Ahool 3

Hari Ketiga

Lebat hutan membuat siapapun kehilangan arah pandang. Menukik tajam, menghunus pedang dan menyempurnakan kesesatan. Terlebih pada orang-orang yang memang tidak dipersiapkan untuk bertahan hidup di dalam hutan. Tapi tidak dengan Kadir, ayah satu anak ini tidak henti-hentinya menyusuri hutan dan semak belukar. Berharap ada pertolongan, berharap hari tetap siang.

Sebuah tanah menggunduk di atas bukit, menjadi satu-satunya bukti jika ada peradaban di hutan ini. Seseorang pernah dimakamkan disini. Dan itu menjadi harapan besar bagi Kadir. Anak istrinya terbayang menunggunya sekarang.

Dan entah kenapa tempat ini menjadi tempat yang lebih aman baginya. Berdiam diri diantara batu-batu nisan orang cina. Berharap seseorang datang melayat.

((Sebuah foto))

Diambilnya dompet disaku celana, bersamaan dengan beberapa surat kepemilikan kendaraan dan surat tugas menjadi pengemudi Bus. Bukti jika ia masih menjadi satu-satunya manusia yang waras di hutan ini. Terlihat guratan wajah yang layu, pucat tatkala matahari mulai terbenam.

Ia sedang menantikan kehadiran seseorang. Ia sedang menunggu kehadiran seseorang. Satu makhluk yang pernah merenggut anak dan istrinya. Di tempat yang sama lima tahun yang lalu.

Saat itu ia dan keluarganya mengambil cuti untuk mengajak keluarga liburan di daerah pegunungan. Tempat asalnya. Disana orang tuanya pernah melahirkannya.

“Ayah, apakah nenek punya mainan?” Adelia anak semata wayang Kadir, dengan tingkah lucunya menerka-nerka rumah neneknya.

“Nenek punya cerita seru disana?” Sang Ayah mencubit pipinya. “Nenek pernah bercerita jika tempat ini dulu tidak terlihat ketika masa penjajahan.”

“Maksud ayah, para penjajah tidak dapat menemukan tempat ini?” Adelia sangat antusias. “Wow sangat menakjubkan.”

“Sudah, ah. Ayah hanya bercanda. Adelia mending baca buku yang Mama beli!” Sang Istri mencubit perut ayahnya. “Jangan certain hal yang seperti itu, Ayah. Kurang mendidik!” Nasehatnya. Tapi kemudian mereka tertawa bersamaan.

“Ayah, Awas!” Sang Istri memperingatkan Kadir akan bahaya didepannya. Sebuah mobil Bus pengangkut anak-anak hampir saja menabraknya. “Ah untung saja!”

“Kabut ini membuat perjalanan menjadi terganggu!” Kadir mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia takut jika sang istri menyalahkan ketidak hati-hatian.

“Ayah itu apa?” Adelia melihat ke belakang Bus! Seseorang seperti melambai-lambaikan tangan di kaca belakang Bus!”

Dan ketika Bus tidak terlihat karena kabut yang hampir tebal. Suara ban pecah terdengar begitu keras.
“Astagfirulloh!” Bang Kadir mengerem mobilnya.

“Bukan ban kita kan Bang?” Sang Istri berhati-hati memeluk Adelia.

“Bukan, tapi bus yang tadi lewati kita!” Kadir mulai menghidupkan kendaraaanya.

“Mas, kita tengok mereka. Aku takut terjadia apa-apa dengan mereka!” Sang Istri mencoba membujuk suaminya.

“Tidak usah, ini sudah hampir Maghrib. Tidak ada yang boleh keluar sendirian saat Maghrib begini, apalagi di hutan ini!” Kadir mencoba melupakan keinginan istrinya dan menancap gas.

“Mas, aku takut terjadi apa-apa dengan mereka!” Sang Istri berontak. “Mas jangan katro, jangan percaya hal yang tidak masuk akal. Dan jangan tulari anak kita dengan cerita-cerita mu itu!” Sang Istri tiba-tiba meluapkan perasaannya. Entah kenapa ia mulai naik darah sekarang. Apapun hal kecil bisa menjadi runyam sekarang.

“Aku minta berhenti sekarang!” Sang istri keluar mobil dan berlari ke arah Bus. Meski kabut yang tebal ia berlari mengikuti instingnya.

“Sayang, tunggu sebentar!” Adelia membuka pintu dan keluar mencari ibunya.

“Ibu!” Sesuatu dalam kabut muncul, mencengkeram bahu adelia dan membawanya ke angkasa.

“Adel!” Kadir karena lama berada di belakang stir. Tidak bisa keluar. Seolah terkunci pintunya.
Ia melihat istrinya pergi dalam kabut. Anaknya dicengkram makhluk besar. Tinggal ia sendiri memukul-mukul kaca jendela hingga berdarah. Tetapi tidak bisa keluar.

Halaman : 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 |

Agus Sutisna
Agus Sutisna

Ini adalah biografi singkat mengenai penulis; Ia mudah terbawa angan-angan sehingga terlihat diam dan mematung. Justru disanalah ia mengumpulkan dunia imajinasinya. Selebihnya ia sangat tampan.