Ciung Wanara dan Sang Naga - Naskah 1 - Suara Gaib dari Hutan Larangan

Hutan tropis. Lembab dan gerimis. Kanopi hutan yang tebal. Berkabut dan berselimut. Matahari sengaja terbenam dengan cepat. Serigala seakan menunggu giliran makan malam. Mengaung mengikis purnama dari waktu ke waktu. Lalu hujan menyempurnakan kengeriannya.

Hutan yang berada di wilayah kabupaten Ciamis ini. Disebut-sebut sebagai hutan geledegan. Hutan yang tidak semua orang bisa mengaksesnya. Bahkan tidak semua spot ditemukannya. Hutan dengan seribu pantangan.

“Kau tidak takut padaku?” Suara menggeram di balik bukit yang gelap.

“Kenapa harus takut?” Pemuda itu menggelang. “Aku hanya mencari kayu bakar!”

“Kau tahu disini pantang mematahkan satu dahan pun. Apalagi mencari kayu bakar!” Suara gaib itu berteriak sekencang-kencangnya. Tanpa wujud.

Suaranya seperti gemuruh air bah. Hampir tidak jelas karena bambu dan pohon-pohon besar tertiupnya. Hujan Nampak mengaduk-aduk hutan tersebut. Dan pemuda tersebut tetap berdiri di antara tanah merah. Basah.

“Enyah!” Suara itu seakan menerjang dada pemuda tersebut. Tanpa sekat waktu sebuah pohon besar menghantam tubuh pemuda itu hingga hancur.

Kematian pemuda tersebut menghebohkan sekitar hutan geledegan. Mulai sekarang tidak ada yang berani memasuki bahkan mendekati hutan itu ketika hujan atau setelah pukul lima sore. Maka peraturan baru di tambahkan oleh ketua adat setempat.

Tahun berganti. Warga sudah terkikis kepercayaannya. Hampir seperdelapan hutan dirusaknya. Kecanggihan teknologi menjadikan manusia maniak dan tamak. Hutan tersebut adalah incaran bagi para penambang kekayaan.

Suatu hari seorang pemuda keluar dari hutan dalam keadaan tercabik. Warga kembali geger mendengar berita tersebut. Pemuka adat menenangkan warganya. Ia bersumpah akan menentramkan penghuni hutan tersebut.


“Saya harap, warga disini tetap tenang dan hormati kearifan lokal yang telah kita junjung selama ini.” Ketua adat bersuara ketika aksi musyawarah di bale kampung.

“Tidak sekonyong-konyok penghuni hutan marah jika tidak kita ganggu.”

“Maaf, ketua!” Seorang pemuda kota yang datang dari Bandung menghadiri pertemuan tersebut. “Sebelumnya saya memperkenalkan diri kepada ketua adat dan semua warga yang datang. Saya Ciung wanara, saya kesini untuk melakukan penelitian terhadap keanekaragamn hutan di kampung ini.”

Ciung menunjukan kartu tanda pengenal yang menggantung di lehernya. Ia seorang wartawan dari salah satu Koran di jawa barat.

“Apakah korban dari beberapa pemuda tersebut adalah sungguh-sungguh akibat penghuni hutan ataukah akibat dari bencana alam seperti longsor atau sebangsanya?”

Seluruh warga terdiam. Mereka semua terlahir dalam masa yang sekarang. Dongeng-dongeng tersebut tidak sepenuhnya mereka buktikan. Mereka hanya mendengar dari ayah mereka. Ayah mereka mendengar dari ayahnya lagi. Dan begitu sampai leluhurnya.

“Mulai dari sekarang. Kita harus tetap tenang. Tidak akan berbahaya bagi orang yang memang tidak punya niat jahat.” Pertemuan itu diakhiri dengan makan tumpeng. Ciung merasa tidak nafsu makan, ia hanya mengambil telurnya saja dan mendekati ketua adat.

“Maaf atas ucapanku tadi, pak!” Ciung menundukan kepalanya.

“Ciung, anak baik. Bapak paham apa yang kamu pikirkan. Tapi setidaknya mereka menggenggam kepercayaan mereka. Dan itu tak mudah untuk membalikannya. Biarkan saja mereka tahu apa yang mereka tahu. Tidak ada yang tahu juga apa yang terjadi sebenarnya di dalam hutan.”

“Aku tahu kamu anak baik. Ciung.” Ketua adat memberikan sebuah benda pada tangannya. “Mungkin benda ini bisa membantumu, sewaktu perjalanan besok ke dalam hutan. Kau tak takut kan?”

Ciung menggeleng.

Ia tetap pada keputusannya untuk meneliti hutan tersebut. “Besok saya mulai memasuki hutan, pak, Mohon bimbingannya.”

Malam meneduhkan perasaan. Tapi hujan masih meneriakinya. Keras. Ciung dalam perjalanan menyusuri mimpinya.




((Dalam Kedalaman Hutan))


“Apakah kau sudah melakukan satu syaratku?” Suara menggema itu membangunkan lamunan Ciung.

“Sudah. Mulai sekarang. Warga tidak ada yang akan memasuki kawasan hutan ini lagi.” Ciung duduk di hadapan Gua yang gelap. Tidak pernah ia melihat wajah dan rupa si suara.

“Bagus. Aku tahu kamu sanggup!” Suaranya kembali menggema kali ini dengan suara tertawanya yang membahana.

“Sekarang kau harus melakukan syarat yang kedua!” Suara itu membenamkan kembali pendirian Ciung. Syarat-syarat yang berat bagi pemuda kota sepertinya. Makhluk itu tidak langsung memakannya. Tidak langsung menyakitinya. Makhluk itu mempermainkannya.

“Tapi kamu berjanji akan mempertemukanku dengan kedua orang tuaku, kan?” Ciung mulai berani mempertanyakan alasan ia bertemu makhluk tersebut.

“Kurang Ajar. Anak muda sepertimu tidak tahu adab. Beraninya memanggil ‘kamu’ padaku?” Sentak Makhluk gaib itu.

Ciung ciut. Ia tidak tahu apa yang salah dari ucapannya.

“Kemari .. dekati aku .. kalau kau ingin tahu wujudku!” Suara itu menggodanya agar mendekati mulut gua. Pelan-pelan ia melangkah. Antara takut dan penasaran. Karena suara tersebut selalu mendatanginya setiap malam sejak ia kecil di panti asuhan.

“Astagfirullah!!” Ciung loncat ke belakang. Hampir ia tersandung akar pohon besar. Ia berlari sekuat-kuatnya menembus hutan.

“Astagfirulloh apa itu?” Ia tak henti-hentinya menyebut asma Alloh. Ia tidak kuat menatap matanya. Hanya mata dari sekian wujud fisik yang dilihatnya. Berlari. Berlari ia melupakan wajah itu. Wajah menyeramkan dari seekor Naga Besar.


Agus Sutisna
Agus Sutisna

Ini adalah biografi singkat mengenai penulis; Ia mudah terbawa angan-angan sehingga terlihat diam dan mematung. Justru disanalah ia mengumpulkan dunia imajinasinya. Selebihnya ia sangat tampan.

2 komentar:

  1. Duh saya merinding, serius, untung bacanya malam minggu ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aduh .. Perasaan ini bukan cerita horror .. Tapi makasih sudah baca dan koment.

      Hapus