaknya tidak ada kepura-puraan di dalamnya.

“Ayah, hari ini selain mau mengunjungi ke panti asuhan, aku juga ingin bertemu dengan seorang kawan disana.” Raras memang lebih dekat dengan ayahnya. Ibunya mengusap rambutnya.

“Laki-laki atau peremuan?” ayahnya menatap ke depan. Dalam benaknya ia mengkhawatirkan kelak ada seseorang yang mencarinya di masa lalu. Tentu saja orang tua kandungnya. Namun sampai kini belum ada kabar dari pihak Panti, siapa dan mengapa bayi semanis itu ditelantarkan.

“Laki-laki, ayah!” Raras menyadarkan lamunan Sang Ayah. Sebelum ayahnya menengok kaget, ia melanjutkan. “Teman kuliah, di IPB. Anak bogor juga ayah. Ayah pasti kenal dia.”

“Tidak ada pemuda yang pernah datang ke rumah kita, Raras. Kecuali Abangmu sendiri. Coba jelaskan sama ibu dan ayah.” Ibu Raras menenangkan hati Sang Ayah. Kelihatan mungkin jika ayahnya tidak terlalu suka, anak gadisnya dirayu pemuda.

“Satu keluarga yang datang makan siang bersama pada hari Sabtu lalu, Bu.” Mata Raras masih menatap gerakan kepala ayahnya, berharap ia ingat waktu itu. “Anak dari teman ayah itu.”

“Oh, Si Bujang? Anak yang banyak bertanya mengenai sejarah Kerajaan Sunda itu ya?” Ayah Raras tertawa. “Kenapa tidak bilang dari awal. Kalau tahu begitu, Ayah ajak hari ini sekalian.”

“Dia sudah ada di Bandung, Ayah. Ikut ayahnya.” Raras sudah mulai tenang menjawab pertanyaan ayahnya. Ia pikir ayahnya akan marah, ternyata ia meminta Raras untuk dipertemukan kembali pada ayah si Bujang.

“Mungkin kita bisa rencankan makan siang bersama lagi ya!” Ayah Raras makin semangat bertemu kawanya itu. Lalu melanjutkan dengan cerita-cerita lain mengenai kedekatan mereka. Sementara Raras duduk di jok belakang, tertawa bersama ibunya. Mendengarkan semua hal yang jenaka tentang mereka.

((Alun-alun kota Bandung))

Lapangan hijau menjadi daya tarik bagi Si Bujang untuk rehat sebentar. Sementara Sang Ayah membeli sebungkus penuh seblak dan cilok goang, makanan khas pedas orang Bandung. Kota Bandung dikenal kretif. Mulai dari pakaian, budaya, bangunan hingga makananya. Semua nampak begitu aneh bagi Si Bujang.

“Makanan ini terbuat dari kerupuk mentah.” Si Bujang mulai mendeskripsikan makanan yang ada di tangannya. Diambilnya satu, dicobanya. “Sementara di Bogor mereka menggorengnya hingga mekar dan renyah. Orang Bandung menggenangnya dengan air kuah.”

Ia merasa makanan orang Bandung agak ‘nyeleneh’. Ada-ada saja buatannya.

“Sikap dan Keterampilan adalah dasar dari kehidupan anak muda Bandung ini.” Ayahnya menambahkan, “Kalau kau suka, kau bisa mengamati kreatifitas anak muda kota ini sebagai bahan skripsimu.”

“Aku lebih suka menggali legendanya, Ayah.” Si Bujang menatap lurus ke depan. Memperhatikan satu persatu manusia yang berlari, berjalan, duduk dan selonjoran di alun-alun kota. Nampak beragam dan jiwanya terbang membayangkan keluarganya yang lengkap. Ayah, Ibu dan Si Bujang.

Hilir mudik anak-anak muda, orang tua berkerumun disini. Ia tak habis piker. Kota sekecil ini memproduksi manusia yang begitu banyak. Mungkin saja salah satu dari mereka adalah titisan Wayung Hyang dan Situma Hyang. Si Bujang terkekeh sendiri. Membayangkan jika cerita tersebut benar-benar ada. Lalu Dahyang Sumbi. Lalu Sangkuriang.

“Betulkan nama lain dari Dahyang Sumbi adalah Rarasati, Ayah?”
Agus Sutisna
Agus Sutisna

Ini adalah biografi singkat mengenai penulis; Ia mudah terbawa angan-angan sehingga terlihat diam dan mematung. Justru disanalah ia mengumpulkan dunia imajinasinya. Selebihnya ia sangat tampan.

2 komentar: