Sangkuriang The Series - Naskah 2 - Situma Hyang

Kutukan ataukah Ujian, bagi seorang bujang mendamba pasangan.
Tak pernah ada susu yang dirusak, tak pernah pula menyentuh rimba.
Kini rasa gejolak terseduh dalam gelapnya gulita.
Dan bulan ada penyejuknya.
Rindu ataukah Nafsu.
Entahlah.
Sulit kurasa membedakan gula pasir dan garam.
Hingga tersaji di depan mata, Dinikmati sang lidah,
dicumbui oleh rasa bersalah.
Kini bujang buangan, melihatmu dalam kegelapan.
Berharap putri sedikit melirik dari balik gedung tertinggi.
-Situma Hyang, Sayang-



(( Camp Pelatihan Militer. Malam Hari. Sebelum Purnama.))
 
Seketika terbayang wajah seorang gadis yang pernah tidak sengaja bertemu di jalan. Gadis yang terlihat berbeda dari sebelumnya. Entah ia memakai ramuan apa sehingga parasnya jauh berbeda dari yang pernah ia lihat di tahun pertama.

Kehidupan pelajar di negeri ini, jauh berbeda dengan negeri yang lain. Dimana siswa laki-laki dan perempuan terpisah. Siswa perempuan terletak di bukit tinggi dengan fasilitas gedung dan kenyamanan laksana surgawi. Tapi berbeda dengan siswa laki-laki, mereka harus bertahan hidup di alam terbuka. Sehari-hari hanya bergelut dengan otot dan hewan buruan di hutan.

Hanya satu kali kesempatan bertemu setiap minggunya, yaitu ketika upacara persembahan berlangsung. Dan itu cukup menyiksa bathin bagi kaum lelaki dimana pun jua, terlebih mereka remaja yang sedang masa pubertas. Tidak cukup hanya diberi pengetahuan mengenai kesehatan kelamin dan gender. Pertahanan mereka bisa-bisa jebol jika tidak diberikan peraturan yang sangat ketat selama mereka belajar disini.

Ah, banyak kasus yang terjadi di sekolah ini sebelum peraturan diberlakukan. Kasus bunuh diri karena hamil duluan dan hilangnya beberapa pemuda akibat saling berebut pasangan kencan.

“Hanya tinggal satu semester lagi, aku harus kuat bertahan disini.!” Bathin pemuda itu sambil melamun, di atas ketinggian pohon yang dibuatnya menjadi sebuah hunian. Menatap dengan jelas bangunan megah tempat dikurungnya siswa perempuan.

Lembaran-lembaran daun nipah diambilnya dan ditulis diatasnya menggunakan zat khusus mirip tinta dari getah tumbuhan. Sebuah syair cinta para pujangga. Untuk seseorang yang bernama Wayung Hyang. Seluruh alam dan seisinya melihat scenario ini.

“Situma Hyang, cepat kemari, apa yang kau lakukan diatas sana? Waktunya kita berburu sebelum malam tiba!” Kawannya yang sudah siap-siap dengan tombak dan perkakas buatannya. Hari ini mereka berdua giliran untuk berburu binatang di hutan.

Situma Hyang turun menggunakan katrol yang dibelinya dari pasar kota. Selama ia belajar di sini kehidupan mewahnya mulai tergerus. Sifat kekanak-kanakan mulai ia tinggalkan. Ia berubah dan menjelma menjadi seorang pemuda berotot kuat dan berlengankan baja. Tak ada sifat kebangsawanan. Tidak ada sifat keturunan kahyangan.

Tidak cukup ia belajar bertahan hidup. Ia berguru pada beberapa tokoh yang hanya dengan menggunakan mantra bisa menaklukan gunung, hewan liar atau gadis manapun. Dan inilah yang ia tekuni. ‘Percuma punya otot bagus kalau tidak punya pasangan.’ Prinsipnya.

Latihan kerasnya di lapangan, baginya seperti perbudakan. Hakikat nilai pembelajaran bertahan hidup tidak lagi jadi pegangan. Bujang gagah ini punya niat lain. Jauh di dalam hatinya ada sekelumit keresahan yang sulit diterjemahkan.

Setiap lulusan dari sekolah pria ini akan dijadikan seorang kstaria yang sakti mandraguna. Sementara lulusan sekolah wanita, akan dijadikannya puteri bak maharani dari semesta. Mereka semua adalah anak dari para Dewa-dewa Parahiangan.

Hanya satu kelemahan Situma Hyang, emosinya akan tiba-tiba meledak apabila harga dirinya merasa direndahkan. Pun beberapa kali ia dipanggil ketua Camp Pelatihan, karena berkelahi dengan seniornya. Ia kuat pendirian, pada apa yang ia sebut dengan prinsip harga diri.

Sampai ia berguru pada salah satu tokoh yang dilarang oleh Camp. Ilmu memasuki mimpi dan Ilmu merubah wujud. Tentunya ia belajar tanpa sepengetahuan senior. Dengan bantuan rekan dekatnya ia berhasil keluar malam hari hanya untuk mendatangi guru tersebut.

“Kau gila, Tuma. Hal ini bisa mencelakakan kita. Terlebih kita bisa dikeluarkan dari sekolah ini.” Sankiang rekannya memohon untuk tidak membawa-bawanya pada pelanggaran ini. “Kau tahukan, bagaimana aku bersusah payah masuk ke Camp ini, supaya aku dapat pekerjaan dan penghidupan layak di masa mendatang.”

“Tenang, tenang. Sebagai rekan baik, aku akan menjagamu. Kau harus yakin itu.” Situma Hyang, dengan hati-hati menenangkan kegelisahan temannya. Ia memberikan petuah bagaimana jika senior datang melakukan inspeksi mendadak. Secara detail Situma Hyang memberi arahannya.

“Pahamkan!” Kawannya mengangguk.

Lalu Situma Hyang dengan tenang namun gesit berhasil, melanggar garis perbatasan serta merengkuhi malam pada hutan dan semak belukar. Luka sedikit tak mengapa asalkan terlaksana.

Akar-akar tua timbul mengeras di permuakaan tanah. Lumut-lumut licin menyamarkan permukaanya. Cahaya matahari seakan ditolak kehadirannya. Kanopi hutan menyembunyikan kehidupan hangatnya.

Suara jangkrik, hewan malam dan serangga lain seakan mengelilinginya. Seakan meneriakinya dari jarak yang dekat. Dan tiba-tiba berhenti seketika.

Senyap.

Tinggalah rasa dingin yang mencekam, kebisuan yang mematikan alat pendengaran dan kesesakan udara yang sewaktu-waktu hilang.

Terlihat olehnya sebuah gua. Bertumbuk dengan batu-batu dan pohon besar yang tumbang. Hutan ini seperti pernah meluapkan kemarahan pada orang-orang yang mengganggunya. Bekas pemotongan besar-besaran terlihat, meski sekarang tertutupi oleh lumut dan tumbuhan merayap. Tidak ada binatang liar disini yang terlihat, barangkali mereka ketakutan dengan perawakan hutan ini. Barangkali seperti itu atau memang sengaja mereka berlibur dan terjaga ketika siang.

Situma Hyang, tidak dapat membedakan antara siang dan malam sekarang, ia terlampau jauh menelusuri hutan. Berjalan jauh sejauh-jauhnya. Sampai ke ruang yang tergelap, segelap-gelapnya. Hantu, siluman atau dedemit mungkin tinggal disini. Mungkin ini kerjaannya. Mungkin ini kerajaannya.

Sesuai yang ia baca dalam buku terlarang, ia harus berdiam diri dalam gua. Entah bertapa atau apapun namanya. Semedi atau melakukan yoga. Sebab setelah ia menenangkan diri di dalamnya. Akan seseorang yang ia datang. Dialah Guru Sakti Ki Hideung Lestreng. Ia akan menemuianya ketika dalam mimpinya.

Seketika gelap.

Angin berputar-putar dan memukul-mukul tubuhnya, serasa diangkatnya, dipindah-pindah lalu seketika dihantamkannya. Menusuk ke bumi hingga tanah menjerit.

Tapi jangan Tanya siapa Situma Hyang. Ia tetap memejamkan mata. Lalu suara tertawa dan teriakan entah darimana, menelan habis-habisan gendang telinganya. Entah siluman, dedemit atau bangsa Kahyangan. Entah apa sebutannya.

Sampai ia mendengar suara halilintar menyambar. Seakan telinganya tuli, ia tidak dapat mendengar apa-apa lagi. Sepi kembali. Ia dipermainkan gendang pendengaran. Kini yang ia lihat hanya kegelapan dan sebuah cahaya kecil tersulut terang.

Situma Hyang mulai mendekati cahaya itu. Cahaya yang tiba-tiba mengganggu penglihatannya. Cahaya yang tiba-tiba membuat kesakitan dalam penglihatannya.

Hal yang sebelumnya ia sukai, namun sekarang ia benci. Mungkin terlalu lama ia berada dalam kondisi dan ruangan yang gelap, sehingga syaraf matanya belum bisa beradaptasi. Kini ia tahu bagaimana makhluk malam membenci matahari.

Situma Hyang benci cahaya. Lantas ia meniupnya. Tapi kemudian cahaya itu muncul lagi. Ditiupnya kembali. Bercahaya lagi. Terus berulang seperti drama komedi. Sampai ia merasa ada yang menyentuh tangannya. Begitu lembut, belum pernah ada yang memegangnya selembut itu. Terbayang nama Wayung Hyang dibenaknya. Benarkan Ia?

Seketika ia mulai mempertahankan cahayanya. Rasa pedih di matanya terhapuskan seketika ia bayangkan gadis pujaannya. Gadis yang pernah dilihatnya sekali, gadis yang ditulisnya puisi-puisi, gadis yang menghantarkannya menjadi lelaki sejati.

Seperti nyata.

Ia tergoda dengan penglihatannya.

Seperti nyata ia berada dibatas akil baligh.

Situma Hyang dipermainkan sentuhan dalam permainan percintaan.


((Sementara di Kamar Bujang))

“Menurut ilmiah kejadian itu disebut Mimpi Sadar atau Lucid Dream. Seseorang yang dengan sadar jika ia sedang bermimpi dan memanipulasi mimpi tersebut sesuai keinginannya. Ayah baca di intenet. Malah ada juga grup yang membahas hal tersebut, banyak pula yang ingin mempelajarinya.” Terang Sang Ayah pada Bujangnya.

“Ketahuilah ia seusiamu, kala itu.” Sang Ayah menutup ceritanya.

Sang bujang merasa ayahnya hanya membuat cerita mengenai kehidupannya. Fase-fase pubertas yang ia maksud untuk menasehatinya. Sang bujang sedari kecil sering membicarakan hal apapun tentang teman-temannya, sekolahnya dan segala macam kejadian yang dilaluinya. Tapi sejak Sang Ibu pergi meninggalkan mereka, Sang Ayah menjadi satu-satunya tempat ia berkeluh kesah dan menceritakan semuanya.

Tapi kini Si Bujang, mulai berangsur-angsur tertutup. Sedikit sekali cerita mengenai dirinya. Sang ayah merasa kecewa, apakah ia salah mengasuh anak. Ia tidak tahu kebutuhan anak bujangnya, sementara Sang bujang sudah tidak lagi pernah bercerita. Ia hanya diam.

Apakah seorang ayah harus tahu kapan anaknya mengalami mimpi basah?
Ah Entahlah.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.