Cerbung - Labirin Terkutuk - #1 Terdampar

Aku berada di hutan. Belantara tanpa peta. Entah ada di pulau apa. Borneo atau Papua. Seluruh yang kulihat adalah hijaunya daun merambat. Daun dari pohon yang menjulang besar. Hingga melilit bagai ular. Sekelilingku hanya tumbuhan beranggas, besar, menyeramkan dan kakiku terkilir.

Aku seperti bangun tidur. Seluruh tubuhku benar-benar limbung. Berat rasanya untuk dirasakan. Sementara jantungku tetap berdetak normal. Hingga selang beberapa lama aku sadar. Dan berteriak ketakutan.

Aku menggila tidak sadar. Kondisi trauma akibat kecelakaan. Meraung kesakitan dan mengeluh berlebihan. Aku sendiri merasa tak bisa mengontrol pikiran.

Tangan dan kakiku ditekan, dipegang, diikat supaya tidak mencakar. Tubuhku didekap dengan sesuatu yang sangat besar. Aku makin meraung-raung kesakitan dan “Plakk!” Pipiku ditampar orang besar. Sangat keras.

Tubuhku melemah. Sementara tubuh yang menindihku terasa hangat. Aku serasa dipeluk dalam perselingkuhan katak. Telingaku mulai menguap. Samar-samar pendengaranku mulai normal. Samar-samar ada yang berbisik dengan lembut.“Tenang!”

Aku terperanjat seperti bangun tidur. Seluruh tubuhku kali ini terasa perih. Tubuhku terasa dingin dan bugil. Aku sudah seperti orang buangan yang diperkosa. Aku meraung-raung dan memohon untuk dihentikan dan “Byurr!” Air entah satu gentong jatuh menukik diantara ubun-ubun. Jantungku yang kaku kembali bereaksi dan berdetak. Tenggorokanku tercekat. Aku kehabisan nafas. Dan aku tidak ingat lagi setelahnya.

Berkunang-kunang. Kedinginan.

Lama aku tertidur tanpa arahan mimpi. Lengang tak berarti. Aku terbangun karena sunyi. Lalu ada suara berbisik-bisik. Aku terbangun tanpa membabi buta lagi. Lebih tenang sekarang. Aku takut kesalahan yang aku perbuat. Mereka menamparku, menelanjangiku dan membenamkan wajahku pada air waktu itu.

Penglihatanku mulai normal. Otot mataku mulai terbiasa melihat dengan jelas. Aku berada di kamar mirip rumah sakit. Pakaian yang kukenakan terlihat sama. Putih. Aku bangun perlahan. Menahan nafas sekecil mungkin agar mereka yakin aku terlihat normal sekarang. Aku harus hati-hati dengan perbuatan sekecil apapun.

Apa yang kita pikir tindakan kita benar. Belum tentu mereka demikian.

Dokter-dokter sedang menangani pasiennya. Aku berjalan dengan perlahan. Lantainya putih dan dingin. Aku mempercepat jalanku. Aku ingin tahu situasi di sekitar. Makin lama aku disana, makin tak tahu aku dimana. Luas.

“Mau lari kemana?” Ada tangan yang menerkam pergelanganku dengan keras. Seorang dokter sepertinya. Tapi tubuhnya tegap berisi. Lebih cocok jadi tentara dari pada dokter. Otot wajah yang kaku dan urat tangan yang nampak keluar. Pergelangan tangan yang kuat mencengkeram. Telapak tangan yang kasar.

"Jangan coba-coba melarikan diri!" Ancamnya. Lagi-lagi cengkeramannya sangat kuat. Hampir membuat tulang pergelangan tanganku putus. Sekali memberontak, aku ucapkan selamat tinggal pada tangan kananku.

 “Plakk!” Tamparan kedua dari orang yang sama. Tanpa ragu-ragu, ia melayangkan tangannya.

“Coba terka berapa jariku?”
“Dua!”
“Plakk!” Aku ditempeleng lagi. Aku melihat semuanya seperti double. Aku coba konsentrasi dan melihat jari tengahnya menunjuk padaku.

“Satu!”

“Bagus, kau sudah sadar!” Orang yang berbeda. Dan tempat yang berbeda.

 “Ayo semuanya kita berkumpul di dekat api unggun!” Ia menawarkan lengan besarnya. Aku pegang dan diangkat hingga aku berdiri. “Leka pakai baju dan ikut berkumpul!”

Aku melihat diriku telanjang. Aku tidak sendiri disini. Tapi aku tidak bisa menerka pikiran mereka. Apakah hal sama juga terjadi? leherku terasa pegal, sepertinya aku terlalu lama tidur dalam pesawat.

Kami berkumpul membentuk lingkaran. Aku tertunduk merasa malu. Entah benar apa yang terjadi apa tidak. Tapi aku merasa apa yang terjadi sangat memalukan. Orang yang terakhir sadar dengan meraung seperti orang gila. Its me. Yang terakhir terbangun dengan telanjang. Its me.

Wajah-wajah yang kulihat tidak ada satupun yang kukenal; Ada yang berbaju militer, berdasi tapi semua sudah lusuh bekas api. Ada Pramugari dan wanita setengah baju itu. Masih kuingat siapa dia. Baru kemarin malam ku unduh videonya, dan sekarang ia berada bersamaku.

Dan satu pertanyaan mengapa dia ada disini? Di tempat seperti ini. diantara penjagaan ketat bodyguard di belakangnya; juru foto di setiap langkahnya; ia ada di hutan belantara bersamaku. Aku yakin ini bukan lokasi syuting.

Wajah yang seperti boneka; dan pakaian ala kadarnya. Sekilas bagai bidadari yang ‘sedikit’ kehilangan selendangnya dan tersesat di belantara hutan. Logat bicaranya yang aneh dan gemulainya berjalan mengingatkanku pada model di majalah yang kusimpan di bawah bantal. Dan aku menatapnya nanar; terharu benar.

Benar. Aku sampai takjub melihatnya. Focus. Seluruh angkasa adalah definisi kecantikannya. Bukan. Bukan cantik tapi menarik. Seolah hanya dia yang tersorot tata cahaya panggung.

“Apa yang kau lihat, Monyet? Matamu bisa aku congkel dengan mudah!” Aku mundur dia memberiku peringatan fisik. Tak mudah memang mengetahui hasrat setiap wanita. Memperlihatkan tapi tak boleh dilirik dengan benar. Mengejutkan.


'Mariah Hasli' super model kami disini.


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.