Ahool 6

Hari keenam

Desa Sukaresi. Sebuah Desa terisolir dekat kaki gunung salak. Masih mengajarkan kepercayaan kepada benda-benda gaib dan arwah leluhur yang menempati suatu tempat atau hunian. Warganya dapat terbilang dengan satu hunian ada tiga warga. Cukup ayah, ibu dan seorang anak. Jika lebih dari itu maka petaka akan muncul.

Petaka yang telah diceritakan turun temurun oleh leluhur, mengenai sosok gaib yang menghuni hutan luhur. Petaka ini telah terjadi kembali pada keluarga Asep. Adiknya mau tidak mau harus dikorbankan lantaran ketua adat member perintah.

Diantara riungan rumah warga yang masih menggunakan kayu dan papan, terlihat satu bangunan yang berbeda daripada yang lain. Satu-satunya tempat yang dibangun dari beton. Berbentuk menara dengan aula besar di dalamnya. Tempat pengorbanan bagi warga yang melanggar aturan.

“Kamu merasa dibodohi, kan?” Arif melihat gedung tersebut. Satu-satunya bangunan yang mirip bangunan di tempatnya.

“Aku menyesal. Tidak memperjuangkan adikku.” Asep menunduk. “Aku terlalu penakut waktu itu.”
“Apakah kau tahu kemana ketua adat tinggal?”

Sungai di desa ini sangatlah jernih. Sangat menarik mata dan tubuh untuk menenggelamkan diri. Arif mencoba menelusuri sungai ini. Mungkin ia lupa akan niatnya datang ke kampung ini. Perasaannya tergembirakan dengan aktivitas mandi seperti anak kecil.

“Tempat ini mengingatkan dengan tempatku di Cireong Gunung!” Iya membuka baju dan menceburkan diri ke sungai. Tubuhnya dibiarkan tengggelam dan terhanyutkan.

“Sungai ini satu-satunya jalan untuk pergi ke jalan utama. Kau pasti mengira aku akan lupa niatmu kan?”

“Astagfirulloh, benar kamu Asep. Kita harus bersiap segera.” Arif bangkit segera dan mengenakan baju kembali. “Sebentar, apa itu dipinggir.” Mereka menyisir sungai dan menemukan sesuatu hal yang tidak terbayangkan.

“Itu manusia,Sep.” Arif mendekati manusia tanpa busana tersebut. “Bu Asri? Sep ini salah satu guru kami.” Arif membuka bajunya dan menutupi bagian vitalnya.

“Dia masih hidup. Kang ?” Asep gugup baru pertama kali ini melihat perempuan tergolek tanpa busana.

“Kita harus melakukan sesuatu!” Arif mencoba mendekaktkan mulutnya pada mulut bu Asri. Dilumatnya. Dan ‘PLAK’Tidak sempat ia menikmatinya, sebuah tamparan mendarat di pipi Arif. Kaget sekaligus geli Asep tertawa terbahak-bahak.

“Sialan!” Asri mengumpulkan kembali baju Arif yang lucut dari tubuhnya. Buru-buru ia memalingkan diri dan mengenakan baju laki-laki itu. “Bukan cara seperti itu untuk memberi nafas buatan.”

‘CLUP’ sebuah ciuman express mengenai mulut Arif. “Sayang kalau hanya sekali!” katanya.
Arif gelagapan menerima ciuman dahsyat itu sementara Asep berdiri kaku menyaksikan pergumulan dua manusia itu. Air deras menyembunyikan perasaan mereka. Batu-batu besar seakan bekerjasama menghalangi dua insane yang sedang dimabuk asrama.

SKIP

Rumah sementara mereka kembali kedatangan satu pendatang. Pak Daman tidak dapat member satu kamar lagi. Kecuali Pak Guru Arif mau mengalah memberi kamarnya pada bu Asri.
“Kang Arif menginap di rumah saya saja!” Asep menawarkan diri. “Sendirian koq!”

SKIP

“Tolong semua warga sehabis Maghrib jangan ada yang keluar!” Pak RT Daman mengeluarkan pengumuman pada warga. “Malam ini malam jum’at kliwon.”

“Warga disini sangat kuno. Terlalu percaya sama hal yang demikian.” Arif melewatkan pengumuman itu. “Nanti malam aku akan menemui Asri.”

Arif tidak habis pikir akan sikap Arif sekarang. Seakan ia lupa akan kejadian yang telah menimpanya. Yang ada dipikirannya adalah sosok wanita yang digumulinya di dekat air terjun itu. Asep mencoba mencegahnya untuk keluar rumah, tapi nafsunya lebih besar dari ototnya.

“Aku tidak dapat melupakan dirinya, Sep. Entah kenapa sejak kita berpisah, ia berubah menjadi sangat menggairahkan. “ Arif memegang selangkangannya.

“Astagfirulloh, Kang Arif Istighfar..” Asep mencoba menyadarkannya.

“Apa aku salah mencintai seorang wanita? Apa aku salah mempunyai nafsu pada wanita?” Arif menaikan nadanya. “Aku tidak tahan lagi!” ia mencoba mengelus-elus selangkanganya.

Asep curiga Arif telah dipelet. Tapi apa mungkin gadis kota tersebut bisa melakukannya? Darimana ia belajar ilmu itu? Arif kemudian mengunci pintu dan kamarnya. Ia tidak akan membiarkan Arif menyalurkan hasratnya pada yang bukan haknya.

Ia harus melaporkan hal ini pada Pak RT Daman. Ia mengambil kunci rumah dan membiarkan Arif mendesah-desah di kamarnya.  Malam itu ia keluar rumah. Dalam remang-remang cahaya bulan dan auman anjing yang kesetanan. Datang secara tergesas-gesa seorang gadis yang mirip dengan yang ia temui di sungai itu.

“Bu Asri?” Asep gelagapan. Ia masih terbayang bentuk tubuhnya saat ditermuinya pertama kali di sungai. Tanpa busana yang menutupi organ vitalnya.

“Kamu Asep kan? Aku tahu kamu mengintipku tadi siang!” Katanya menggoda. Darah perjaka Asep berdesir.



Agus Sutisna
Agus Sutisna

Ini adalah biografi singkat mengenai penulis; Ia mudah terbawa angan-angan sehingga terlihat diam dan mematung. Justru disanalah ia mengumpulkan dunia imajinasinya. Selebihnya ia sangat tampan.