Ciung Wanara dan Sang Naga - Naskah 3 - Wabah Hutan

Hutan itu mulai kehilangan kekasihnya. Direbutnya akar-akar dari pangkal batangnya. Dijadikan serbuk pada kayunya. Guna pembangunan yang menentramkan manusia. Fungi dan spora tercerai berai karena jejak padat dari kaki manusia. Apakah pemburu dia? atau kah penebang dia, atau pemborong dia. Merampas semua kekasih-kekasih rimba, hewan dan tumbuhan.

Ketua adat susah payah membangun cerita epik untuk melestarikan hutan, berpuluh-puluh tahun ia menyuapi masyarakat dengan dongeng-dongeng hutan keramat dan larangan. Namun terhempas seketika oleh manusia peradaban yang tak lagi menyayangi hutan. Mereka hendak menodai kesucian hutan dengan merusak. Ini tanah warisan kakek mereka katanya, hak mereka sebagai cucu-cucunya.

"Pembangunan jalan raya ini akan mempermudah akses masyarakat dalam pembangunan, pak!" perwakilan pemboronh tersebut menemui kepala adat untuk melakukan birokrasi.

"Tindakan kalian ini hanya akan menyeduh wabah bagi masyarakat disini!" Ketua adat melarang siapapun untuk memasuki wilayah hutan larangan.

“Begini, pak. Mohon pengertiannya. Pembangunan ini ditujukan untuk memeratakan pembangunan di kota kita. Kami tidak main hakim sendiri dan kami mengerti benar bagaimana dan apa fungsi hutan. Kami hanya mengambil beberapa meter saja untuk membangun jalan yang akan menghubungkan daerah jawa barat dan jawa tengah.” Kepala pembangunan memberi segepok uang kepada ketua adat. Disaksikan oleh seluruh warga adat. “Ini bukan sogokan, sekali lagi ini bukan sogokan. Ini adalah upaya kami untuk mensejahterakan warga. Dengan uang ini masyarakat bisa membangun sendiri kawasan wisata, membangun sendiri tempat umum dan pekerjaan. Saya yakin ini sangat berguna bagi warga.”

Esok harinya pembangunan dilanjutkan. Warga tidak berani mendekati tempat proyek tersebut. Sebab wabah hutan akan terjadi tidak lama kemudian.

Suara mesin menyapu bersih suara khas hutan, tidak ada suara burung, suara jangkrik, suara monyet dan suara hewan lain. Suara mesin mendominasi pendengaran. Selang beberapa jam saja hutan hampir tergunduli. Kayu-kayu tergeletak tak berdaya dihanyutkan aliran sungai. Bibit-bibit tanaman yang sengaja warga tanam, terinjak dan patah. Barangkali mati terisak. Tapi siapa yang mendengar suara jeritan mereka. Sepatu but-sepatu but merampas kehijauan mereka. Lumpur dan tanah basah mencetak dihamparan rumput tua.

Siang dan malam para pekerja menebas, menebang dan meruntuhkan pepohonan. Tapi tidak selesai-selesai. Seakan hutan itu hidup dan tumbuh. Tidak ada satu batang rumput pun yang terpatahkan. Para pekerja merasa kehilangan akal. Pemimpin mereka mana mungkin bisa menerima kekonyolan ini. Yang akhirnya mereka mencari penyebab dari hal mistis tersebut.

“Kami sudah bilang bahwa hutan ini bukan hutan biasa. Kami adalah saksi hidup di tanah leluhur ini.“

“Ini tidak dapat dibenarkan! Hal tersebut tidaklah mungkin terjadi!” Suara keras dari telepon membuat telinga pekerja merah padam.

“Cepat kerjakan atau terima surat pengunduran!” terdengar ketus dalam pembicaraan.
Mereka dengan terpaksa memasuki hutan untuk observasi. Hujan membunuh penglihatan. Tanah-tanah menjadi gemulai, licin dan mematikan. Sepuluh orang pekerja menyelinap malam-malam menuju pemburuan atas rasa penasaran. Apa yang terjadi sebenarnya di kedalaman hutan.

Salah satu dari mereka membawa kamera. Dan mereka sebenarnya membawa nyawa mereka. Mengirim ke tempat yang tepat. Hutan larangan.

Sudah dua hari setelah pemberangkatan mereka, tidak muncul kembali. Dua minggu berlalu tidak ada yang terjadi, seketika mereka hilang dengan sempurna. Dan mesin-mesin masih tergolek diperbatasan hutan. Lama kelamaan berkarat dan tidak ada yang membersihkan. Lalu hujan sedikit demi sedikit membenamkan mereka.

“Akan ada satu pemuda yang akan memasuki hutan tersebut dan akan senyaman rumahnya. Tertera dalam naskah-naskah kuna peninggalan leluhur.” Ketua adat memulai perkumpulan dibalai. Beberapa mahasiswa terkagum-kagum mendengar cerita, ah ralat. Dongeng. Bukan. Legenda. Entahlah.

“Kami akan menginap beberapa hari disini, Pak.” Salah seorang pemuda mewakili teman kelompoknya.

“Kenapa aku merasa tidak enak ya?” Salah satu mahasiswa bernama Raras berbisik ditelinga Si Bujang. “Apakah cerita itu benar-benar nyata?”

“Entahlah. Tapi cerita ini wajib diunggah di blog kita!” Si Bujang mencatat seluruh perkataan ketua adat. “Kita akan baik-baik saja jika kita punya niat baik.”

"Disini kita tidak mempunyai listrik, kita akan memerlukan buku catatan ini." Si Bujang memberikan satu persatu buku catatan. "Hal sekecil apapun catat ya!"

Mereka mengangguk. Misi ini harus cepat selesai. Mau tidak mau. Percaya tidak percaya. Mereka harus pulang segera ke kota, karena tidak mudah anak perkotaan hidup dalam penjara alam dan kayu-kayuan.
Agus Sutisna
Agus Sutisna

Ini adalah biografi singkat mengenai penulis; Ia mudah terbawa angan-angan sehingga terlihat diam dan mematung. Justru disanalah ia mengumpulkan dunia imajinasinya. Selebihnya ia sangat tampan.